Mohon tunggu...
Juandi Manullang
Juandi Manullang Mohon Tunggu... Penulis Lepas

Alumnus FH Unika ST Thomas Sumut

Selanjutnya

Tutup

Hukum Pilihan

Postingan Melarang Foto Presiden dan Wapres di Sekolah adalah Bentuk Intoleransi

11 Juli 2019   23:28 Diperbarui: 12 Juli 2019   00:00 0 0 0 Mohon Tunggu...
Postingan Melarang Foto Presiden dan Wapres di Sekolah adalah Bentuk Intoleransi
Kapolres Metro Jakarta Utara Kombes Budhi Herdi Susianto (Kompas.com)

Begitu mengerikan situasi kehidupan kita saat ini. Aksi intoleransi dan kebencian masih saja menyelimuti kehidupan kita. Ini adalah fakta terburuk yang sangat sulit untuk kita hilangkan. Perlu ada perubahan besar-besaran dalam tubuh setiap orang untuk santun dalam bertingkah laku.

Dilansir dari Kompas.com, 11/7/2019, polisi menetapkan Asteria Fitriani, wanita yang mengusulkan tidak memasang foto Presiden dan wakil Presiden di sekolah sebagai tersangka. Dijelaskan pula bahwa pelaku tidak mau kalau anak didik tunduk, mengikuti dan membiarkan kecurangan dan ketidakadilan.

Mencermati postingan itu, terlihat masih ada kekecewaan terhadap hasil Pilpres kemarin. Kebencian pun muncul yang membuat pelaku menjadi intoleran seperti itu. Begitu miris mendengar kabar ini karena diantara kita anak bangsa masih ada hati dan pikiran belum menerima segala fakta yuridis yang ada, dimana Pilpres sudah selesai, maka kita harusnya berdamai.

Kekecewaan, kebencian dan kemarahan menyatu menjadi intoleran, sehingga melarang foto Presiden dan wakil Presiden tak perlu dipasang di sekolah. Tak tahu apa yang dipikirkan oleh pelaku membuat postingan itu.

Yang pasti, itu bentuk kebencian dan intoleran dalam dirinya. Kekuasaan kegelapan menyelimuti hatinya, sehingga konsekuensi hukum tidak dipikirkan sama sekali. Kasihan sekali oknum tersebut menjadi berhadapan dengan hukum dan kehidupan berbangsa  pun tercoreng.

Bertindak baik
Apapun yang kita rasakan saat ini, baik sedang marah sekalipun, wajib setiap orang untuk tidak melampiaskannya secara berlebihan. Yang terjadi, akan berhadapan dengan hukum dan merugikan diri sendiri. Perlu kita bijak dalam bertindak dan bersikap agar orang lain senang dan  hidup juga semakin lebih nyaman.

Tindakan intoleran berupa melarang foto Presiden dan wakil Presiden adalah sangat keterlaluan. Amarah dan kebencian terhadap pemimpinnya begitu kental. Padahal, seorang pemimpin harus dihormati di negeri yang mencintai keberagaman dan persatuan ini.

Saya pun tak habis pikir timbul niatan oknum wanita tersebut memposting kata-kata yang begitu mengundang opini publik. Tentu banyak orang yang tidak setuju dengan postingan itu karena kita sebagai warganegara Indonesia wajib menghormati dan mencintai pemimpin kita sebagai simbol negara. Apapun kekurangan dan kelebihan pemimpin harus kita hormati. Itulah namanya hidup berbangsa dan bernegara yang baik dan santun. Semoga ini jadi pelajaran buat kita kedepan menjadi orang yang bijak.