Media Pilihan

Berbagi dan Beraksi dalam Comicos 2017

13 September 2017   22:33 Diperbarui: 13 September 2017   23:47 727 1 0

Pada tanggal 7-8 September 2017, kembali diadakan konferensi tahunan yang diinisiasi oleh Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Konferensi yang diberi nama COMICOS ini merupakan konferensi bertajuk "Conference on Media, Communications and Sociology". COMICOS dijadikan wadah untuk sharing antara akademisi, praktisi, dan orang-orang dengan ketertarikan terhadap media, komunikasi, dan sosiologi.

 Jika ada yang tertarik untuk mengetahui informasi terkait COMICOS, silakan kunjungi https://comicos.uajy.ac.id/. Tahun ini, COMICOS kembali dengan berbagai macam sub tema, salah satunya adalah "Dinamika Media, Budaya, dan Masyarakat". Berbagai macam isu terkait komunikasi, media, dan sosiologi diangkat sebagai topik utama yang dibahas dalam masing-masing hasil penelitian. 

            Salah satu penelitian yang menarik dalam COMICOS kali ini adalah penelitian yang dilakukan oleh Rouli Manalu, Tandiyo Pradekso, dan Djoko Setiabudi yang berasal dari Universitas Diponegoro. Topik yang diangkat dalam penelitian ini adalah tentang kerentanan masyarakat terhadap fake newsatau berita bohong. Judul penelitian mereka adalah "Who Believe in Fake News?". 

Menurut pemaparan peneliti, fake newsbanyak sekali beredar terutama ketika masa-masa pemilihan umum atau kampanye politik (pemilihan presiden dan gubernur). Kala itu banyak sekali isu-isu di media mengandung informasi yang tidak benar secara faktual. Dalam hal ini kita bisa melihat bahwa online mediapunya peran yang sangat besar. Online mediamenjadi platformyang cukup kuat untuk menyebarkan dan menjangkau khalayak yang tersebar luas.

            Permasalahan utama dan sangat mendasar dari penyebaran fake newsini adalah ketika orang-orang tidak dapat membedakan antara fake newsdengan good news. Good newsatau accurate newsdisini adalah dalam artian bahwa informasi yang dikandung adalah benar secara faktual. Sebagai bagian dari dunia akademisi, hal ini menjadi penting dan krusial jika dikaitkan dengan literasi media. 

Kemudian, yang menjadi penting adalah untuk mengetahui siapa sajakah pihak-pihak yang memiliki vulnerabilityatau kerentanan terhadap fake newsdan bagaimana mendekati pihak-pihak tersebut untuk melakukan literasi media.

            Peneliti menjelaskan bahwa ada beberapa kondisi yang dapat membuat penyebaran fake newsmenjadi sangat luas, pertama ada hybrid news system. Hybrid news systemadalah kondisi penyebaran informasi yang memiliki kompleksitas yang cukup besar karena social media userdimungkinkan untuk menjadi producersekaligus distributordari informasi yang disebarluaskan. \

Selain itu, dalam hybrid news system,sumber informasi juga mengubah perilaku dalam artian bahwa orang-orang yang sebelumnya dimediasi oleh media, di zaman ini tidak lagi perlu dimediasi melainkan menyampaikan langsung isi pikirannya melalui media sosial. Informasi itu kemudian dapat dikonsumsi langsung dan kemudian direproduksi oleh pembaca. Hal inilah yang membuat penyebaran fake newsmenjadi semakin cepat dan luas.

            Peneliti juga menyampaikan bahwa dengan kompleksitas media saat ini, penentuan kredibilitas media ada pada profesionalitas pembaca. Namun tidak semua rentang usia memiliki profesionalitas dalam menilai kredibilitas media dalam menyampaikan informasi yang dikonsumsi sehingga rentan terhadap fake news.

Penelitian terdahulu dari Stanford pada tahun 2016 menunjukkan bahwa sebagian besar anak usia sekolah atau usia remaja di Amerika tidak dapat membedakan antara fake newsdengan accurate news.Hal ini menjadi concerningkarena yang kita hadapi saat ini bukan hanya semata-mata berita, media sosial, atau wartawannya, melainkan juga sumber beritanya yang saat ini turut serta secara langsung dalam penyebaran informasinya.

            Penelitian ini berusaha untuk mengetahui pihak yang paling rentan terhadap fake news,peneliti melakukan survey. Survey dilakukan terhadap 400 rumah tangga di Semarang dan yang menjadi responden dalam penelitian ini adalah orang-orang yang aktif menggunakan media, baik media online maupun media konvensional. Data yang didapatkan melalui penelitian ini adalah bahwa memang televisi masih menjadi sumber informasi yang utama, namun yang menarik adalah bahwa media sosial juga menjadi sumber rujukan informasi terbesar kedua setelah televisi. 

Mayoritas dari pengguna media tersebut berada pada rentang usia yang relatif muda yaitu15th-20th, 21th-30th, dan 31th-40th. Kemudian peneliti mau melihat bagaimana trustworthinessatau siapa pihak yang punya tingkat kepercayaan atau tingkat kebenaran dari suatu berita. Televisi dan print mediabagi sebagian besar responden menjadi pilihan utama untuk sumber informasi, namun di sisi lain, media sosial dan online mediajuga menjadi sumber informasi yang lebih dipercaya dibandingkan media yang lain.

            Melalui penelitian ini, jika kita ingin menyasar orang-orang, audiens, atau media useryang paling rentan untuk terkena terpaan fake news,membaca fake news,bahkan mendistribusikan fake news,maka kita harus melihat rangeusia yang didapatkan tersebut.

 Ternyata berdasarkan usia, oang-orang yang rentan tekena terpaan fake newsberada pada kategori usia mahasiswa atau profesional muda. Usia ini merupakan usia yang krusial karena tergolong dalam usia produktif dan paling banyak menyumbang dalam perekonomian. Hasil penelitian ini menjadi dasar yang kuat bagi peneliti untuk melakukan literasi media pada pihak-pihak yang masih rentan terkena terpaan, membaca, dan mendistribusikan fake news

Saat ini program literasi media masih dalam perancangan oleh peneliti untuk kemudian dilakukan di Semarang. Sungguh menarik melihat hasil penelitian ini bahwa yang sehari-harinya hidup bergelar akademisi pun ternyata masih rentan terhadap fake news.Melalui program literasi media, semoga penyebarluasan fake newsdapat diminimalisasi dan menambah wawasan serta sikap kritis seluruh konsumen berita.