Jufrianto Siahaan
Jufrianto Siahaan Pegawai

Pembelajar Awam

Selanjutnya

Tutup

Bahasa Artikel Utama

Ihwal Berbahasa Inggris yang Suka Bikin Sinis

4 Juli 2018   16:23 Diperbarui: 4 Juli 2018   21:02 1983 5 1
Ihwal Berbahasa Inggris yang Suka Bikin Sinis
Bahasa Inggris menjadi aksesibilitas interaksi sosial dalam dunia yang tanpa batas (borderless world)

Bagi saya, hal terpenting dalam berinteraksi dengan sesama adalah terciptanya komunikasi yang baik. Komunikasi yang baik bisa terjadi apabila penerima pesan mampu menangkap pesan dari si pemberi pesan. Pun demikian halnya, ketika kita berkomunikasi dengan mereka yang berbahasa asing.

Saya teringat kisah bapak saya, yang bercerita tentang sebuah situasi yang dihadapi seorang buruh pelabuhan yang didatangi seorang warganegara asing. Dengan bermodal sedikit diksi bahasa Inggris serta bahasa tubuh yang ekspresif, buruh pelabuhan ini tampak berusaha keras menjelaskan segala sesuatu untuk setiap pertanyaan yang dilontarkan orang asing tersebut, yang juga tidak ia dipahami.

Setelah momen tersebut, Bapak saya bertanya sekiranya dia mengerti segala perkataan yang dikemukakan si "bule" tersebut. "Memangnya apa yang hendak kamu jelaskan ketika kamu menggerakkan tanganmu ke depan dan ke belakang berulang-ulang?" tanya Bapak saya kepada buruh pelabuhan itu.

"Oh itu...." Sambil tersipu malu, ia menjawab, "Aku mau bilang 'gergaji', tetapi aku tidak tahu bahasa Inggris untuk kata tersebut. Ya kujawab saja, 'come to me, come to you... come to me, come to you... sambil 'ku gerak-gerakkan tanganku. Syukur-syukur dia mengerti, Oom."

Dalam sebuah kesempatan yang lain, saya pernah mendengar pengajar saya, berkewarganegaraan Inggris, berkata: 

"kami sungguh menghargai Anda yang mampu berbahasa Inggris, kendati Anda merasa belum sempurna dengan itu. Karena dengan demikian, kita dapat berkomunikasi dengan baik."

Ia pun berseloroh, "justru kami cukup kesulitan jika kami ingin membicarakan tentang Anda, karena Anda pasti memahami perkataan kami. Berbeda jika Anda membicarakan saya dengan rekan-rekan Anda dengan bahasa ibu Anda."

Begitulah kira-kira. Komunikasi itu sesederhana mereka memahami perkataan dan menangkap pesan kita. Ironisnya, berbicara dalam bahasa Inggris sekarang ini telah menjadi semacam gaya hidup. Tak jarang juga menjadi kebutuhan primer bagi kebanyakan orang.

Buktinya, banyak orang tua mendaftarkan anak-anaknya mengikuti kursus bahasa Inggris sejak dini. Pilihan sekolah formal pun juga harus bergengsi, lengkap dengan bahasa pengantar Inggris dan pengajar asing (native teacher). 

Tak hanya itu. Dunia kerja dewasa ini juga mensyaratkan kemampuan bahasa Inggris sebagai kriteria penerimaan pegawai. Pokoknya, tidak ada bidang yang luput dari fenomena berbahasa Inggris ini.

Menurut saya, alasannya sebenarnya hanya untuk memudahkan aksesibilitas berinteraksi sosial dalam dunia yang sudah tanpa batas (borderless). Tidak perlu kaget apabila di lingkungan tempat kita bernaung ini sudah sering menjumpai warganegara asing berseliweran. Entah untuk bisnis maupun kesenangan (pleasure). 

Apalagi, teknologi informasi memungkinkan setiap orang berjelajah lintas-negara dengan mudah dan murah. Dan, salah satu yang memungkinkan hal tersebut adalah berkomunikasi dalam bahasa Inggris.

Karena berbahasa Inggris ini sudah menjadi fenomena global, tak heran jika kemudian kita mendapati praktik lafal atau aksen yang berbeda-beda di setiap tempat. Kalau tidak percaya, coba saja telusuri via internet dengan kata kunci "aksen bahasa Inggris". Hasilnya, ada puluhan aksen yang diperagakan oleh sejumlah warganet. 

Mulai dari aksen British ala Harry Potter sampai dengan Singlish (Singaporean-english) yang selalu diakhiri dengan "haa" di setiap kalimat. Ada juga Indian-english yang memberi penekanan pada huruf "R" untuk setiap kata yang mengandungnya (huruf "R").

Indonesia? Kini sudah banyak orang Indonesia sudah mampu berkata-kata dalam bahasa Inggris, yang kefasihannya menyerupai aksen di negara asalnya. Kendati demikian, tak sedikit kita temukan praktik speaking English bercitarasa medhok khas Jawa Timuran.

Persoalannya adalah, sebagian orang Indonesia yang mengklaim dirinya sudah berkemampuan istimewa dalam berbahasa Inggris, acapkali meremehkan mereka yang beraksen Medlish (Medhok-english) ini. Seolah-olah itu adalah sebuah dosa; sebuah kesalahan. Tak jarang juga, ini menjadi bahan tertawaan bagi sekelompok expertise itu.

Jika sudah demikian, sungguh tindakan yang berlebihan ,menurut saya. Mengapa? Karena bahasa Inggris itu bukanlah bahasa ibu kita. Tidak ada alasan yang sungguh-sungguh benar hingga melayakkan kita untuk memandang sinis kualitas bahasa Inggris bangsa kita sendiri. 

Sepanjang yu paham maksud ai, dan ai mengerti yu ngomong apa, ya tidak masalah. Bahkan orang Inggris asli saja sungguh menghargai upaya orang Indonesia dalam bertutur Inggris dengan kualitas pas-pasan.

Nah, jika situ bisa excellently speaking english, maka bersyukurlah. Itu pertanda situ sering menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari. Itu pertanda situ memiliki jaringan relasi atau pertemanan lintas-negara. Itu pertanda situ punya profesi yang melibatkan orang asing dalam proses bisnisnya.

Kalaupun kecakapan bahasa Inggris kita ternyata belum mencapai level lanjutan (advanced), menurut saya itu bukanlah akhir kehidupan. Kita sendiri yang memiliki kontrol untuk diri kita sendiri, mau dikembangkan atau tidak, dan seberapa jauh kita ingin bersinggungan dengan hal-hal berbau globalisasi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2