Mohon tunggu...
Jonny Hutahaean
Jonny Hutahaean Mohon Tunggu... tinggi badan 178 cm, berat badan 80 kg

Sarjana Strata 1, hobby membaca

Selanjutnya

Tutup

Politik

Ahok-HRS

13 November 2020   17:22 Diperbarui: 13 November 2020   17:33 113 4 0 Mohon Tunggu...

Dua orang ini, Ahok dan HRS, dari sudut pandang kemampuan membentuk pengikut fanatik, mereka berdua adalah mahluk terhebat saat ini. Bayangkan, banyak politikus yang berhasrat menumpang ke perahu mereka berdua. Kalau dicermati lebih dalam, mereka berdua sesungguhnya saling membesarkan. Kasus Ahok (tuduhan penistaan) melambungkan nama HRS sebagai garda terdepan pembela agama, dan respon balik HRS melambungkan nama Ahok menjadi manusia paling tegar sejagad raya dalam menghadapi tekanan. Bagaimana tidak, Ahok maju sendirian menghadapi kerumunan massa, bahkan penjara membuatnya tampak semakin tegar.

Siapa pemenang? ..... keduanya. Sebelumnya, Ahok hanya seorang gubernur di DKI dan HRS hanya ketua FPI, sesudahnya, mereka berdua melambung melebihi posisi awal, menjadi simbol.

Apa yang dikatakan Soekarno terbukti, tunjukkan siapa musuhmu, maka aku tahu siapa kau.

Tetapi beginilah yang selalu terjadi, ketika seseorang sudah bertransformasi menjadi simbol, saat itulah godaan terberat datang. 

Simbol sangat rentan berubah menjadi kebenaran mutlak, simbol sangat berpotensi menuntut kesetiaan mutlak, simbol sangat mungkin menyebabkan kaki tidak berpijak ke bumi, simbol sangat potensial menuntut pemujaan. Simbol sangat mudah dibelokkan menjadi kesucian yang tidak boleh dipertanyakan, apalagi diganggugugat.

Mari berandai-andai, dan kita andaikan Ahok dan Anies bertarung di pilkada Gubernur DKI 2017 tetapi tanpa tuduhan penistaan agama, siapa yang berani memastikan bahwa Anies pasti kalah? ... dan jikapun Anies kalah, apakah Ahok akan menang mudah dan mutlak? .... saya pikir tidak demikian. Jadi kesimpulan saya adalah, tuduhan penistaan agama yang mendera Ahok hanya  menyebabkan sebagian suara umat Islam yang sebelumnya ke Ahok dialihkan ke Anies, Anies -- Sandi 57,96%, Ahok -- Djarot 42,04%. Perlu diketahui, 83,3% penduduk DKI adalah umat Islam, hanya 16,7% selain Islam.

Cermatilah perolehan suara Ahok -- Djarot yang 42,04%, bandingkan dengan 16,7% penduduk DKI non muslim, gunakan matematika level dasar (SD), kesimpulannya adalah 60,2% suara Ahok berasal dari umat Islam (hati-hati membaca hal ini), jika dihitung secara total maka 30,4% umat Islam DKI memberikan suaranya ke Ahok. Hitungan ini dengan asumsi bahwa semua umat non muslim memberikan suara ke Ahok, pada hal tidak demikian. Kesimpulan akhir, lebih dari 30,4% umat Islam DKI memberikan suara ke Ahok -- Djarot, dan kurang dari 69,6% memilih Anies - Sandi.

Mengapa hitungan ini perlu? ... untuk mematahkan dalil bahwa sang simbol mewakili semuanya. Sebabnya, jika simbol itu benar mewakili semuanya, Anies -- Sandi seharusnya menang dengan raihan suara minimum 83,3%, sedangkan Ahok -- Djarot seharusnya kalah mutlak dengan perolehan suara maksimum 16,7%.

Mari kita tinjau dari sisi Anies -- Sandi. Kita buat pengandaian yang ekstrim, bahwa tanpa tuduhan penistaan agama, Anies --Sandi akan kalah telak dengan raihan suara 30% terhadap 70% suara Ahok-Djarot. Asumsi ini berdasarkan tingkat kepuasan warga DKI terhadap kinerja Ahok -- Djarot sebelum pilkada yang mencapai 72%.

Matematika yang perlu masih tetap level dasar (SD), untuk tiba pada kesimpulan bahwa tanpa sang simbol, Anies -- Sandi akan meraih minimum 36% suara umat Islam DKI. Perhatikan, hitungan itu berdasarkan asumsi kekalahan yang sangat ekstrim.

Terakhir, dengan bantuan sang simbol, Anies -- Sandi meraih 69,6% suara umat Islam DKI. Kesimpulan: Meskipun harus diakui bahwa sang simbol berperan besar, tetapi secara matematis peran Anies -- Sandi lebih besar untuk memenangkan pilkada. Tetapi di dalam politik, satu suara terakhir dapat sangat menentukan siapa yang menjadi pemenang.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x