Mohon tunggu...
Gus Memet
Gus Memet Mohon Tunggu... Relawan - Santri Kafir

Ada dari satu suku kata

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Nilai dan Kemasan Berita, Perlukah?

4 Desember 2022   17:46 Diperbarui: 4 Desember 2022   17:58 135
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
sumber ilustrasi: throughlinegroup.com

Dalam dunia jurnalistik, layak tidaknya suatu peristiwa untuk diberitakan lazimnya diukur dengan kadar unsur-unsur tertentu yang disebut nilai berita (news values). Sedikitnya ada 7 anasir news values, walau belakangan berkembang hingga 10 unsur, dengan urutan prioritas beragam. Yang tujuh itu adalah: impact, proximity, timeliness, prominence, oddity, relevance, dan conflict. Mengapa urutan prioritas nilai berita tidak baku? Begini gambarannya:

Luasan dampak (impact), bisa menjadi nilai berita terpenting suatu peristiwa untuk diberitakan dibanding peristiwa lain. Misalnya KTT G20 atau perang Putin nilai impact-nya lebih besar dibanding gempa bumi Cianjur atau kasus Duren Tiga. Namun demikian, frekuensi pemberitaan kasus Duren Tiga dan gempa Cianjur bisa jadi lebih tinggi karena kedua peristiwa mempunyai proximity (kedekatan) yang lebih intens terhadap audiens di Indonesia dibanding perang Putin. Sementara buat orang Malang, peristiwa tragedi Kanjuruhan lebih menyita perhatian publik tersebab nilai kedekatan itu.

Jadi, bisa dipahami ketika suatu peristiwa menyeruak sebagai berita utama di ruang publik, pasti ada setidaknya satu nilai berita (atau lebih) yang menonjol dalam peristiwa itu. Fenomena viralnya suatu berita, konten, atau postingan di media sosial pun tak lepas dari nilai berita yang dikandungnya. Kelakuan absurd bocil-bocil penghadang truk di jalanan misalnya, mengandung unsur oddity (keanehan/fenomena absurd) yang kental sehingga menyita perhatian. KDRT pasangan Lesllar lebih "menarik" diberitakan ketimbang ratusan, mungkin ribuan, kasus KDRT yang terjadi dalam rumah tangga non publik figur karena faktor prominence (ketokohan) walau keduanya memiliki nilai keterkaitan (relevance, atau bahasa Jakselnya: relate)  dengan audiens.

Sama-sama berita soal Jendral TNI, kabar sahih terpilihnya Laksamana Yudo Margono sebagai Panglima TNI tak semenggelitik kabar burung ketidakharmonisan antara Panglima TNI Andika Perkasa dan KSAD Jendral Dudung Abdurachman yang beredar sebelumnya. Ya, pertentangan (conflict) lebih menarik diberitakan ketimbang peristiwa yang lurus-lurus saja.

So, sudah cakap mengidentifikasi news values? Siap nulis berita heboh? Tunggu dulu. Walau di masa sekarang ini kadang dianggap tidak penting, sebenarnya dituntut kepiawaian jurnalistik untuk mengemas nilai-nilai berita itu sehingga suatu peristiwa menjadi berita menarik.

Misalnya, jika media yang digunakan untuk mentransmisikan berita adalah media cetak, penguasaan atas penulisan berita yang baik (struktur, diksi, tata dan gaya bahasa, tipografi, desain grafis, editing, dan seterusnya) adalah syarat mutlak. Siaran radio, selain butuh kecakapan menulis, juga perlu kecakapan vokal (timbre, frekwensi, artikulasi. dan seterusnya) untuk mentransmisikan berita.

Menyajikan berita melalui media audiovisual aids (televisi, dan sekarang youtube atau platform media sosial lain) jelas butuh kecakapan yang lebih kompleks. Jangan heran kalau kosmetika, minimal filter, (di luar sederet prasyarat primer) menjadi unsur signifikan dalam penyiaran berita di tivi atau podcast, atau sekadar vlog pribadi.

Tadi disebut bahwa kepiawaian mengemas (dan mentransmisikan) sebagai faktor penting produksi berita berkualitas, kadang diabaikan demi nilai berita yang di jaman serba cepat ini didudukkan di prioritas tertinggi: timeliness alias kecepatan. Semakin cepat suatu peristiwa diberitakan, semakin besar daya tariknya bagi audiens. Itu salah satu sebab media massa cetak gulung tikar dihajar media digital yang jauh lebih cepat menyajikan berita. Adanys proses produksi media cetak (liputan, penulisan, penyuntingan, desain grafis, hingga naik cetak) jelas tidak memungkinkan untuk penyajian berita dalam format realtime.

Breaking news, siaran langsung, live streaming di medsos lebih digandrungi walau kemasannya berantakan dibanding berita yang terkemas rapi jali tapi lambat disiarkan. Bagi football lovers yang tak bisa nonton siaran langsung Piala Dunia Qatar, score update di stasiun tivi yang hanya bermodal slideshow foto-foto dari kantor berita Associated Pers (AP) lebih diminati ketimbang cuplikan video di stasiun lain yang tayang 30 menit lebih lambat.

Ilustrasi tadi menggambarkan betapa pengedepanan timeliness dalam produksi berita sering mengorbankan kualitas penyajiannya. Kecepatan acap mengabaikan kepatutan. Betapa seringnya kita mendengar  narasi berantakan reporter (jurnalis) hampir di semua stasiun tivi ketika melaporkan langsung suatu peristiwa dari tempat kejadian adalah contoh yang memprihatinkan. Begitupun dalam acara talkshow debat yang menampilkan dua pembicara berbarengan menyampaikan argumen di luar kendali moderator. Padahal, bagi yang paham, membantah argumen lawan dalam waktu bersamaan adalah salah satu teknik debat dengan tujuan mengaburkan pesan yang tengah dinarasikan lawan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun