Mohon tunggu...
Juan Ferdinan Sitanggang
Juan Ferdinan Sitanggang Mohon Tunggu... Mahasiswa - Bukan Hanya Mimpi, Bangun dan Gapailah.

ūüŹ†Tangerang Selatan.Banten

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud & Agama

Persepsi Masyarakat Mengenai Perkawinan di Bawah Umur

19 Oktober 2021   23:19 Diperbarui: 19 Oktober 2021   23:36 73 3 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Ilmu Sosbud dan Agama. Sumber ilustrasi: PEXELS

Perkawinan merupakan suatu ikatan batin antara laki-laki dengan perempuan. Perkawinan dilakukan dengan tujuan membentuk suatu rumah tangga yang sah dimata hukum maupun agama. Dasar-dasar perkawinan dibentuk oleh unsur alami dari kehidupan manusia itu sendiri untuk memenuhi kebutuhan biologis, melahirkan keturunan, serta untuk kebutuhan kasih sayang.

Apa itu perkawinan dibawah umur?

Perkawinan dibawah umur itu sendiri memiliki arti perkawinan yang dilakukan pada usia yang belum mencapai batas yang sudah ditetapkan atau adanya perkawinan yang tidak sesuai batas umurnya. Batas perkawinan secara umum sudah diatur dalam ketetapan UU di Indonesia. 

Untuk laki-laki harus berumur 19 tahun sedangkan perempuan berusia 16 tahun. Jika perkawinan dilaksanakan tetapi belum memenuhi ketetapan batas usia maka perkawinan tersebut disebut sebagai perkawinan dibawah umur.

Bagaimana persepsi masyarakat mengenai pernikahan dibawah umur?

Masyarakat memiliki persepsi bahwa perkawinan dibawah umur adalah hal yang biasa bukan menjadi rahasia umum lagi. Karena, masyarakat memiliki asumsi dengan menikah akan mengangkat kedudukan sosialnya meski merelakan nikah pada usia yang relatif belum dikatakan siap untuk menjalani bahtera rumah tangga. Perkawinan dibawah umur dari waktu ke waktu menjadi kegiatan yang trend dikalangan masyarakat.

Perkawinan dibawah umur ini terjadi dikarenakan sudah terlaksana sejak zaman dahulu, yaitu secara turun menurun. Kebanyakan perkawinan dibawah umur terjadi pada pihak perempuan yang dimana para orang tua menganggap anak perempuannya sudah dewasa, sehingga mereka membuat kesepatakan untuk mempersatukannya.

Tingginya tingkat perkawinan dibawah umur tidak terlepas dari dari faktor ekonomi, pendidikan, budaya atau adat yang berkembang di kalangan masyarakat serta faktor lingkungan tempat tinggal yang cenderung mengarah ke pergaulan bebas dikalangan anak-anak dan remaja. 

Ekonomi memang menjadi faktor utama terjadinya perkawinan dibawah umur, maka dari kekurangan ekonomi itulah masyarakat menjadikan pernikahan dibawah umur sebagai jalan keluar untuk mengangkat perekonomian keluarganya tanpa memikirkan resiko yang akan terjadi kedepannya. Hal ini terus terjadi dikarenakan tingkat pendidikan yang kurang sehingga memiliki pemikiran seperti itu.

Dengan demikian, masyarakat khusunya para orang tua harus sadar bahwa perkawinan dibawah umur ini memiliki dampak serius terhadap anaknya. 

Pendidikan yang belum memadai atau belum maksimal merupakan salah satu faktor pemicu perkawinan dibawah umur. Disini peran pendidikan sangat berpengaruh kepada persepsi masyarakat kedepannya. Pendidikan bertujuan memberikan pemahaman agar masyarakat mengetahui dampak buruk dari perkawinan dibawah umur.

Penulis : Juan Ferdinan Sitanggang -- Mahasiswa Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan. Universitas Pamulang.

Mohon tunggu...

Lihat Konten Ilmu Sosbud & Agama Selengkapnya
Lihat Ilmu Sosbud & Agama Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan