Mohon tunggu...
Joko Windoro
Joko Windoro Mohon Tunggu... Relawan - Pelestari Keragaman Hayati

Sumberdaya alam adalah milik anak cucu, aku hanya dititipi untuk menjaga dan merawat.

Selanjutnya

Tutup

Diary Pilihan

Obituary Of My Own

16 Oktober 2021   21:36 Diperbarui: 16 Oktober 2021   21:38 107 2 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
gambar milik dreamstime.com

Hai, sebut saja namaku John Doe. Umurku setengah abad kurang sejengkal. Dan setelah penyakit lama kembali mendera dengan intensitas tak seperti biasa, aku yakin sepenuhnya kalau ragaku telah renta disantap masa.

Sebenarnya, setelah tahun-tahun belakangan staminaku merosot drastis dibanding waktu umur 40an, aku mulai sadar harus berhenti. Itu yang kulakukan satu tahun lalu.

Semuanya kulepaskan. Kusebut diriku John Doe dengan frasa penjelas www.no.id. Aku tak lagi butuh eksistensi. Semua tanggungjawab tersisa kukembalikan kepada Yang Memberi. Tentu setelah melakukan tindakan pamungkas yang bisa menghindari tudingan lepas tanggungjawab. Ibarat kuparkir sepeda motor di pinggir jalan, kunci setang telah kupasang. Selanjutnya terserah Yang Berhak Memutuskan.

Dengan apa yang tersisa, kubangun "Rumah John Doe" (essai foto bertajuk "Ar Rahman dalam Tiga Babak" di blog ini). Di sana, kuhabiskan waktu tersisa untuk membaca. Kuulangi setiap kata yang diucap gemercik air sungai di belakang rumah. Kurangkai setiap huruf yang membuhul bersama tunas sebutir jagung, lalu tergores pada sehelai daun, lalu terukir pada batang kecilnya yang berkilat ditimpa sinar surya.

Kutemukan rangkain kata mutiara pada nyanyian burung kecil, kudapati kalimat bijak pada lumpur sawah yang munumbuhkan padi. Kusadari ada banyak cerita yang tak pernah sama di setiap kehidupan yang berdenyut di sekelilingku; pada bocah-bocah yang mandi telanjang di kali, pada kodok yang melompat, ular yang melintas atau menjengukku dalam kamar...

Cukup bagiku kelimpahan kata-kata dari Sang Maha Pujangga. Engkau tahu, dari kecil aku senang membaca. Kadang kudongengkan ulang apa yang kubaca pada sahabat-sahabat yang berkunjung ke Rumah John Doe sehingga mereka merasa senang pula.

Tapi rupanya aku tak punya hak menentukan sendiri akhir hidupku. Aku John Doe, bukan Bhisma.

Sekira enam bulan lalu, bertamu seorang punggawa tinggi sebuah lembaga kemanusiaan "raksasa". Beliau yang tahu sedikit banyak di medan macam apa kuhabiskan masa produktifku mengajakku menggagas sebuah aksi filantropi.

Setengah hati kuturuti maunya. Tapi setelah enam bulan berlenggang tak kunjung ada realisasi beberapa program yang kuinisiasi, aku sadar di mana letak kekeliruannya: urusan begini, tak boleh setengah hati.

Maka kukunjungi kantor pusat lembaga kemanusiaan itu awal Oktober lalu. Walau tak berharap banyak, silaturahim harus kulakukan untuk memastikan lanjut tidaknya program. Dan aku tak kecewa ketika akhirnya "gangguan membaca" selama enam bulan itu hampa belaka hasilnya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Diary Selengkapnya
Lihat Diary Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan