Mohon tunggu...
Julius Deliawan
Julius Deliawan Mohon Tunggu... https://www.instagram.com/juliusdeliawan/

Guru sejarah, yang mencintai dunia tulis menulis. Menaruh minat pada soal-soal kepemimpinan, pengembangan sumber daya manusia, sosial, budaya dan pertanian. Punya obsesi mengembangkan pendidikan yang memerdekakan, menerbitkan buku dan menjadi petani. Untuk perkenalan lebih lanjut, dapat ditemui di : juliusdeliawan@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Humor Pilihan

Nasib Guru Lucu di Tengah Pandemi

11 Juni 2021   07:30 Diperbarui: 11 Juni 2021   07:28 120 10 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Nasib Guru Lucu di Tengah Pandemi
sumber Pixabay.com

Cara membaca judul, pemenggalan kalimat dan intonasinya jangan keliru. Misalnya dengan memberi koma seperti ini ; Nasib guru, Lucu di Tengah Pandemi. Ini dapat berdampak buruk bagi karier saya ke depan. Selain menimbulkan pertanyaan ; lucunya dimana ? Juga bisa dipolitisasi yang ujungnya menyerang kebijakan. Tentu bagi yang berwenang dalam pembuatan kebijakan. Karena bisa ditafsirkan bahwa kebijakan mereka bisa membuat guru jadi lucu yang bukan berarti bisa bikin tertawa. Tetapi ya begitulah ; pokoknya lucu ! Sebab banyak juga yang masih senang baca judul lantas komentar daripada baca artikel tuntas plus paham. Saya contohnya. Atau sebenarnya artikelnya yang bikin gagal paham.

Tulisan ini benar-benar ingin menuliskan kisah guru lucu. Guru yang bikin tertawa. Setidaknya begitu kata beberapa anak, saya tidak tahu apa pertimbangan dari katanya itu, saya harap bukan nasibnya yang dijadikan pertimbangan.  Jadi  Ini bukan hasil klaim sepihak.

Meski bukan komedian, tetapi kelucuan kadang bisa mencairkan kebekuan. Apalagi saya mengajar matapelajaran yang dalam perspektif orang Indonesia "marjinal", dibanding mata pelajaran lain. Ini tolong tidak perlu diperdebatkan ya, karena hanya berdasar pengamatan tanpa data.

Fakta yang saya temui mengarah begitu, karena masih banyak yang bertanya-tanya apakah mata pelajaran yang saya ampu itu penting bagi masa depan. Dulu saya juga bertanya begitu, sekarang setelah mengajar, saya semakin yakin, jika mata pelajaran yang saya ampu ini penting. Setidaknya memberi saya penghasilan kan?! Tapi suer bukan hanya itu, masih banyak yang lainnya, nanti kapan waktu saya akan tuliskan secara berseri. Jika tidak sabar menanti silahkan di googling saja ; manfaat belajar sejarah. Pasti ada ratusan link yang akan memberi ulasan.

Sebelum pandemi, sebenarnya saya sudah bergumul perihal apa yang disematkan anak-anak ini ; guru lucu. Karena seiring bertambahnya usia dan semakin jauhnya jarak usia antara saya dan anak-anak, saya merasa semakin jadoel. Kelucuan itu mengalami perubahan drastis. Apa-apa yang saya ceritakan dulu membuat seisi kelas tertawa, belakangan senyum pun tidak. Ketika saya Tanya ; nggak lucu ya? Mereka bingung. Baru setelah saya bilang ini tadi lucu loh, baru deh mereka tertawa. Jadi lucu kan ?

Belum tuntas persoalan lucu yang lupa diupgrade tadi, pandemi melanda. Sebenarnya ini benar-benar lucu, karena sementara mengajar saya juga kepikiran jadi freelancer supaya bisa kerja dari rumah. Terkabul, tapi malah bingung, karena dalam banyak hal belum benar-benar siap.

Terpaksa belajar keras, mulai dari nol,  seperti senjata makan tuan. Dalam hal ini anak-anak saya rasa lebih hebat. Gantian mereka bilang ; belajar ya pak, bu, supaya nanti waktu menyampaikan materi kami bisa benar-benar mengerti! Nggak tahu juga apakah ada yang berpikir begitu, cuma menabak-nebak saja sih. Meski guru lucu, saya ini orangnya curigaan.

Memanfaatkan teknologi dalam penyampaian materi, meski tertatih-tatih dan terseret-seret, bisa juga dilalui. Hingga detik ini, beratus jam pembelajaran bisa saya lalui dengan selamat sentosa. Tetapi ada satu fakta yang menghilang ; status saya jadi guru lucu lebih cepat dari yang saya perkirakan mengalami degradasi.

Mengajar live secara virtual, itu mirip dengan mengajar di lorong sunyi menghadap kotak kedap-kedip. Walaupun bersama faktanya kita itu sendiri. Seluruh Audiens mute, persis seperti penyiar radio. Saya jadi paham bagaimana sulit dan rasanya jadi penyiar. Kembali ke konteks guru lucu, coba anda bayangkan seperti apa jadinya?

Waktu di kelas, cerita lucu yang tidak ditanggapi dengan tertawa saja sudah bisa bikin mood mengajar hilang. Lah ini bagaimana mau membuat seisi kelas tertawa. Jika selucu apapun pernyataan saya, harus terjeda beberapa saat baru mendengar mereka tertawa. Itupun nunggu instruksi, ayo unmute dan kalian boleh tertawa. Kadang suara tawanya pun masih terbata-bata. Pengin tahu, coba dengar orang lain tertawa di sela sinyal yang koneksinya naik turun.

Itulah sedikit fakta dari banyak fakta terkait guru lucu. Jika komedi situasi yang tayang ditelevisi bisa pakai bantuan penonton bayaran atau suara rekaman orang tertawa, lah saya masa ya harus pakai begitu? Bisa ambyar gaji dua bulan untuk satu kali pertunjukan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x