Mohon tunggu...
Jonny Hutahaean
Jonny Hutahaean Mohon Tunggu... tinggi badan 178 cm, berat badan 80 kg

Sarjana Strata 1, hobby membaca

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Hiperinflasi Nilai Rapor Siswa

22 Maret 2017   17:12 Diperbarui: 23 Maret 2017   19:53 815 9 6 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Hiperinflasi Nilai Rapor Siswa
Ilustrasi/Kompasiana (Shutterstock)

Inflasi nilai uang itu mencemaskan. Bayangkan jika daya beli sejumlah tertentu uang semakin menurun seturut aliran waktu. Atau dengan kata lain, untuk memperoleh barang yang fungsinya sama pada masa depan, Anda harus bekerja lebih keras, itulah inflasi nilai uang.

Saat SD tahun 1970-an, sebutir permen cukup ditukar dengan koin uang Rp 5, maka pada tahun 2017, sebutir permen yang memiliki rasa yang sama diperoleh dengan koin uang Rp 500. Kuliah tahun 1980-an di PTN cukup dengan biaya Rp 27.000,0- per semester, sekarang menjadi Rp 8.000.000,0- per semester, yang paling murah.

Tetapi inflasi ekonomi itu bisa dideteksi dan bisa diantisipasi. Bahkan inflasi ekonomi dalam rentang tertentu adalah baik dan perlu, sebab itu memacu roda ekonomi, meningkatkan gairah berinvestasi, dampak selanjutnya adalah terciptanya lapangan kerja. Tetapi inflasi ekonomi di luar batas itu, memang akan mencekik konsumen, dalam hal ini rakyat.

Yang menakutkan adalah inflasi nilai-nilai moral. Hal pertama yang terlihat adalah “inflasi nilai rapor sekolah”. Mengacu ke nilai rapor, jika pemeringkatan mutu pendidikan global dilakukan hanya dengan cara mengumpulkan fotocopy rapor setiap jenjang pendidikan, amat sangat mungkin “mutu pendidikan” kita sangat baik, bahkan yang terbaik di seluruh dunia, jauh meninggalkan negara lainnya, Negara yang mana pun itu.

“Nilai yang tertulis di rapor” tidak mencerminkan kemampuan atau kompetensi yang sesungguhnya, itulah yang saya maksud inflasi nilai rapor. Nilai rapor yang terendah untuk Sains adalah 7,5 dari skala 10, maka nilai rata-rata rapor secara nasional untuk bidang sains pasti di atas 7,5, suatu nilai rata-rata yang tinggi dan baik.

Masalahnya adalah, banyak saya temukan siswa kelas 3 SMA IPA yang nilai di rapor 9,0 untuk bidang studi Fisika, tetapi melakukan konversi satuan tidak mampu. Begitu pun nilai 9,0 pada bidang studi Matematika, tetapi untuk soal 1/3 + 1/5 dijawab dengan 2/8. Bukan sekadar inflasi, tetapi sudah pada taraf hiperinflasi.

“Inflasi nilai rapor” terlihat sederhana, tetapi sebenarnya mengandung informasi akurat tentang keseluruhan karakter bangsa. Di situ tergambarkan dengan baik karakter masyarakat (orang tua) yang kebanggaannya terletak pada rapor anaknya. Di situ terekam niat pemerintah untuk mengelabui masyarakat agar terlihat bahwa pendidikan maju pesat, terekam juga karakter sekolah yang mengelabui pemerintah agar terlihat sukses, saling mengelabui.

Tiap tahun menjelang ujian nasional, Pemda DKI selalu mengadakan try-out berulang-ulang, yang pada akhirnya ternyata soal-soal yang diujikan saat try-out itu sangat dekat kemiripannya nanti dengan soal-soal UN. Masyarakat senang, siswa senang, orang tua senang, dan mereka semua berterima kasih ke sekolah yang sangat perhatian itu. Sekolah senang, nilai rata-rata UN siswa menjadi tinggi, pemerintah memberikan nilai tinggi ke sekolah. Pemerintah senang, karena mereka kini dapat menyiarkan ke masyarakat dengan bangga, pendidikan maju pesat.

“Inflasi Nilai Rapor” pasti berdampak sangat buruk ke masa depan bangsa, karena itu tidak terasakan sekarang, selanjutnya tidak perlu dipikirkan, selanjutnya tidak perlu dicemaskan. Bukan soal nilai di rapor, tetapi pandangan kita yang begitu memuja nilai rapor, itu yang menjadi masalah.USBN tingkat SMA tahun 2017, kejadian yang persis sama terulang, dan tampaknya akan terus terulang lagi pada masa depan. Hiperinflasi nilai rapor itu membuat saya sangat cemas. Bagaimana dengan Anda?

VIDEO PILIHAN