Juli Prasetya
Juli Prasetya Nulis dan Ngarit

Pemuda desa tampan dan sederhana yang mencintai dunia literasi, sastra, sejarah, komunikasi, sosial dan budaya.

Selanjutnya

Tutup

Bahasa

Penginyongan Vs Feodalisme

24 Juli 2018   10:31 Diperbarui: 24 Juli 2018   10:41 448 0 0

" Beratus tahun bahasa dan budaya penginyongan direndahkan sistem kasta sebagai budaya kelas bawah dan kita terlalu menerima perlakuan itu. Sudah saatnya kita kembali bangga dan tidak malu dalam menggunakan, melestarikan dan mengembangkan basa penginyongan sebagai ikhtiar mengembalikan martabat diri" (Ryan Rachman)

Bahasa penginyongan dari kata Inyong (saya) merupakan bahasa ibu asli Jawa Banyumasan.

Penggunaan bahasa ibu memang sangat penting bagi masyarakat daerah, sebab menunjukkan suatu ciri khas tersendiri dari budaya daerah tersebut. Dimulai dari kebiasaan sehari-hari mengenal budaya termasuk dalam berbahasa ini merupakan tanggungjawab masyarakat dan generasi muda sebagai pewaris budaya dan kebudayaan sangat penting untuk mempertahankan penggunaan bahasa ibu.

Bahasa ibu merupakan aset yang melekat pada setiap daerah, sehingga penggunaan bahasa ibu dianggap memiliki peran penting. Sekarang ini penggunaan bahasa dialek Banyumasan khususnya sudah mulai luntur penggunaannya, dan tentu saja ini menjadi tugas generasi penerus untuk terus memakai dan melestarikan bahasa ibunya.

Ada dua tipe  orang awam yang tak mengerti filosofi dari penginyongan itu sendiri dan menganggap bahwa basa penginyongan merupakan bahasa strata terendah, bahasa kawula alit.

1. Orang yang menjunjung tinggi sistem feodalisme dan kasta

2. Orang yang menggunakan basa penginyongan sendiri yang termakan oleh stereotip dari orang-orang yang menganggap bahwa basa penginyongan merupakan bahasa masyarakat kalangan rendah. Sehingga wong Banyumas (orang Banyumas) sendiri menjadi "isin" (malu) jika menggunakan basa ibunya sendiri yakni penginyongan Banyumasan.

Ternyata ada banyak faktor mengapa masyarakat sekarang, terutama generasi muda/Millenial enggan/emoh menggunakan bahasa ibunya/bahasa daerahnya sendiri. Tak terkecuali di Banyumas sendiri. Faktor tersebut bisa kita bagi menjadi dua yakni faktor internal dan eksternal.

Untuk faktor internal sendiri adalah kurangnya kesadaran diri untuk menguri-uri (melesrarikan) bahasa ibunya sendiri. Ada juga yang merasa tertekan dan malu jika menggunakan bahasa ibunya dianggap kuno, kurang gaul dan ndeso oleh lingkungan sekitar.

Nah ini akan menyambung ke faktor eksternalnya yakni tentu saja perkembangan teknologi , modernisasi dan globalisasi yang tidak diimbangi dengan kesadaran akan akar daerahnya, ia tidak memiliki kecintaan pada tanah kelahiran akan semakin menjadikannya rapuh untuk mencintai bahasa ibunya sendiri. Yang lebih parah lagi jika ditarik ke konteks masyarakat Banyumas. Sebagian orang-orang tua Banyumas lebih menyukai anak-anaknya bisa menggunakan bahas Kramaan atau inggilan yang dianggap memiliki derajat tingkat tinggi dan berunggah-ungguh.

Padahal dalam sistem bahasa penginyongan, sifatnya hampir sama dengan bahasa Indonesia yang Egaliter, dan tidak mengenal tingkatan, entah itu berbicara kepada atasan atau bawahan, bahasa penginyongan tetap sama, ia tidak membeda-bedakan kepada siapa ia berbicara. Namun lagi-lagi ada sebagian orang tua yang terlukai martabatnya, tersinggung jika ada orang yang lebih muda darinya berkomunikasi menggunakan bahasa penginyongan yang tidak memiliki tingkatan bahasa. Padahal ini adalah sikap dan watak Egaliter dan cablaka yang asli Banyumas.

Jiwa-jiwa dan mindset feodalisme yang masih terus hidup dan dipelihara ini menjadikan bahasa ibu/khususnya basa penginyongan bukan tidak mungkin cepat atau lambat akan menemui "kematiannya", jika tidak segera ditangani.

Bagi Trianton dalam bukunya Identitas Wong Banyumas (Graha Ilmu, 2008) mengatakan bahwa bahasa yang digunakan oleh seseorang dapat menunjukkan identitas diri. Bahasa mampu menunjukkan lanskap kehidupan sosial budaya, politik, maupun status dan peran seseorang dalam suatu masyarakat. Bahasa menjadi penanda seseorang memiliki kebudayaan tertentu. Bahasa dan budaya memberikan kontribusi yang besar atas konstruksi sebuah identitas.

Inilah yang kemudian tidak dipahami oleh sebagian awam yang memberikan pemahaman dan stereotip bahwa bahasa penginyongan itu bahasa yang begini dan begitu dengan nada negatif dan terkesan mengejek. Padahal tadi yang telah disebutkan bahwa bahasa menunjukkan identitas diri.

Jika kita ingin berpikir sejenak dan merenung jauh ke dalam, bukankah bahasa penginyongan itu lebih dulu mencetuskan nilai egaliterian, kesederajatan, kesekufuan, persamaan, memiliki hak dan kewajiban yang sama dalam masyarakat dan manusia, sebelum revolusi Prancis mencetuskannya?

Sekarang kita hidup berdasarkan anggapan orang lain, kita hidup pada zaman menurut selera orang lain. Kita dihegemoni dan dijajah oleh pendapat yang memenangkan sejarah, kita tidak bisa merdeka untuk menentukan pilihan hidup kita sendiri yang sesuai dengan hati nurani pun menjadi manusia Banyumas sejati.

Berharga atau tak berharga sebuah budaya dan kebudayaan (bahasa) tergantung dari pengguna dan penutur itu sendiri bukan?, Seberapa bangga dan banyak para pemakai bahasa ibu itu sendiri, bukan dari anggapan dan pendapat orang lain yang terkesan menjatuhkan dan meniadakan lian.

Kalau masih ingin menghargai bahasa daerah masing-masing khususnya bahasa penginyongan, ya mari kita bersama-sama, berbahagia dan bangga untuk menguri-uri (melestarikan) basa penginyongan tanpa ada yang merasa tersinggung atau direndahkan  antara generasi tua maupun muda ketika berkomunikasi. Karena tadi manusia Banyumas adalah masyarakat yang cablaka (apa adanya) dan egaliter.

Kalau masih ada sedikit rasa tersinggung , malu, dan merasa direndahkan dalam hati para penutur bahasa ibu (penginyongan) ketika berkomunikasi, maka sejatinya itulah yang menjadikan bahasa penginyongan akan terlihat rendah derajatnya.

Kesadaran kolektif masyarakat untuk melestarikan budayanya merupakan sebuah keniscayaan, tak terkecuali bahasa Banyumasan/penginyongan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2