Mohon tunggu...
Jumari Haryadi Kohar
Jumari Haryadi Kohar Mohon Tunggu... Penulis, trainer, dan motivator

Aku lahir di Kotabumi - Lampung Utara, campuran dua suku bangsa dari dua pulau yang berbeda. Ayahku berasal dari Kediri - Jawa Timur, sedangkan ibuku berasal dari Baturaja - Sumatera Selatan. Latar belakang pendidikan di bidang IT dan sempat menjalani profesi sebagai programmer, guru, dosen dan konsultan IT. Terakhir menjadi direktur sebuah perusahaan IT, lalu beralih profesi menjadi penulis sampai sekarang. Menulis adalah pilihan hidupku. Penulis buku, trainer dan motivator adalah profesiku. Selalu merasa haus ilmu dan mau belajar dengan siapa saja. Tidak pernah merasa pintar karena selalu merasa sebagai pembelajar. Indah rasanya hidup ini jika banyak jejak karya tulisku yang bermanfaat bagi orang lain.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Bincang-bincang tentang Seni bersama Priyadi, Sang Pelukis Naga

22 September 2019   10:30 Diperbarui: 28 September 2019   19:27 0 7 3 Mohon Tunggu...
Bincang-bincang tentang Seni bersama Priyadi, Sang Pelukis Naga
Foto penulis Bersama Pak Priyadi (Sumber: Eyo Sunaryo)


Sudah lama saya tak berjumpa dengan Pak Priyadi, pelukis yang dikenal dengan julukan sang Pelukis Naga. Bersama sahabat saya, Eyo Sunaryo, kami berkunjung ke kediaman Pak Prie (panggilan akrab beliau) di sebuah daerah yang masih asri, seputaran kota Cimahi.

Saya bersyukur ternyata Pak Prie ada di rumah. Tampaknya beliau agak terkejut dengan kehadiran kami yang tiba-tiba. Namun, Alhamdulillah kami diterima beliau dengan seyuman yang ramah.

Suasana di rumah Pak Prie tidak berbeda jauh dengan beberapa waktu lampau ketika kami berkunjung ke sini. Ruangan tamu yang merangkap tempat kerja beliau dipenuhi dengan aneka lukisan, salah satunya adalah lukisan naga yang masih belum selesai. Beberapa lukisan ukuran besar juga terpampang di ruang tamu yang merangkap bengkel kerja sang seniman.


Suasana bengkel kerja Pak Priyadi (Sumber: J. Haryadi)
Suasana bengkel kerja Pak Priyadi (Sumber: J. Haryadi)
Saat ini Pak Prie berencana akan mengadakan pameran lukisan di Singapura. Menurut beliau sudah ada pihak sponsor yang siap membiayai kegiatan tersebut. Oleh karena itu beliau semakin rajin melukis untuk memenuhi target pameran.

Melukis itu perlu kesungguhan dan niat yang tulus. Tanpa itu semua, maka lukisan itu bagaikan benda mati, tanpa jiwa. Itulah sebabnya ada lukisan yang memiliki karakter dan sebaliknya tanpa karakter. Banyak lukisan yang terkesan hambar, kosong, tanpa ada daya tarik sama sekali. 

Hal ini disebabkan lukisan tersebut dibuat dengan asal-asalan, hanya berorientasi uang. Harusnya sebuah karya itu dibuat dengan kesungguhan dan terselip idealisme di dalamnya.

"Kalau si pelukis itu sudah nyambung dengan objeknya itu atau dengan karakter objeknya, maka bisa dikatakan bahwa lukisan itu hidup. Bahkan, bisa berdialog dengan penikmatnya," ujar Pak Prie ketika menjelaskan tentang proses berkesenian para seniman.

Menurut Pak Prie, sebuah lukisan yang dibuat dengan penjiwaan akan melakukan dialog batin dengan calon pembelinya. Adanya kesamaan perasaan antara objek lukisan dengan calon kolektornya, menciptakan terjadinya daya tarik menarik yang kuat. 

Ketika semua ini tejadi, maka harga bukan lagi menjadi ukuran bagi calon pembeli, melainkan perasaanya. Oleh sebab itu tidak aneh kalau ada lukisan berharga mahal pun akan tetap laku dan dibeli oleh kolektor.


Penulis sedang mewawancarai Pak Prie (Sumber: Eyo Sunaryo)
Penulis sedang mewawancarai Pak Prie (Sumber: Eyo Sunaryo)
Pelukis pun tidak jauh berbeda dengan seorang penyanyi. Ada penyanyi yang bernyanyi tanpa penjiwaan. Dia bernyanyi asal asal suaranya keluar saja alias asbun (asal bunyi). 

Salah satu cara mendongkrak daya tarik penonton adalah menggunakan pakaian minim yang seksi, sehingga auratnya terlihat dan menjadi konsumsi publik. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
KONTEN MENARIK LAINNYA
x