Mohon tunggu...
Joko Windoro
Joko Windoro Mohon Tunggu... Relawan - Pelestari Keragaman Hayati

Sumberdaya alam adalah milik anak cucu, aku hanya dititipi untuk menjaga dan merawat.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

11 Paragraf

27 November 2021   04:53 Diperbarui: 29 November 2021   14:36 105 5 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
La boutique des Saints-Peres (pris a partir de flower. fr -edite) 

Aspal masih basah. Gerimis yang tersisa luruh merinai, gontai dihembus angin. Ini bukan cerita tentang rue de l'Hotel Colberd  yang membeku dipeluk salju.

Juga bukan tentang La Boutique des Saints-Peres, bangunan bergaya ghotic abad ke 17 di ruas jalan nomer 14 yang disulap menjadi toko bunga. Seikat ruby roses 120 dolar selalu menggoda. Untuk apa? Tak pernah ada Laila di sana.

Ini jalan Ahmad Jazuli di timur Malioboro empat tahun lalu.

Rumah Bunga Laila tersembunyi di balik rimbun Muntingia calabura, mungil terjepit deretan toko bunga lainnya. Seikat mawar merah hanya seharga selembar pecahan terbesar rupiah. Plus bonus senyum Laila yang merekah.

Sebentar lagi malam. Lampu jalan  usir temaram.  Tawa seriang nyanyi kenari berdering waktu kubilang kita ngangkring dulu di seberang jalan. Harus sekarang, tak guna menunda lagi. Waktu terbaik datang bukan dengan mencari atau menunggu. 

Ia tersedak mie instan rebus yang belum sempat ditelan. Kedua tangannya berlomba meraih gelas teh jahe merah yang entah ditaruhnya di mana.

"Paris? Kamu gila ya?" diteguknya lagi teh jahe merahnya, berjuang keras menelan entah apa yang mogok di ujung tenggorok. Sepasang matanya berair. "Kamu becanda, kan? "

Ia tercipta untuk menikmati segalanya. Malam bertirai hujan atau bertabur  bintang sama saja baginya. Mie rebus di angkringan seberang jalan Rumah Bunga Laila atau iga bakar a'la Sheraton sama enaknya. Duduk manis di jok lembut  mini cooper Cabrio atau nemplok di boncengan Honda C-70 tak mengubah renyah tawanya. Tapi Paris bukan Jogja.

"Aku serius, Lai. Aku dapat beasiswa S3 dari Sorborne Universite."

Sendoknya jatuh, berdenting menimpa mangkuk setengah kering. Kuraih kedua telapak tangannya. Getar terasa. Senyumnya sirna. Tatap matanya hampa.

Aku terjebak di antara asa bergelora dan ketakutan menyiksa. ***

Mohon tunggu...

Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan