Harjono Honoris
Harjono Honoris Digital Marketer

A writer in progress | Pemuda Tionghoa Makassar | Sastrawan milenial | Wattpad: @harjonohonoris | Instagram: @harjonohonoris

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Aku, Non-Muslim yang Selalu Menanti-nanti Bulan Ramadan

13 Mei 2019   02:50 Diperbarui: 15 Mei 2019   23:02 1554 18 6
Aku, Non-Muslim yang Selalu Menanti-nanti Bulan Ramadan
Ilustrasi Cowok Bingung (Adrian Dascal, Unsplash)

Marhaban ya Ramadhan. Bulan yang indah dan baik bagi bagi umat Islam, baik yang berpuasa atau masih coba-coba. Bulan puasa punya Ramadhan vibes, aura baik yang berbeda dan gak akan pernah terulang di bulan-bulan lain. Kami yang gak ikutan puasa jadi gemes-gemes senang menjalani satu bulan paling suci ini.

Berikut peristiwa yang penulis selalu kenang dan nikmati di bulan ini.

1. Lagu-Lagu Religi Berkumandang

Ilustrasi Musik Islami (Bayu Ilham Sulaiman, Pexels).
Ilustrasi Musik Islami (Bayu Ilham Sulaiman, Pexels).

"Ramadhan tiba. Ramadhan tiba. Ramadhan tiba.." dan begitu terus kalimat yang terngiang-ngiang setiap jam, setiap hari, setiap apapun, jadi earworm. Sumpah demi Neptunus. Televisi dan radio yang biasanya mutar lagu pop jreng-jreng aha-aha tetiba ganti haluan jadi lagu yang syahdu, santun, dan penuh pesan untuk mendekat pada Tuhan. Tak lupa dengan tausiyah dan tips-tips berpuasa yang tampaknya membuat penulis merasa... tak relate. Mana lagu aha-ahanya?

Namun gak semua lagu religi jadi earworm ngeselin. Beberapa lagu mempunyai lirik yang sangat bagus sampai bisa nyanyi-nyanyi di jalan. "Gigi- Pintu Sorga" yang ngerock abis, "Gita Gutawa - Jalan Lurus" yang merdu, dan "Ungu - Dengan Nafasmu" yang sungguh kontemplatif. Saking menohoknya, lagu-lagu ini sempat dinyanyikan ulang dengan sedikit perubahan, di doa pagi SMA Katolik penulis.

2. Iklan-Iklan Lebay

Ilustrasi sirop (Shopee).
Ilustrasi sirop (Shopee).

Setiap iklan ada musimnya. Kalau Ramadhan, biasanya tuh akan gencar iklan produk yang berhubungan dengan kebutuhan Lebaran. Iklan department store untuk baju lebaran, iklan terigu untuk buat kue lebaran, iklan promo sembako, dan iklan sirop?

Ya tahu aja sih, sirop itu memang manis. Biasanya orang puasa itu butuh yang manis-manis untuk berbuka, tapi iklannya memang harus semewah itu ya? Perhatikan aja, ada buah-buahan jatuh dalam percikan air warna-warni. Close up buahnya, dan air siropnya menyebar kemana-mana. Sejak kapan ada orang minum sirop seperti tu? Berantakan woy! Entar semutan!

Musim Ramadhan tetap ada, tapi zaman berganti. Menyadur perkataan sang Bapak Marketing Hermawan Kartajaya, bisnis zaman digital itu harus menjalankan storytelling yang kuat untuk membuatnya jadi bahan obrolan komunitas online dan offline. Kemudian, berbondong-bondong iklan bercerita tentang malasnya anak muda mudik, karena ogah ditanyain "Udah kerja? Udah punya pacar? Kapan nikah?" Penulis semakin merasa gak relate.

Beneran.

3. Menggoda Teman yang Berpuasa

Anak SMA Indonesia (Agus ZH, Pexels)
Anak SMA Indonesia (Agus ZH, Pexels)

Setelah nyadar bahwa iklan sirop itu memang sengaja buat orang ngiler, timbul pikiran jahil. Kapan lagi bisa menggoda teman hanya dengan buat mereka ngiler, dan mereka pun gak boleh marah kalau dijahilin?

Penulis kembali ingat masa-masa SMA. Ada beberapa teman kelas berpuasa yang sudah punya reputasi anak nakal, dan tiba-tiba jadi lebih pendiam. Sebut saja namanya Anto. Kalau zaman teknologi ini ganggu temannya dengan kirim foto-foto makanan minuman via chat, zaman itu langsung di depan mata.

Kantin sekolah masih buka di bulan puasa. Gak ada tirai, gak ada tutup-tutupan, dan bisa bawa pulang jajanannya ke kelas. Murid-murid membawa bakso tusuk, nasi kuning, gorengan, es kelapa, teh poci, dll. ke kelas, dan si Anto itu ada di sana, tiduran.

"Lihat nih Anto apa ini? Baksooo. Nyam," seorang teman menggoyang-goyangkan bungkusan plastik isi bakso bertusuk-tusuk di depan matanya. Baksonya becek dengan saus sambal dan tomat, lalu dihampiri tepat di depan hidungnya. Anto menelan ludah tanda pengen kayak ngeliat film biru, berusaha tidur lagi. Tak lama, dia terkaget karena sesuatu yang dingin menimpa pipinya. "Apa itu?" tanyanya. "Oh nggak, ini teh poci tadi kutempel di pipimu. Seger kan? Teh poci campur Nutrisari lagi," dan dia pun menyeruput sruuutt tepat di telinga Anto. Anto nyaris kesurupan andai dia tidak keluar dari kelas.

Iya, kami memang layak masuk neraka jahanam.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2