Joseph Loemintu
Joseph Loemintu

Mulutmu Harimaumu, Penamu Belatimu!! Katakanlah kebenaran meski itu pahit, Kuliti kebohongan meski itu sakit!!

Selanjutnya

Tutup

Politik

Waspada!! Efek Domino Pasca Ahok di KO Anis Pada Pilkada DKI 2017

21 April 2017   17:19 Diperbarui: 22 April 2017   09:02 1122 5 4

19 April 2017.. Langit Jakarta sore itu berubah kelam seakan menangis pilu penuh duka. Debu dan asap mengepul menyisakan puing-puing bekas amunisi yang berserakan (baca = sembako) dan anak-anak manusia yang terkapar tak berdaya di medan Kurusetra yang melegenda. Adalah Pilgub DKI 2017 yang berakhir begitu singkat, lebih singkat dari yang kita duga.

Euforia victory kemenangan Ahok pada pilgub putaran I yang masih melekat seakan menjadi pil pahit yang justru menambah rasa sakit saat harus tumbang dan terkapar pada putaran II oleh Anis. Bagaimana tidak di tengah gencarnya serangan isu SARA, mobilisasi masa, dan status terdakwa penista agama, ternyata benteng Ahok pada putaran I masih cukup kokoh dengan meraup 42,99%, Anis 39,95%, AHY 17,06% suara.

Dengan totalitas semua elemen tim kampanye, simpatisan medsos yang massive serta indikasi dukungan tak terbatas dari langit (baca = penguasa-pengusaha) sudah barang tentu 17,06% suara AHY sebagian bisa diraup. Mengingat pada saat yang bersamaan SBY dan AHY bersikap resmi netral serta juga ada trend melemahnya mobilisasi pergerakan massa Islam yang berpotensi menurunkan elektabilitas Ahok. Di sisi pihak Anis issu dukungan Islam radikal dan tuduhan anti-kebhinekaan berhembus kencang bak tornado yang bisa memporak-porandakan elektabilitasnya.

Tapi apalah daya jago besutan Megawati akhirnya harus bertekuk lutut pada jago besutan Prabowo Subianto dengan persentase cukup meyakinkan 42,05% untuk Ahok dan 57,95% untuk Anis dan yang lebih hebat Anis menyapu bersih kemenangan di semua wilayah dati II DKI Jakarta secara fantastis. Akhirnya pertempuran berakhir lebih awal sebab dengan margin 15,9% tidak akan mungkin ada gugatan ke MK dan bila mana terjadi kecurangan logika rakyat mengatakan tidak mungkin merubah hasil secara signifikan. Terlebih pidato ucapan selamat Ahok pada Anis atas hasil quick count sudah terucap dengan sangat bijak seakan mempertegas kekalahannya.  Game over!!

*****

Mengenai faktor penyebab kekalahan Ahok sudah banyak yang bahas. Hasil juga sudah diketahui, sehingga tinggal prosesi penetapan dan penyerahan mahkota victory sang Raja Jakarta yang baru. Dengan ini urusan kaum alit sudah kelar dan kembali dari medan perang menuju rumah masing-masing. Akan tetapi bagi kaum elit, ini belumlah berakhir babak baru perang sesungguhnya sedang dimulai. Genderang sudah ditabuh, tinggal menunggu terompet komando dibunyikan panglima masing-masing kubua, kubu Megawati (PDI-P, Golkar, Nasdem, Hanura, mungkin PPP-PKB) dan Kubu Prabowo (Gerindra, PKS, PAN).

Kekalahan Ahok memberikan efek domino dan dampak simultan yang sangat serius sebagai berikut :

Pertama, dari 101 pilkada serentak, PDI-P kalah di 44 daerah. Sebelumnya di banten jagoan PDI-P Rano Karno-Embay Mulya Syarif sang petahana harus gugur secara menyakitkan dari Wahidin Halim-Andhika Hazrumy yang didukung Gerindra-PKS-Demokrat dengan 49,05% - 50,95%. Dan Puncaknya adalah kekalahan telak di Pilkada DKI Jakarta.

Ini bisa dibaca sebagai warning bahwa figur Megawati dengan jargon Soekarno-Nasionalis nya tidak cukup ampuh mendongkrak perolehan suara. Masyarakat lebih rasional dan bisa memilah mana Soekarno mana Megawati. Keduanya bukanlah satu kesatuan yang tak terpisahkan melainkan individu yang berbeda. Sedangkan Klaim nasionalis bukanlah punya PDI-P semata ada Gerindra, Demokrat, Nasdem yang juga rajin memakai baju identitas nasionalis saat berkomunikasi. Sehingga banyak pilihan bagi rakyat nasionalis dalam menentukan pilihannya. Tinggal pilih mana yang kadar nasionalisnya paling murni dan teruji. Bukan hanya sekedar lipstik penghias bibir seksi.

Dari paparan ini efek dalam waktu dekat adalah pilkada Jabar 2018. Megawati harus lebih melek melihat realitas siapa calon yang bakal di majukan. Ada kemungkinan tokoh populer Ridwan Kamil yang lebih dulu dipinang Nasdem. Pilihan rasional, tapi ingat Jabar bukan DKI. Berkaca pada Pilpres 2014, Jokowi yang didukung PDI-P babak belur di Provinsi Jabar. Terlebih Jabar adalah kandang sang musuh bebuyutan yaitu PKS. Fakta Ahok yang didukung PDI-P saja di DKI dengan pencitraan media yang luar biasa harus tergusur. Apalagi bila medan laga ada di Jabar, salah pilih calon atau salah strategi kampanye harus dibayar dengan tangisan yang lebih pilu dan menyakitkan.

Kedua, efek domino berikutnya adalah Ahok tidak ingin jadi pesakitan tunggal. Kalah dalam Pilkada DKI bukan hanya kekalahan personal, saya yakin Ahok adalah orang yang mudah move on dan bukan tipe peratap nasib yang selalu patuh pada siapapun, bukan juga politisi yang lihai mengendalikan emosi. Umpama singa adalah singa yang liar bisa menerkam siapapun yang mempermainkannya, agresif dan berkarakter ekskutor tulen. Babak akhir kasus penistaan agama sangat mungkin akan berujung pada penjara. Tak peduli berapapun singkatnya. Sedangkan bila Anis menjabat gubernur jajaran alat negara di bawahnya tidak bisa membela dengan sesukannya. Kiamat!!

Jangan lupa janji manis kampanye Anis-Sandi adalah menghentikan reklamasi. Di sinilah kuncinya, skandal besar yang bisa menyeret para koruptor kakap yang mungkin sangat berkuasa. Bila mega proyek ini gagal bisa jadi Ahok akan dihabisi para pengembang yang kadung mengeluarkan Triliunan rupaiah, termasuk didalamnya mahar politik dalam memuluskannya. Lepas dari problem politik yang dihadapi, kekalahan Ahok di Pilkada DKI Jakarta dinilai akan membuka tabir aneka skandal korupsi (KKN) APBD DKI dan permainan politik uang selama ini. 

Sebab, secara manusiawi, Ahok yang dalam situasi tertekan karena kekalahan maupun terancam masuk penjara dalam kasus penistaan agama akan bertindak nekat, dan menyeret semua. Tidak mustahil Ahok akan berbalik sikap membeberkan segala kasus KKN APBD DKI, skandal pembelian Rumah Sakit Sumber Waras, kasus Transjakarta, proyek reklamasi Teluk Jakarta, dan deal-deal politik uang. Bahkan Ahok berpotensi lebih hebat dari Nazarudin sebagai wistle blower dalam mengungkap kotak hitam mega korupsi. Semoga!!

Ketiga, peluang Jokowi untuk pilpres 2019 semakin berat. Sebagai kader PDI-P dan petugas partai besutan Megawati, Jokowi harus segera lepas dari citra Megawati sebagai efek pendulang suara. Mengingat kalahnya Megawati effect dalam pilkada DKI bisa jadi pelajaran berharga. Belum lagi ada dua kader contoh terbaik dalam etalase PDI-P yaitu Ganjar Pranowo gubernur Jateng dan Olly Dondokambey gubernur Sulut yang dulu digadang-gadang sebagai kader terbaik ternyata disebut-sebut terlibat dalam skandal mega korupsi E-KTP yang merugikan negara 2,3 triliun meskipun belum terbukti tapi semakin menambah orang mulai ragu pada PDI-P dan Megawati. De Javu!!

Terlebih saat menyeret-nyeret Jokowi dalam persoalan reklamasi yang berujung pada pemecatan Menko Kemaritiman Rizal Ramli akibat sang menteri dengan berani menghentikan proyek reklamasi teluk Jakarta, Ahok berujar dengan vulgar bahwa Jokowi tidak bisa jadi presiden tanpa pengembang. Ujaran yang mungkin bisa disalah persepsikan.

Satu lagi hal yang merugikan Jokowi adalah beberapa OTT di hari tenang jelang pilkada DKI dengan sembako murah, sapi, kursi roda dll yang dikawal aparat negara secara nyata dan vulgar untuk mengarahkan masyarakat mencoblos paslon no. 2 Ahok-Djarot. Kenapa merugikan Jokowi sebab fenomena kecurangan brutal tersebut membuat mantan komisioner KPU, Chusnul Mar’iyah menulis surat terbuka pada Presiden Jokowi melalui akun FB nya dengan sebuah kata yang nylekit “Sekali lagi apakah bapak menang pilpres 2014 dengan JUJUR dan halal?”. Pertanyaan tersebut wajar mengingat Jokowi terpilih sebagai presiden melaui gerbong pendukung dan mesin politik yang sama dengan yang dipakai Ahok saat maju dalam pilkada DKI 2017. Biarkan rakyat yang menilai!!

*****

Dinamika politik mengalir cepat, sehingga orang mudah cepat lupa. Efek domino inipun mungkin bisa terjadi bisa juga tidak. Semuanya hanya prediksi yang berdasarkan realita yang terjadi. Hanya takdir Tuhan lah yang menentukan segala. Semoga Indonesia baik-baik saja.

Salam Sejahtera!!