Mohon tunggu...
Julius Deliawan
Julius Deliawan Mohon Tunggu... ttps://www.instagram.com/kompasianacom

Guru sejarah, yang mencintai dunia tulis menulis. Menaruh minat pada soal-soal kepemimpinan, pengembangan sumber daya manusia, sosial, budaya dan pertanian. Punya obsesi mengembangkan pendidikan yang memerdekakan, menerbitkan buku dan menjadi petani. Untuk perkenalan lebih lanjut, dapat ditemui di : juliusdeliawan@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Lingkungan Pilihan

Isi Liburan dengan Mendaur Ulang Sampah

4 Juli 2019   07:43 Diperbarui: 4 Juli 2019   07:55 0 2 0 Mohon Tunggu...
Isi Liburan dengan Mendaur Ulang Sampah
Hasil karya, koleksi pribadi

Paus mati makan plastik. Liburan ke tempat-tempat wisata, kadang miris, lihat sampah plastik berserakan. Sebagian kita, masih lupa, jika tempat yang dikunjungi bisa saja jadi tak menyenangkan lagi karena ulah wisatawan "ndableknya".

Bicara fakta, negeri ini masih jadi penyumbang plastik terbesar dunia. Meski daun pisang juga mudah di dapat, tetapi masyarakatnya lebih suka menjebakkan diri dalam "pesona" kata, praktis, murah. Jangan tanya bagaimana perlakuan pasca pakainya. Sampah !

Butuh edukasi panjang, dan mungkin tidak akan kelar dalam satu generasi, bagaimana buang sampah pada tempatnya dan apalagi soal bagaimana agar tidak menciptakan sampah. Karena ini butuh mental disiplin, yang barangkali masih jadi prilaku langka.

Kali ini, penulis, yang juga jauh dari prilaku disiplin di atas, mencoba mengedukasi diri. Isi liburan, karena memang sedang tak ada acara ke luar kota dengan mencoba melihat peluang sederhana.

Ini peluang, karena satu kegiatan yang menghasilkan karya untuk menopang aktifitas lainnya. Manfaat ganda, begitulah kira-kira.

Sebagai guru, aktifitas akhir tahun pelajaran, pasti membersihkan meja kerja. Kertas yang tadinya bermanfaat, sudah diambil saripatinya, yaitu nilai para siswa yang sudah mereke terima, ada di rapot. Sisanya, jadi sampah, yang siap dibuang, bakar atau kiloin.

Saya suka berkebun, cita-cita jadi petani, tapi kandas, karena tinggal di daerah satelit ibukota yang harga tanah permeternya, nggak kebeli dengan gaji guru, terlebih hanya untuk bertani. Alhasil, menggunakan metoda hidroponik, yang masih bisa di gantungin di pagar. Ceritanya menggunakan metode, hidroponik sumbu, memanfaatkan botol plastil bekas yang saya pungut dari jalanan.

Liburan kali ini saya menggabungkan semuanya, antara sampah hasil kerja, hobi dan memperindah tampilan rumah. Setidaknya dekorasi tamannyalah. Karena belum bisa renovasi rumahnya. Dengan membuat pot- pot hidroponik menjadi lebih menawan. Jadi selain bertani, juga berhias.

Saya memanfaatkan kertas bekas, botol plastik, dan kain dari pakain yang sudah tak terpakai lagi. Istilahnya, mendaur ulang sampah. Menjadi pot-pot hidroponik sumbu, yang menurut saya tampilannya lebih menarik.

Prosesnya sangat sederhana, pertama, buat kertas menjadi bubur kertas. Lantas campurkan semen, aduk hingga merata. Kedua, siapkan botol, lantas belit dengan kain yang juga sudah dilumuri semen. Lantas proses yang ketiga, bentuk kertas yang sudah di campur semen di botol plastik yang sudah di belit kain. Bentuknya sesuai selera, saya membentuknya menyerupai batang kayu. Keempat, keringkan. Jika sudah kering, sempurnakan bentuknya dan setelah itu cat sesuai warna yang diinginkan.

Prinsipnya, prakarya tersebut adalah pot hidroponik sumbu. Jadi untuk memanfaatkan, pasang sumbunya dan siap untuk dijadikan lahan bertani atau berkebun. Liburan, rasanya jadi cepat kelar.



KONTEN MENARIK LAINNYA
x