Jonathan Suek
Jonathan Suek Urban Planner and Transport Enthusiast

keturunan Rote-Manado-Jawa, lahir di Bandung, tumbuh di Jakarta, kuliah di Semarang ~ belajar nulis dengan perspektif sebagai perencana wilayah dan kota

Selanjutnya

Tutup

Gayahidup Artikel Utama

Mengapa Kita Memilih Naik Kendaraan Pribadi?

18 Februari 2018   22:01 Diperbarui: 19 Februari 2018   09:25 3191 11 8
Mengapa Kita Memilih Naik Kendaraan Pribadi?
Ilustrasi: Standard.co.uk

Apakah kamu pernah bertanya pada diri sendiri tentang pertanyaan di atas? kebanyakan orang akan menjawab angkutan pribadi lebih fleksibel, hemat, mudah, dan sebagainya.

Jika Anda masih memiliki jawaban yang sama, maka itu memang benar. Saya menyetujui bahwa saat ini menggunakan kendaraan pribadi lebih fleksibel, hemat dan mudah jika dibandingkan dengan menggunakan kendaraan umum*. Saya membubuhi tanda bintang (*) untuk mengecualikan pada beberapa kondisi, karena saya ingin mengajak Anda untuk memahami mengapa anda bertransportasi.

Perlu disadari secara seksama bahwa setiap manusia memiliki kebutuhan hidup, di mana kebutuhan hidup tersebut tidak bisa dipenuhi pada satu tempat yang sama. Hal inilah yang membuat kita perlu berpindah tempat dalam rangka memenuhi kebutuhan diri sendiri ataupun kebutuhan keluarga. Misalnya, kita butuh pemasukan, sehingga kita melakukan perjalanan bekerja untuk sampai ke kantor.

Seorang ibu pergi ke super market untuk berbelanja kebutuhan rumah tangga. Seorang anak pergi ke sekolah dan setelahnya ke tempat bimbel untuk tujuan belajar. Dan masih banyak contoh lainnya. Pada prinsipnya, setiap aktivitas yang kita lakukan cenderung membutuhkan perjalanan.

Apakah ada aktivitas yang tidak melakukan perjalanan? Sepertinya hampir tidak ada, kecuali Anda telah melakukan trade-off. Misalnya, Anda lapar tetapi sedang hujan, sehingga Anda menggunakan layanan online. Itu pun belum tepat, untuk kasus ini memang Anda tidak berpindah tempat, tetapi ada orang lain (tukang ojek online) yang menggantikan perjalanan Anda. 

Contoh lain, Anda butuh hiburan tetapi sedang ingin berhemat, sehingga Anda memilih menonton film di rumah sebagai ganti pergi ke bioskop. Contoh ke dua merupakan contoh yang lebih tepat tentang aktivitas yang tidak membutuhkan perjalanan karena telah melakukan trade-off. Dengan kata lain, perjalanan merupakan permintaan turunan dari melakukan aktivitas.

Kepentingan suatu aktivitas yang akan dilakukan juga menentukan pilihan kendaraan yang kita gunakan. Karakteristik aktivitas dapat dibagi berdasarkan dimensi waktu dan tempat, sehingga ada 4 klasifikasi yaitu:

  1. Waktu dan tempat tetap, 
  2. Waktu tetap dan tempat fleksibel, 
  3. Waktu fleksibel dan tempat tetap, dan 
  4. Waktu dan tempat fleksibel. 

Klasifikasi (1) contohnya aktivitas kerja. (2) contohnya aktivitas untuk makan. (3) contohnya aktivitas pergi ke bioskop. (4) contohnya aktivitas liburan. Setiap klasifikasi mempunyai tingkat kepentingannya, sehingga kita memilih moda yang sesuai dengan kondisi transportasi di lingkungan kita tinggal. Kita akan memperhitungkan jarak tempuh, waktu tempuh, dan biaya perjalanan. 

Selain itu ada juga faktor kenyamanan dan keamanan dalam melakukan perjalanan. Hal-hal itulah yang secara tidak sadar Anda pertimbangkan, sehingga lebih memilih menggunakan kendaraan pribadi.

Bagaimana cara mengendalikan perilaku ini? Beberapa ahli menyebutkan bahwa sembari sistem layanan transportasi diperbaiki, pemerintah juga harus mempersulit penggunaan kendaraan pribadi. 

Misalnya dari menaikan pajak motor atau harga BBM, kebijakan ganjil-genap, penerapan Electronic Road Pricing, jalan satu arah bahkan bisa juga dengan tidak menyediakan tempat parkir. Jika semua itu dilakukan, apakah Anda masih ingin naik kendaraan pribadi? Jadi, jika pemerintah melakukan salah satu kebijakan-kebijakan tersebut, itu semata-mata untuk menstimulus para pengguna kendaraan pribadi untuk beralih menggunakan kendaraan umum.

Tapi, mengapa banyak masyarakat yang mengeluh? Bisa jadi karena perencanaan rute transportasi umum tidak sesuai dengan kebutuhan harian masyarakat. Perencanaan transportasi masih didekati dengan pemodelan agregat yang menganggap perilaku perjalanan individu masyarakat kota sejenis. 

Apabila pemerintah (minimal tingkat kota) mau menghimpun rutinitas masyarakatnya, maka pemerintah dapat mengetahui pola perjalanan warganya. Dengan memahami pola perjalanan yang terbentuk, pemerintah akan terbantu dalam pengambilan kebijakan transportasi dan manajemen permintaan perjalanan.

Tidak ingin hanya menyalahkan pemerintah, kita sebagai masyarakat pun perlu mengurangi peluang dalam melakukan perjalanan dengan terlebih dahulu melakukan penjadwalan aktivitas. Dengan perencanaan kegiatan harian, kita dapat mengurangi perjalanan spontan. 

Kita juga dapat memperbanyak trade-off dengan cukup melakukan beberapa aktivitas di rumah. Hal-hal tersebut akan mengurangi beban jalan dan kemacetan. Selain itu, kita bisa sesekali mempertimbangkan keselamatan berkendara dan polusi udara sebagai biaya perjalanan, dan/atau kenyamanan ketika dapat tidur di bus selama perjalanan. Hal tersebut semata-mata untuk meningkatkan nilai tambah penggunaan kendaraan umum yang akan Anda dapat.

Utilitas yang didapat dari penggunaan kendaraan pribadi memang lebih besar. Namun, selama ada pilihan, coba pilihlah naik kendaraan umum, karena jalan tidak mampu untuk menampung seluruh kendaraan pribadi masyarakatnya.