Mohon tunggu...
Joko Windoro
Joko Windoro Mohon Tunggu... Relawan - Pelestari Keragaman Hayati

Sumberdaya alam adalah milik anak cucu, aku hanya dititipi untuk menjaga dan merawat.

Selanjutnya

Tutup

Media Pilihan

Bertengkar di Media Sosial, Apa Gunanya?

29 November 2021   21:10 Diperbarui: 29 November 2021   21:14 110 5 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
sumber ilustrasi: communityforthesoul. com

Tak selamanya peradaban manusia yang bersifat progresif mengantar lebih dekat pada kondisi ideal.

Dalam hal lingkungan hidup misalnya, kondisi ideal justru diyakini harus diupayakan dengan tindakan konservatif, bahkan regresif. Sebabnya, kemajuan peradaban cenderung tidak ramah terhadap kebutuhan akan lingkungan hidup yang ideal.

Dialektika yang bersifat dualitas itu juga terbaca dalam pola komunikasi publik belakangan ini.

Kelaziman menggunakan perangkat teknologi digital (medsos) untuk berkomunikasi saat ini, berbanding terbalik dengan frekuensi komunikasi langsung (tatap muka). Kebebasan berekspresi melalui medsos pun mereduksi banyak kaidah-kaidah yang lazim berlaku dalam komunikasi langsung, misalnya etika, tata krama, tata bahasa, gestur, dan sebagainya.

Lucunya, di satu sisi medsos mengeliminasi banyak elemen 'peradaban' zaman old, di sisi lain ia justru menyuburkan lagi beberapa kebiasaan lama yang sudah pudar. Satu contoh adalah 'berbalas pantun', mode dialog khas bangsa Melayu.

Sekarang ini tak terbilang orang saling 'berbalas pantun' melalui media sosial baik menggunakan teks, imaji (gambar, meme), maupun audio visual. Perang tagar, adu meme, bahkan saling serang memanfaatkan rekaman video bisa ditemukan di semua platform medsos.
Fenomena yang disebut terakhir kadang tampil dalam kemasan maupun isi yang sangat vulgar. 

Sulit membayangkan 'berbalas pantun' dalam format demikian bisa terjadi dalam komunikasi langsung antar sesama anak bangsa yang dikenal kaya budaya, ramah tamah, dan cinta perdamaian.

Celakanya, bukan hanya kalangan awam yang gemar bertengkar melalui media sosial. Figur publik, pejabat negara, hingga tokoh-tokoh patron (ulama, cendekiawan) pun acap ambil peran. Tak jarang, acara 'berbalas pantun' zaman now itu berlanjut ke meja hijau tanpa pihak-pihak yang bersengketa pernah bertatap muka.

Di satu sisi, di tengah masyarakat paternalistik, pola komunikasi yang demikian itu berakibat sangat buruk bagi kebersamaan anak bangsa. Polarisasi semakin meraja tatkala model komunikasi perseteruan seperti itu ditiru, bahkan diamplifikasi oleh pendukung pihak-pihak yang bertikai.

Lebih buruk lagi ketika amplifikasi itu bermotif ekonomi pragmatis. Banyak orang, individu maupun kelompok, sengaja memperuncing perbedaan (ingat, bahkan perselisihan) figur publik dengan membuat konten-konten provokatif di media sosial.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Media Selengkapnya
Lihat Media Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan