Mohon tunggu...
Julius Deliawan
Julius Deliawan Mohon Tunggu... Guru - https://www.instagram.com/juliusdeliawan/

Guru sejarah, yang mencintai dunia tulis menulis. Menaruh minat pada soal-soal kepemimpinan, pengembangan sumber daya manusia, sosial, budaya dan pertanian. Punya obsesi mengembangkan pendidikan yang memerdekakan, menerbitkan buku dan menjadi petani. Untuk perkenalan lebih lanjut, dapat ditemui di : juliusdeliawan@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Dokter Terawan dan Wajah Layanan Kesehatan di Mata Awam

6 April 2022   07:35 Diperbarui: 6 April 2022   07:40 222 17 1
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Sumber https://nasional.kompas.com/

Kasus Dr. Terawan, sepertinya membuat masyarakat awam memiliki momentum dalam menyuarakan "uneg-uneg"nya pada IDI, yang notabene wadah bernaung para dokter.

IDI boleh saja berdalih, kasus Dr. Terawan, adalah urusan internal. Tetapi IDI juga tidak bisa menutup mata dan telinga, mengapa masyarakat awam bereaksi ? Karena faktanya IDI bukanlah organisasi yang tidak berpijak di "bumi" dan berkarya di ruang hampa. Sebab apapun yang ia hasilkan akan berdampak bagi masyarakat yang ia layani.

...

Saya meyakini, sebagai organisasi profesi, IDI menjalankan prinsip organisasi sesuai ketentuan yang mereka pegang. Bahkan jika ada gejolak internal, mereka memiliki mekanisme untuk menyelesaikannya. 

Keputusan yang mereka ambil sejauh itu persoalan internal organisasi, sah dan dapat dipertanggungjawabkan. Karena terdapat pakem yang telah ditetapkan. 

Namun yang jadi soal, ketika hasil keputusan IDI harus berhadapan dengan masyarakat awam yang tidak memiliki pakem yang sama dengan yang IDI miliki.

Sepertinya, itu hal yang kini sedang dialami IDI terkait dengan kasus Dr. Terawan. Cukupkah bagi IDI mengatakan bahwa ini adalah persoalan internal IDI, yang hanya menjadi ranah orang dalam ? 

Lantas IDI dan segala produk keputusannya ini untuk siapa? Hanya untuk dokter anggota, maka yang lain "diam" sajalah, begitukah ? Karena diluar mereka hanyalah pasien dan calon pasien anggotanya, yang tidak perlu ikut bersuara.

Apakah masyarakat yang notabene pasien dan calon pasien adalah kata yang sama sekali tidak disebutkan dalam ketentuan-ketentuan yang berlaku di IDI? 

Jika ada, karena bagian dari karya mereka, para anggota IDI itu, maka sesumbang apapun suara yang kini sedang menggaung. IDI harus memaknai ini sebagai suara yang keluar dari "peserta muktamar"juga . Karena pada hakekatnya, suara yang kini berkembang adalah  wajah IDI di mata masyarakat awam.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan