Mohon tunggu...
Julinda Jacob
Julinda Jacob Mohon Tunggu... Konsultan - Orang rumahan

Seorang ibu rumah tangga yang menuangkan hasil pandangan mata dan pendengaran dalam kehidupan keseharian

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Paraji (Dukun Bayi) Alternatif Pengobatan Stuip Pada Anak?

27 Oktober 2016   20:46 Diperbarui: 27 Oktober 2016   21:20 413
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sumber Gambar: http://korankabar.com/

Pagi ini saya membuka line, ada kiriman foto dari anak bujang, anak kedua dan lelaki pertama dalam keluarga kami yang saat ini sedang kuliah di kota lain. Foto berdua papahnya sedang makan di Platinum Resto, Cihampelas Walk Bandung 7 tahun lalu, kala usia 12 tahun kelas 6 SD. Badannya masih subur, lucu dan menggemaskan. Pipinya yang gembul menimbulkan hasrat untuk mencubit dan menciumnya. Saya senang memeluknya, merasakan kehangatan dan cintanya. Saya terkenang masa-masa kecilnya. Kami berjuang keras untuk kelangsungan hidupnya agar tetap sehat.

koleksi pribadi.
koleksi pribadi.
Raden Andante Kharisma Hafidz Wirabrata kami beri nama. Dia lahir 19 tahun yang lalu di sebuah Provinsi kecil yang rawan gempa, Bengkulu, tempat pertama saya dan suami berjumpa. Dengan menyandang nama belakang keluarga suami, bangsawan Cianjur, Jawa Barat, kami biasa memanggilnya Bondan atau Dante. Ada harapan dan doa dalam namanya yang cukup panjang. Kami berharap Bondan panjang usia, barokah, panjang rejeki dan panjang pemikiran. Namanya bermakna sosok pemimpin yang tenang dan berkharisma.  Dia bercita menjadi  presiden Indonesia. Semoga Allah mengabulkan cita-cita luhurnya sesuai arti namanya, aamiin yra….

Baby Bondan rentan penyakit, daya tahan tubuhnya rendah. Dia hanya ASI  seminggu pertama, selebihnya dengan susu formula. Pernah terserang disentri hingga fesesnya mengeluarkan darah. Pukul 2.00  pagi kami membangunkan dokter keluarga, tengah malam Bondan diopname di RS Swasta di kota saya. Seringnya bolak balik ke dokter dan opname, suatu ketika dokter salah meresep obat. Setelah minum obat tersebut, Bondan demam kejang kejang (convalsio febrilis) atau stuip/step, suhu tubuh 42’ bola matanya berwarna putih. Kami panik, segera membawanya ke IGD. Sejak peristiwa itu, Bondan semakin sering sakit disertai stuip walaupun suhu tubuh hanya 38’. Kami harus berhati-hati menjaganya agar terhindar stuip karena toleransi tubuhnya terhadap demam relative rendah. 

Setiap akan ke kantor saya mengingatkan Asisten Rumah Tangga (ART) bertindak cepat jika Bondan tiba-tiba demam. Saya mengajarkan ART pertolongan pertama saat stuip, menitipkan pesan kepada tetangga sebelah rumah dan rutin menelpon ke rumah untuk mengetahui kondisi kesehatannya. Bisa jadi pagi ini Bondan ceria, pukul 10.00 dia stuip, kejadian ini sering terjadi  dengan waktu yang berubah-ubah. Beruntung saya punya ART yang setia, patuh, cukup pintar dan dapat diajak kerjasama. 

Menurut dokter jika penderita stuip tidak tertangani dengan baik, akan berakibat fatal seperti tergigit lidah sendiri yang dapat mengakibatkan tak bisa bicara, atau retardasi mentalkarena kontraksi otot yang berlebihan dapat menyebabkan rusaknya sel-sel otak anak akibat panas tinggi dan dapat menurunkan kecerdasan anak secara drastis. 

Selain stuip, Bondan juga menderita alergi udara dan tak kuat di keramaian. Gejalanya berbeda dengan orang kebanyakan yaitu muntah-muntah. Umumnya orang alergi udara adalah bersin-bersin. Bondan harus berada dalam ruangan bersih, tidak terkontaminasi kecuali dengan bau yang sudah dia kenali, misal bau ompolnya sendiri. 

Jika mencium bau asing, dia muntah-muntah suhu tubuhnya tinggi dan stuip. Pernah saat saya menggoreng bawang, dia berjinjit masuk dapur (Bondan kecil berjalan dengan ujung kaki, berjinjit, bisa menapak kaki ke lantai setelah usia 4 tahun). Bau bawang goreng yang asing baginya, membuat syarafnya kaget. Bondan muntah-muntah, suhu tubuhnya naik. 

Saya segera menggendongnya ke kamar, mengkompres ubun-ubun kepala, ketiak dan lipatan-lipatan pada tubuhnya dengan air hangat. Kami harus menjaga suhu tubuhnya tetap normal. Pernah juga anak tetangga main ke rumah pagi hari  belum mandi, Bondan langsung muntah-muntah, badannya pun panas. 

Ketika Violla, teteh Bondan berusia 5 tahun, kami merayakan pesta ultah di rumah dengan mengundang teman-teman sekolah, ortu murid, kerabat dan para tetangga. Satu persatu tamu mulai berdatangan, suara musik dialunkan. Bondan yang tidak betah pakai baju,keseharian hanya singlet dan kancut (celana dalam)  bermain dengan boneka kesayangannya di kamar. Tiba-tiba dia tertarik dengan lagu ultah, diam-diam berjinjit masuk ke acara ingin melihat tamu-tamu yang datang. 

Dia kaget melihat orang ramai dan tidak kenal. Bondan menangis, muntah-muntah dan suhu tubuhnya naik drastis. Bondan stuip!I…Suami bertindak cepat, menahan lidahnya dengan sendok agar tidak digigit, kemudian membawanya ke RS. Saya tetap di rumah, hingga acara usai bergegas ke RS. Bondan sedang tidur, capek menangis, ketakutan dan kesakitan menahan suntikan obat dan infus yang dipasang di pergelangan tangan dan kepala. Trenyuh hatiku, tak tega melihat tubuh mungilnya tersiksa.

Ini hari ke-5 Bondan dirawat. Panasnya masih 39’. Dokter belum mengijinkan pulang hingga suhu tubuhnya normal. Saya sudah mengambil ijin potong cuti untuk menjaganya. Bergantian kami tidur di RS ditemani tetangga. Hari ke-6 saya bertandang ke pasien kamar sebelah, berbincang dengan pembesuk. Seorang Bapak menanyakan penyakit Bondan dan saya jelaskan. Si bapak menyarankan untuk membawa Bondan berobat alternative, ke paraji (dukun bayi), dia kasihan melihat Bondan tak berdaya. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun