Mohon tunggu...
Ade Damayanti
Ade Damayanti Mohon Tunggu... Lainnya - Mahasiswa UIN Jakarta, Jurusan Sejarah dan Peradaban Islam

Pembelajar Sejati

Selanjutnya

Tutup

Edukasi

Banjir Darah: Kisah Nyata Aksi terhadap Kiai, Santri dan Kaum Muslimin "Mengungkap Kebrutalan PKI di Belahan Bumi Nusantara"

9 Desember 2020   19:21 Diperbarui: 27 April 2021   08:47 3101 0 4
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Buku "Banjir Darah" | bukalapak.com

Buku Banjir Darah merupakan buku terbaru dari salah satu penulis produktif di Indonesia yaitu Anab Afifi berkolaborasi dengan Thowaf Zuharon. Buku ini adalah karya pertamanya yang bergenre kisah sejarah dan merupakan sebuah kreasi baru dari buku Ayat-ayat yang disembelih yang diterbitkan pada tahun 2015.

Buku ini menceritakan tentang Sejarah Partai Komunis Indonesia yang penuh darah kekejaman. Mereka menyiksa, membakar, menyembelih bahkan mengubur hidup-hidup para kiai dan santri, menghasut para kiai dan santri, dan menghasut para petani untuk memberontak serta merampas harta-harta semua golongan yang tidak sepaham komunis. Buku ini menjelaskan lebih dalam tentang kekejaman PKI mulai tahun 1948-1965. Namun lebih menceritakan tentang pembunuhan kepada para Kiai, Ulama, Santri, dan tokoh-tokoh yang berhubungan dengan organisasi Islam oleh PKI.

Dibagian pendahuluan penulis menceritakan tentang sebuah surat yang ia kirim pada tahun 2015 untuk Maria Felicia Gunawan. Maria Felicia Gunawan adalah pembawa baki bendera di Istana Negara pada tahun 2015. Surat itu berisi tentang kekejian PKI terhadap Para Kyai, Santri dan Kaum Muslimin di belahan bumi Nusantara.

" Jika bukan karena kegigihan para pejuang yang mempertahankan berkibarnya merah putih, barangkali sejak 1948 ketika Ketua Partai Komunis (PKI) bernama Muso memproklamirkan negara komunis bernama Republik Soviet Indonesia di Madiun, Merah Putih itu tak akan kau genggam sekarang. Atau barangkali, jika ulah Muso berhasil, Merah Putih yang kau genggam itu sudah diganti oleh gambar palu arit yang telah berulang kali membuat negeri ini berdarah-darah." (Hal 18)

Pada tahun 1948, PKI yang dipimpin oleh Muso menguasai wilayah karesidenan Madiun, Ponorogo, Ngawi, Mantingan, Magetan, dan sekitarnya. Para Kiai, Ulama, Santri serta tokoh-tokoh Islam yang jumlahnya ratusan diculik, disiksa, dibunuh, lalu dimasukkan sumur sempit bahkan disembelih dengan digorok leher, dimutilasi, diganyang dan tak jarang para sasaran PKI yang sulit dibunuh dikubur hidup-hidup lalu ditimbun dengan batu di dalam sumur.

"PKI Menyebut terdapat Tujuh Setan Desa yang harus diganyang. Diantara Tujuh Setan Desa yang di identifikasi yaitu para kiai, guru ngaji, santri, lurah atau kepala desa, pedagang, serta pamong praja. Setan-setan itu harus dikutuk dan dibasmi. Pada tahun  1948, mereka telah menjadi sasaran pertama. Diseret , dibacok, dipotong-potong tubuhnya , disembelih, lalu dimasukkan sumur dan kolam-kolam." (hal 334)

Tidak hanya itu para PKI  juga merusak sarana ibadah maupun pendidikan yang di miliki umat muslim, mereka akan membantai siapapun yang melawan komunisme. "Masjid dan Madrasah sebagai penopang kekuatan islam juga kubakar". (hal 111) 

PKI juga membuat slogan yang penuh kebencian "Pondok bobrok, Langgar Bubar, Santri Mati". (hal 181)

Saat muso memproklamirkan Negara Soviet Indonesia di Madiun, slogan itu terus berkumandang dari seluruh anggota sipil PKI Muso dan Tentara Muso yang bernama Front Demokratik Rakyat (FDR).

Bahkan, Pondok Pesantren Gontor yang merupakan Pondok pesantren besar di Jawa Timur ikut menjadi sasaran pengerusakan maupun pembakaran oleh para PKI, dikarenakan Kyai Gontor yaitu K.H Ahmad Sahal dan K.H Zarkasyi pergi untuk menyelamatkan diri dengan para santri, padahal sebelum mereka pergi Pesantren Gontor sudah disambangi utusan PKI yang membawa sepucuk surat. 

Isi surat itu adalah perintah dari pasukan PKI Muso agar seluruh warga pesantren Gontor tidak meninggalkan tempat. Jika sampai meninggalkan tempat akan terjadi bencana besar yang dibuat oleh para tentara PKI Muso.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Edukasi Selengkapnya
Lihat Edukasi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan