Zahrotul Mujahidah
Zahrotul Mujahidah Guru

Blog: zahrotulmujahidah.blogspot.com, joraazzashifa.wordpress.com

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Siti Walidah, Kartini dari Muhammadiyah, Pejuang Literasi

23 April 2019   07:47 Diperbarui: 23 April 2019   08:07 59 8 1
Siti Walidah, Kartini dari Muhammadiyah, Pejuang Literasi
Gambar: pekalonganmu.com

Di Yogyakarta tujuh tahun sebelum Kartini lahir seorang pahlawan perempuan dilahirkan dengan nama Siti Walidah. Tepatnya tanggal 3 Januari 1872. Dia lebih dikenal sebagai Nyai Ahmad Dahlan, istri KH Ahmad Dahlan. Dia adalah tokoh emansipasi perempuan.

Nyai Ahmad Dahlan dinyatakan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia oleh Presiden Soeharto pada tanggal 10 November 1971 sesuai Keputusan Presiden Nomor 42/TK Tahun 1971.

Mendampingi suami yang berkiprah di organisasi Muhammadiyah, Walidah turut berjuang. Sosok suaminya menginspirasi untuk ikut andil berjuang meski mendapatkan ancaman-ancaman karena pandangan Muhammadiyah tentang keagamaan bertentangan dengan ajaran yang berkembang saat itu. 

Sapa Tresna dan Aisyiyah sebagai Perjuangan Dunia Literasi 
Tak dapat dipungkiri Muhammadiyah memiliki AUM atau Amal Usaha Muhammadiyah baik di bidang pendidikan, sosial, kesehatan dan sebagainya. 

Amal usaha yang berhubungan dengan pendidikan adalah berdirinya sekolah-sekolah Muhammadiyah yang sampai saat ini masih ikut andil dalam memajukan pendidikan di Indonesia. Dalam pengembangan amal usahanya para warga Muhammadiyah berjuang tanpa pamrih. Hidup-hidupilah Muhammadiyah, jangan mencari penghidupan di Muhammadiyah.

Dalam mendukung kiprah Ahmad Dahlan, pada tahun 1914 ia mendirikan Sapa Tresna ---baca Sopo Tresno---. Sapa Tresna fokus mengajarkan membaca dan menulis. Selain itu secara bergantian dia dan suaminya memimpin kelompok tersebut dalam membaca Al Qur'an dan mendiskusikan maknanya. Bahkan akhirnya juga mulai menerjemahkan ayat-ayat Al Qur'an yang membahas isu-isu atau masalah perempuan. 

Dengan aktivitas di Sapa Tresna Ahmad Dahlan dan Walidah memperlambat Kristenisasi yang dikembangkan sekolah yang disponsori oleh pemerintah Belanda.

Bersama suami dan beberapa pemimpin Muhammadiyah lainnya, Nyai Ahmad Dahlan membahas peresmian Sapa Tresna sebagai kelompok atau organisasi perempuan. Kemudian karena ada penolakan maka diputuskan berganti nama. Nama yang dipilih adalah Aisyiyah, berasal dari nama isteri Nabi Muhammad, yakni Aisyah.

Organisasi Aisyiyah diresmikan pada tanggal 22 April 1917 dan menjadi bagian dari Muhammadiyah lima tahun kemudian. Melalui Aisyiyah ini kemudian berdiri dan berkembanglah sekolah-sekolah putri dan asrama serta keaksaraan dan program pendidikan Islam bagi perempuan. 

Menurut Walidah seorang perempuan yang telah menikah adalah mitra dari suami mereka. Bukan seperti yang membudaya pada masyarakat Jawa yang patriarki. Dalam mendidik anak membutuhkan kerjasama antara suami dan istri. 

Bahkan nantinya dalam mendidik generasi bangsa  juga melibatkan banyak pihak, tak sekadar suami istri. Akan tetapi ada Catur Pusat yaitu pendidikan di rumah, pendidikan di sekolah, pendidikan di masyarakat, dan pendidikan di tempat-tempat ibadah secara kompak.

Jiwa Walidah yang membara dalam memajukan dunia literasi memang bisa menjadikan inspirasi sekaligus motivasi para perempuan Indonesia pada umumnya, dan muslimah Indonesia khususnya.

Di tengah ancaman yang diterima keluarga, dia tetap berjuang memajukan pendidikan tanpa mengharap imbalan, mendedikasikan hidup untuk kemajuan negeri sungguh luar biasa. Kalaupun akhirnya perjuangan Walidah dihargai dengan ditetapkannya Walidah sebagai Pahlawan Nasional, itu bukan tujuan utama.