Mohon tunggu...
Julius Deliawan
Julius Deliawan Mohon Tunggu... ttps://www.instagram.com/kompasianacom

Guru sejarah, yang mencintai dunia tulis menulis. Menaruh minat pada soal-soal kepemimpinan, pengembangan sumber daya manusia, sosial, budaya dan pertanian. Punya obsesi mengembangkan pendidikan yang memerdekakan, menerbitkan buku dan menjadi petani. Untuk perkenalan lebih lanjut, dapat ditemui di : juliusdeliawan@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Koin dan Jari Sakti

15 Januari 2014   08:04 Diperbarui: 24 Juni 2015   02:49 0 0 1 Mohon Tunggu...

Benda danbagian tubuh apa yang paling kuat jika Anda tinggal di Jakarta? Jawabannya bisa saja beragam. Tapi jangan pernah Anda sepelekan uang koin. Bagi sebagian orang bisa saja hanya merupakan recehan tak berarti. Tapi di Jakarta, bisa jadi itu penyelemat bagi Anda.

Jalanan Jakarta, juga adalah panggung drama. Ada peran baik, juga banyak peran-peran antagonisnya. Ada pengamen, yang menerima dengan ikhlas diberi atau tidak. Penyair jalanan juga demikian. Namun ada juga pengamen gadungan yang siap memaksa dan menunggu hingga Anda memberi recehan.Pada situasi seperti itu, koin Anda dapat menjadi ‘penyelamat’. Termasuk di perempatan, jika Anda mengendarai mobil, koin dapat membuat mobil Anda aman dari baretan. Ini belum termasuk saat Anda memutar, kencing dan masih banyak lagi yang bisa diperbuat oleh koin yang Anda miliki.

Meski demikian ada fungsi koin yang lebih fenomenal dan perkasa. Menghentikan laju bus. Anda mungkin tidak akan menemukan di ibukota Negara manapun, selain di Jakarta. Di sini, halte bus terdapat di mana-mana, kecuali bagi bus Trans Jakarta. Sehingga siapapun penumpang bus reguler, dapat naik dan turun di manapun dia suka. Syaratnya sederhana, Anda punya uang koin atau meminta bantuan kondektur dengan uang koin yang ia miliki.

Koin-koin itu bukan untuk dimasukkan ke tempat tertentu, dan mengirim sinyal pada supir, atau rem otomatis, sama sekali bukan. Jika di Negara maju, Anda cukup memencet tombol yang tersedia di dalam bus. Atau Anda hanya dapat naik dan turun di halte. Atau jika bepergian ke luar Jakarta, cukup Anda bilang ‘kiri’ pada supir dan bus akan berhenti. Tetapi di sini, sekali lagi Anda butuh koin. Karena bunyi koin yang berdentang menghantam besi pegangan penumpang dalam buslah yang menjadi sinyal bagi bus untuk berhenti. Jika tidak, ketukan koin pada kaca bus juga bisa. Teriakan Anda tak akan menghentikan bus yang Anda naiki. Namun koin Anda dapat melakukannya.

Kesaktian koin tersebut hanya sepadan dengan jari tangan Anda, jika Anda naik angkot. Meski supir hanya beberapa jengkal dari tempat Anda duduk. Tetapi dia lebih yakin jika Anda ingin turun dan meminta angkot berhenti pada jari Anda ketimbang suara Anda. Cukup sentilkan jari Anda beberapa kali di plafon angkot, maka kendaraan itu akan berhenti. Apa yang selama ini mungkin Anda remehkan, tetapi sesungguhnya dalam banyak hal Anda bergantung pada perannya. Masih mau menyepelekan koin dan sentilan jari di Jakarta?