Mohon tunggu...
Joy Manik
Joy Manik Mohon Tunggu...

Seorang suami dari satu istri dan dua anak. Seorang mentor yang menyenangi buku dan musik. Seorang manusia yang berdosa sejak dalam kandungan. Dipilih oleh Allah sebelum dunia dijadikan. Ditebus oleh Kristus. Dan hidup dalam pemeliharaan Roh Kudus! - - 'i do what i think. and i think what i believe'

Selanjutnya

Tutup

Gaya Hidup

Masih Beranikah Kita ‘Ber-Sumpah Pemuda’?

28 Oktober 2015   08:57 Diperbarui: 28 Oktober 2015   09:08 382 9 5 Mohon Tunggu...

28 Oktober 1928 menjadi gerbang pembuka jalan bagi kemerdekaan Indonesia. Dan Sumpah Pemuda ibarat kunci yang membuka belenggu penderitaan bangsa kita. Sumpah pemuda menjadi salah satu symbol keniscayaan bahwa bangsa kita mampu dan pasti merdeka. Ini Indonesia. Yup! Indonesia. Tanah air beta. Tanah pusaka tempatku dilahirkan. Merah darahku, putih tulangku. Disana kuberdiri menatap langit. Melihatmu selalu terbang bak rajawali meraih harap yang pasti ‘kan terjadi. Bagi sejahtera bangsaku, kunaikkan doa.

Maka kutorehkan tinta menyambung kata agar dahaga ini puas di dalam makna. Nasionalisme bangsa memang sedang diperkosa saat ini. Kesatuan, toleransi beragama, isu pembangunan bangsa menjadi perbincangan yang merangsang hasrat pemuda kita. Benarkah demikian? Ayo buka mata kita. Tutuplah dulu kisah cinta Rossi dan Marquez. Atau lagu Adele terbaru yang menjadi trending topic dunia. Mari kita bicara mengenai Indonesia! Bicara Sumpah Pemuda!

 

1. Inspiratif
Ini Indonesia Bung! Kalimat ini seakan kehilangan wibawa ketika kata ‘ini Indonesia Bung!’ hanya mewakili kemandulan hukum, ketidakadilan negeri, atau kebejatan para oknum anggota wakil rakyat. ‘Ini Indonesia Bung!’ harusnya bersuara lebih lantang ketika kita bicara Sumpah Pemuda.
Sumpah Pemuda memberikan nilai inspiratif yang sangat tinggi. Bagaimana tidak. Peristiwa ini tidak hanya sekedar melibatkan para pemuda yang berkumpul lalu berikrar. Tapi para pemuda yang berasal dari berbagai latar belakang suku, sosial, agama yang berbeda-beda ini sedang menentukan arah bahtera bangsa Indonesia. Kali ini kita tidak akan mengulas sejarah sumpah pemuda. Tapi bagi saya, ikrar sumpah pemuda ini berseru bahkan berteriak sangat keras bagi kita. Corong panggilan ini menggetarkan jiwa, sehingga siapapun yang menghayatinya tentu akan bangun dari tidurnya bahkan bangkit dari kuburnya.

‘Mau dibawa kemana hubungan kita..’ adalah secuplik syair dari lagu band armada. Namun syair ini cukup mewakili sebuah pertanyaan besar. Mau dibawa kemana bangsa kita? Semua tergantung pada para pemudanya. Namun banyak dari kita tidak menyadari hal ini. Pemuda begitu hanyut dalam praktek hedonism dunia. Gambar diri mereka tak sejelas gambar yang mereka upload di instagram. Status mereka hanya bercerita tentang diri mereka sendiri. Bahkan mereka hanya bercuit tentang kritik tanpa sumbangsih diri. Beberapa dari pemuda kemudian menyanyikan lagu ‘terserah’ bung glenn fredly, atau justru hidup mereka bernada lagu ‘Borju’-nya Neo!

Suatu ketika kami mengunjungi seorang murid yang ikut dalam kursus di rumah singgah yang kami dirikan. Ibunya sudah meninggal karena sakit dalam usia muda, sedangkan ayahnya seorang penarik becak yang menderita sakit ayan. Dalam rumah kontrakan berukuran kira-kira 4x6 meter, kami mencoba untuk memberikan semangat pada anak ini. Usianya baru menginjak 12 tahun. Dia dibantu oleh gereja untuk dapat bersekolah. Lalu saya bertanya: ‘Dek, kalau nanti besar mau jadi apa?’. Gadis ini terdiam. Seorang rekan lalu mengulang dengan kalimat lain. ‘Maksud kakak, cita-citanya apa?’. Namun gadis ini tetap diam bahkan ia menurunkan wajahnya secara perlahan. Kami pun menunggu. Tiba-tiba dengan lirih sang gadis menjawab. ‘Saya gak berani bilang kak..’. Saya takut punya cita-cita..bisa hidup aja sudah syukur!’

Kami terhenyak. Dalam perjalanan pulang saya berkata: ‘ayo..semangat!, ayo lebih giat kerja!’. Anak-anak inilah alasan mengapa kami selama 5 tahun terakhir ini mendirikan rumah singgah. Sebuah rumah singgah yang berisi pelayanan kursus mata pelajaran dan bahasa inggris bagi anak-anak yang tidak mampu secara ekonomi. Dan jangan anda berfikir ini sebuah pelayanan yang besar. Yang berisi donatur kaya dan guru-guru yang pintar. Tidak! ini juga bukan sebuah pelayanan yang pernah diundang ke acara mata Najwa atau Kick Andy. Kami pun tidak pernah mewarnai majalah atau surat kabar. Namun cukup bagi kami ketika kami dapat mewarnai hidup anak-anak Indonesia! Ya! Anak Indonesia.

Merekalah yang akan meneruskan perjalanan bangsa ini. Bukankah ada tertulis bahwa Tuhan akan mengangkat pemuda-pemuda menjadi pemimpin mereka, dan anak-anak akan memerintah atas mereka (yes 3:4). Bagi kami inspiratif bukanlah mereka yang mampu berbicara di depan banyak orang dan menggoncang dunia. Atau mereka yang membaktikan diri masuk ke pedalaman-pedalaman untuk mengajar. Sudah pasti mereka inspiratif. Tapi Inspiratif juga dimulai dari ruang lingkup kecil hidup kita.

Hai para pemuda Indonesia. Kalian bisa memberikan inspirasi ketika anda berani berhenti dibelakang garis saat persimpangan lampu merah. Pemuda memberikan inspirasi saat anda berani membuang sampah sekecil apapun di tempatnya. Pemuda memberikan inspirasi saat anda berani tidak menyontek dalam kelas. Inspirasi. Bangsa ini butuh pemuda yang menginspirasi karena sumpah pemuda sudah lebih dahulu menginspirasi.
‘Masih beranikah anda ber-sumpah pemuda!’

 



2. Warisan
Saya teringat saat kecil dulu. Almarhum ayah saya pernah berucap. ‘Joy. Papah ini tidak bisa mewariskan apapun selain ilmu dan pendidikan. Harta akan habis dengan seiring waktu. Tapi pendidikan akan terus ada..’. Perkataan ayah saya ini memberikan saya dorongan untuk melanjutkan study saat drop out dari sebuah kampus. Usia 29 saya baru berkuliah lagi untuk jenjang sarjana dan puji Tuhan bisa melanjutkan di gelar master.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x