Mohon tunggu...
Jolene Effendi
Jolene Effendi Mohon Tunggu... SDH LV

:)

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Alam & Teknologi

Pencemaran Tanah di Desa Sukamulya akibat Limbah Pabrik dalam Sungai Citarum

11 Mei 2021   15:20 Diperbarui: 11 Mei 2021   15:46 124 0 0 Mohon Tunggu...

Kerusakan lingkungan hidup di Indonesia semakin hari semakin memburuk. Kondisi di Indonesia secara langsung bisa mengancam kehidupan manusia. Tingkat kerusakan alam pun meningkatkan risiko bencana alam. Dua faktor penyebab kerusakan alam adalah peristiwa alam dan akibat ulah manusia. 

Pada Februari 2017, di Desa Sukamulya, Kecamatan Rancaekek, dan dengan spesifik di tempat Awim menggarap lahan seolah menjadi pemandangan lumrah. Sawah pertanian yang dimilikinya penuh dengan limbah pabrik. Anak sungai Citarum yang melintasi wilayah tersebut memang sudah biasa dijadikan tempat pembuangan limbah pabrik. 

Awim berkeluh kesah melihat limbah pabrik dalam sawahnya. Biaya yang harus Ia keluarkan untuk panen pada saat itu menjadi dua kali lipat seharusnya. Belum lagi biaya transportasi dan biaya lainnya yang harus Ia tanggung. Ia mengaku bahwa aliran air yang mengarah ke sawahnya lupa Ia tutup  yang menyebabkan pencemaran ini.

Pabrik yang telah membuang limbah pada malam itu, telah melanggar UUD nomor 32 tahun 2009 mengenai perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup. Padahal, dari hasil pengawasan, rata-rata pabrik sudah memperbaiki Instalasi Pengolahan Air Limbah, atau yang kita sebut dengan IPAL. Salah satu konsekuensi berjatuh pada PT How Are You Indonesia yang merupakan salah satu pelaku pencemaran sungai, konsekuensi yang harus ditanggapi adalah membayar ganti rugi materil sebesar Rp 12,013 milyar.

Mendengar cerita dari Awim, Ia berkata bahwa pada tahun 1970-an setiap kali panen bisa menghasilkan sekitar 8 ton padi. Namun, semenjak limbah pabrik dan asap batubara meningkat, padi sering menjadi hampa. Bukan itu saja, setelah air terkontaminasi limbah cair, produksi padi menurun. Saat ini, para petani hanya bisa panen 3 sampai 4 ton gabah basah. Para petani juga telah melaporkan bahwa limbah yang dikeluarkan berwarna-warni, berbau menyengat dan bertemperatur tinggi. 

Penelitian pada tahun 2002 juga telah mengatakan bahwa bahan kimia berbahaya seperti Pb dan Kadmium (Cd) telah ditemukan dalam tanah sawah lapisan olah. Zat-zat lain seperti kromium ditemukan dalam jerami dan beras. Wilayah Rancaekek merupakan salah satu lumbung padi di Bandung Raya. Namun, semenjak industri tekstil dikembangkan, medio 1970-an berubah. Zat yang terkandung dalam tekstil yang diketahui ada; Asam Klorida, Sodium Nitrite, HIdrogen Peroksida, dan Sodium Karbonat.

Walhi Jawa Barat juga sudah mengatakan bahwa Citarum tidak hanya kotor, tapi juga beracun karena sarat kandungan logam berbahaya dari limbah pabrik. Kemudian, pada 22 Februari lalu, Presiden Jokowi telah meresmikan mulainya program Penanggulangan Pencemaran dan Kerusakan Daerah Aliran Sungai Citarum di hulu Citarum. Setelah bertahun-tahun masuk dalam daftar sungai kotor di dunia. Kerusakan lingkungan sering terjadi akibat perilaku manusia sendiri karena mereka cenderung tidak bertanggung jawab atas limbah yang mereka hasilkan.

VIDEO PILIHAN