Mohon tunggu...
Zahrotul Mujahidah
Zahrotul Mujahidah Mohon Tunggu... Guru - Jika ada orang yang merasa baik, biarlah aku merasa menjadi manusia yang sebaliknya, agar aku tak terlena dan bisa mawas diri atas keburukanku

Guru SDM Branjang (Juli 2005-April 2022), SDN Karanganom II (Mei 2022-sekarang) Blog: zahrotulmujahidah.blogspot.com, joraazzashifa.wordpress.com

Selanjutnya

Tutup

Gaya Hidup Pilihan

Belajar Menemukan Sebab-Akibat dari Perilaku Tertentu pada Diri Anak

27 Maret 2020   09:57 Diperbarui: 27 Maret 2020   10:51 310
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi: popmama.com

Hampir dua minggu anak-anak belajar di rumah. Kebijakan dinas yang "merumahkan" siswa sementara waktu ini tentunya membuat jenuh anak-anak. Ya meski sebenarnya mereka masih bisa berinteraksi dengan sesama saudara satu sekolahnya yang rumahnya tinggal menyeberang gang.

Tak Pinjami Handphone, Kecuali ada bapaknya di rumah

"Ibu pinjami hand phone satu jam. Tapi gantian ya. Nggak boleh berebut!"

Anak-anak menyepakati persyaratan itu. Namun, namanya anak-anak, kesepakatan hanya dianggap angin lalu. Akhirnya mereka ribut karena handphone saya minta kembali. Salah satu anak merasa belum pegang hand phone. Dan itu berulangkali terjadi.

Belajar dari peristiwa yang sering terjadi tersebut, saya pastikan mereka tidak pinjam hand phone saya karena salah satu anak yang "menguasai" dibanding yang lain. Alhasil ribut dan nangis-nangis. Jadi cara aman, tak saya pinjamkan hand phone meskipun mereka merengek-rengek.

Dari kasus ini anak-anak bisa belajar sebab akibat. Jika tidak menuruti kesepakatan maka tidak ada fasilitas hand phone meski hanya sebentar. Mereka akan belajar disiplin membagi waktu peminjaman handphone agar merasa diperlakukan adil.

Anak-anak bisa pinjam hand phone bapaknya. Itupun kalau bapaknya berada di rumah karena anak-anak pasti akan menuruti perkataan bapaknya. Disuruh mengembalikan handphone, pasti buru-buru mereka menyerahkan handphone-nya.

Televisi menjadi pilihan bagi anak

Ilustrasi: indozone.com
Ilustrasi: indozone.com
Setelah selesai mengerjakan tugas pembelajaran, anak-anak akan menyetel televisi. Salah satu cara membuang rasa gabutnya. Mereka sadar kalau saya termasuk sebagai ibu yang galak dalam hal hand phone. 

Tayangan kartun dinikmati anak-anak dengan sering memindah channel televisi. Namun kadang anak menonton sinetron horor. Tentu tayangan tersebut kurang pas disaksikan anak-anak.

Film horor yang memang menakutkan bisa berdampak buruk juga. Anak bisa ketakutan dan mengingau saat tidur. Orang Jawa bilang anak akam kagum-kagum. Ada perasaan takut dalam gelap, mendengar suara tertentu dan tidak bisa tidur nyenyak.

Sekali lagi anak ngeyel ketika saya peringatkan untuk memindah channel televisi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Gaya Hidup Selengkapnya
Lihat Gaya Hidup Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun