Mohon tunggu...
Jumari Haryadi Kohar
Jumari Haryadi Kohar Mohon Tunggu... Penulis, trainer, dan motivator

Jumari Haryadi atau biasa disebut J.Haryadi adalah seorang penulis, trainer kepenulisan, dan juga seorang motivator. Pria berdarah Kediri (Jawa Timur) dan Baturaja (Sumatera Selatan) ini memiliki hobi membaca, menulis, fotografi, dan traveling. Suami dari R.Yanty Heryanty ini memilih profesi sebagai penulis karena menulis adalah passion-nya. Bagi J.Haryadi, menulis sudah menyatu dalam jiwanya. Sehari saja tidak menulis, maka dirinya akan merasa ada sesuatu yang tidak lengkap. Oleh sebab itu pria berpostur tinggi 178 Cm ini akan selalu berusaha menulis setiap hari untuk memenuhi nutrisi jiwanya yang haus terhadap ilmu. Dunia menulis sudah dirintisnya secara profesional sejak 2007. Meskipun relatif belum lama, tetapi J.Haryadi sudah berhasil menerbitkan puluhan buku dan ratusan artikel buah karyanya. Selain itu, ayah empat anak ini pun sering membantu kliennya menulis buku, baik sebagai editor, co-writer, maupun sebagai ghostwriter. Jika Anda butuh jasa profesionalnya dihidang kepenulisan, bisa menghubunginya melalui HP/WA: 0852-1726-0169 No GoPay: +6285217260169

Selanjutnya

Tutup

Lingkungan

Menanti Hujan, Menuai Berkah

11 September 2019   02:25 Diperbarui: 11 September 2019   21:31 67 1 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Menanti Hujan, Menuai Berkah
Hujan (Sumber: https://www.desktopbackground.org)


Air merupakan kebutuhan vital makhuk hidup. Tanpa air, semua akanbinasa. Oleh sebab itu keberadaan air sangat penting dan harus mendapatperhatian serius semua pihak, baik pemerintah maupun masyarakat.

Banyak sumber air yang bisa dimanfaatkan olehmanusia, misalnya  mata air yang berasaldari pegunungan, air sungai, air laut, dan air hujan. Saat musim hujan, kondisiair begitu berlimpah. Bahkan, terkadang mendatangkan musibah, di antaranyamenyebabkan banjir. Sebaliknya ketika musim kemarau tiba, air susah didapat.Dimana-mana terjadi kekeringan. Petani mengeluh, karena sawah dan ladangnya menjadigersang, kering kerontang.

Manusia harus mampu memanfaatkan alam dan bersahabatdengannya. Alam tidak boleh dimusuhi, tapi harus disikapi dengan bijak. Kalaukita ramah kepada alam, maka alam pun akan ramah kepada kita. Oleh sebab itulingkungan harus dijaga, karena kalau lingkungan rusak, maka manusia danmakhluk hidup lainnya akan binasa.

Air Hujan, Kandungan, dan ManfaatnyaBagi Kehidupan

Air hujan berasal dari uap air yang disebabkan oleh panas dengan proseskondensasi   perubahan uap air menjaditetes air yang sangat kecil    lalu membentuk tetes air yang lebih besar,kemudian jatuh kembali ke bumi. Saat masih berbentuk uap air, terjadi proses pergerakanoleh angin menuju daerah tertentu. 

Uap air tersebut tercampur dengan berbagai senyawalain yang ada di udara, termasuk gas, debu dan bakteri. Kualitas air hujan sangatdipengaruhi kondisi lingkungannya.(Sanropie, APK TS).

Kandungan gas -- terutama CO2 dan O2 -dalam air hujan diduga lebih banyak daripada air tanah. Kelarutan gas CO2di dalam air hujan akan membentuk asam askorbat (H2CO3)yang menjadikan air hujan bereaksi asam. Beberapa macam gas oksida seperti oksidabelerang dan oksida nitrogen dapat pula berada di udara. Kedua oksida inibersama-sama dengan air hujan akan membentuk larutan asam sulfat dan larutanasam nitrat.(Depkes,1991).

Beberapa tahun silam, Amerika dan Eropa pernahmengalami hujan asam yang diakibatkan oleh pembakaran batubara. Asap pembakaranbatubara ternyata mengandung senyawa asam (SO4), lalu bereaksidengan air hujan, sehingga berubah menjadi H2SO4 dan pHkadar airnya 5 -- sebagai catatan pH kadar air yang dapat diminum berkisarantara 6 sampai 7. 

Oleh sebab itulah mengapa banyak orang yang tidak bersediamengonsumsi air hujan, karena dianggap tidak bersih. Padahal kandungan airhujan di setiap tempat kondisinya tidak sama. Semua itu tergantung dari kondisigeologi, jumlah penduduk, dan aktivitas di daerah tersebut.

Salah satu cara yang bisa kita lakukan agar air hujanlayak dikonsumsi adalah membiarkan air hujan terbuang saat 10 menit pertama turunhujan. Tujuannya agar polutan-polutan dan debu di udara yang mnyertai air hujanikut terbuang. Kemudian memasang saringan alami, sebelum air masuk ke bakpenampungan.

Selanjutnya kita mengukur pH air tersebut sebelumdigunakan dengan menggunakan pH meter. Jika hasil pengukuran terbukti pH airnyakurang dari 6, maka itu pertanda air hujan tersebut tidak layak dikonsumsi. Airtersebut tidak perlu dibuang, karena masih bisa digunakan untuk keperluan lainnya,seperti menyiram tanaman, mencuci pakaian, dan lain-lain.

Provinsi Kalimantan Barat termasuk daerah yang warganya banyakmemanfaatkan air hujan bagi kehidupan mereka. Hal ini terjadi akibat darikondisi air sumur yang dangkal dan tidak layak konsumsi. Air sumurnya banyak  mengandung mikro organisme dan kadar besinya cukuptinggi. Oleh sebab itu mereka sudah terbiasa mengonsumsi air hujan. Namun, justru di daerah lainnya di Indonesia, utamanya di kota-kota besarseperti Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, dan Medan, air hujan jarangdipakai untuk kebutuhan air minum. Penyebabnya tidak lain karena tingkatkeasamannya yang tinggi. 

Curah HujanTinggi Itu Anugerah, Bukan Musibah

Curah hujan di Indonesia termasuk cukup tinggi. Namun, karakteristik curahhujan di setiap wilayah tidaklah sama. Misalnya khusus untuk wilayah Indonesia bagianBarat, curah hujan berkisar antara 4.000 milimeter pertahun, sedangkan diwilayah bagian Timur kurang dari 800 milimeter pertahun. Hal ini menunjukkanbahwa sumber daya air di setiap wilayah tidak merata. Sebagian wilayah sumberdaya airnya berlimpah, sedangkan sebagian wilayah lainnya sangat terbatas.(Direktorat Jenderal Sumber Daya Air. 2004:15).

Satu sisi, curah hujan yang tinggi bisa menimbulkanbencana. Tentu saja kalau kita selama ini tidak pernah bersahabat dengan alamdan cenderung merusaknya. Padahal, turunnya air hujan sebenarnya merupakansebuah berkah, bukan musibah. Bagaimana mungkin Tuhan menciptakan bencana dimuka bumi ini tanpa ada alasan yang rasional? Semua ini terjadi tentu sajakarena ulah manusia yang tidak pandai memelihara alam ini dengan baik.

Mari kita lihat kondisi lingkungan di perkotaan. Hampirsemua permukaan tanah tertutup oleh bangunan, baik berupa perumahan, pertokoan,perkantoran, jalan, dan lain-lain. 

Lahan terbuka hijau semakin sempit. Tidakheran kalau turun hujan terjadi banjir, karena air yang turun tidak bisalangsung terserap ke bumi, melainkan terus mengalir ke tempat yang lebih rendahdan akhirnya terjadi genangan air yang berpotensi banjir. Oleh sebab itupenting sekali menyelamatkan lingkungan dengan cara melakukan konservasi air.

Pemanfaatan air hujan sebenarnya sudah dilakukan olehmanusia sejak ribuan tahun yang lalu. Mereka melakukannya dengan cara yangpaling sederhana, seperti menampung air dalam sebuah gentong sampai yang palingkompleks berupa waduk. Beberapa negara berkembang di Asia dan Afrika sudahmelakukannya. Bahkan, beberapa negara maju di Eropa seperti Jerman, telah menganjurkanmasyarakat perkotaannya agar memanfaatkan air hujan untuk keperluan mencucipakaian dan membasuh diri setelah buang air besar di toilet.

Sebagian masyarakat Indonesia    khususnyadi pedesaan    sejak dulu sudah memanfaatkan air hujan. Merekamenampung air hujan dari cucuran atap rumah ke dalam ember, jerigen, panci, ataudrum bekas. Air hujan tersebut lalu mereka manfaatkan untuk berbagai keperluan,seperti mencuci piring, mencuci baju, menyiram tanaman, memberi minum ternak, dankeperluan lainnya, terutama menjelang dan selama musim kemarau panjang.

Bagaimana cara mengelola airhujan?

Pengelolaan air hujan pada dasarnya bertujuan untukmengoptimalkan manfaat air yang turun dari langit demi kepentingan makhlukhidup yang ada di bumi. Air hujan dikelola dengan baik dan benar agar manusiaterhindar dari musibah kekeringan atau kebanjiran. Oleh sebab itu manusia harusmau berpikir cerdas dan kreatif agar mencari solusinya.

Beberapa gagasan dalam pengelolaan air hujan diantaranya bisa dilihat dalam uraian dibawah ini:

a.   Membuatbak penampungan air (pribadi dan masal)

Setiap individuwajib mempunyai bak penampungan air di rumahnya, baik kecil maupun besar. Airtersebut disalurkan melalu talang-talang dari atap rumah, kemudian disalurkandan ditampung dalam bak penampungan pribadi. Jika bak sudah penuh, maka airhujan tersebut digeser dan dialirkan melalui pipa yang sudah terpasang menujupenampungan milik warga. Minimal setiap Rukun Tetangga (RT) dalam setiapkelurahan wajib memiliki bak penampungan bersama. Air tersebut nantinya bisadigunakan oleh warga yang memerlukannya dan dikelola oleh pengurus RT setempat,

Begitu pulasetiap Rukun Warga (RW) wajib memiliki bak penampungan sendiri. Jika air hujanyang ditampung RT sudah penuh, bisa diteruskan melalui pipa menuju bakpenampungan RW. Tentu saja kapasitas daya tampung bak penampung air RW lebihbesar dari RT. Begitu seterusnya sampai level keccamatan dan kota/kabupaten,sehingga persediaan air dalam sebuah daerah selalu cukup atau tersedia.

b.    Membuat sumur resapan air

Membuat sumurresapan merupakan salah satu cara menampung air hujan yang cukup efektif. Sumurresapan berupa bangunan yang dibuat menyerupai sumur gali dengan kedalamantertentu. Fungsinya sama dengan bak yaitu untuk menampung air hujan dan meresapkannyake dalam tanah. Selain itu, sumur serapan juga bermanfaat mengurangi terjadinyagenangan air, meningkatkan tinggi permukaan air tanah, mengurangi erosi dansedimentasi, mencegah penurunan tanah, dan mengurangi konsentrasi pencemaranair tanah.

Lokasipembuatan sumur resapan baiknya di daerah permukiman yang padat penduduknya, areaperkantoran, pertokoan, industri, tempat olahraga, dan fasilitas umum lainnya.

c.     Membuat biopori di halaman rumah dan jalanumum

Membuat biopori-- lubang silindris yang dibuat secara vetikal ke dalam tanah -- di sekitar rumahdan jalan umum. Jika semua warga perkotaan diwajibkan membuat biopori, makasemakin banyak air hujan yang akan terserap ke bumi. Apaagi kalau setiap jalanumum pun diwajibkan memiliki biopori, maka peluang air hujan terserap ke bumisemakin banyak.

Selama inipermukaan tanah banyak tertutup beton dan bahan bangunan. Biopori merupakansalah satu cara yang efektif dalam menampung air hujan. Hal ini memang terlihatsepele, tetapi kalau diterapkan dan didukung dengan aturan yang jelas, bukantidak mungkin menjadi salah satu solusi dalam mengurangi risiko banjir diperkotaan.   

d.    Menanam pohon di sekitar rumah

Hampirdipastikan di tengah perkotaan yang padat penduduknya sangat jarang ada pohondi sekitarnya. Semua lahan habis buat bangunan. Jika kondisi ini terusdibiarkan, tentu suasana perkampungan penduduk akan semakin gersang. Oleh sebabitu perlu juga diwajibkan setiap warga yang memiliki rumah wajib memiliki pohonminimal satu batang.

Fungsi pohonini sangat penting, karena akarnya dapat menyimpan air hujan. Semakin banyakpohon yang tumbuh di halaman rumah, tentu akan semakin baik. Daerah tersebutakan menjadi sejuk dan persediaan air tanah pun tetap terjaga.

Khusus bagirumah bertingkat, bagian atapnya wajib juga ditanami tumbuhan, misalnya bunga.Tanaman tersebut bisa dibuat dalam pot-pot. Saat hujan turun, pot-pot bungatersebut dapat menampung curah hujan dan menyuburkan tanaman.

e.    Membuat kolam tadah hujan

Membuat kolamkonsepnya tidak jauh dengan bak penampungan air. Kalu konsep ini diterapkandiperkotaan sepertinya agak suit, mengingat lahannya yang terbatas. Konsep inimudah diterapkan di pedesaan yang memiiki ruang terbuka cukup luas. Dalamukuran kecil (mini), kita bisa membuat kolam dengan ukuran 60 m X 30 m dengankedalaman 2,5 meter. Luas kolam bisa disesuaikan dengan keberadaan lahan. Airdalam kolam ini nantinya bisa dimanfaatkan para petani ketika musim kemarau tiba.***

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x