Mohon tunggu...
Joko Windoro
Joko Windoro Mohon Tunggu... Nelayan Sungai Serayu

Tukang Mancing Uceng

Selanjutnya

Tutup

Media Pilihan

K-Reward dan Strategi Menulis di Kompasiana

10 Oktober 2019   12:34 Diperbarui: 10 Oktober 2019   12:41 0 15 4 Mohon Tunggu...
K-Reward dan Strategi Menulis di Kompasiana
Ilustrasi pinjam punya curatebymichelle.com

Antara kompasiana, kompasianer, dan pemasang iklan ternyata bisa terjalin hubungan cinta segi tiga yang mesra. Apa sih rahasianya?

Artikel kanda Ropingi Surobledeg di bawah judul "Peraturan K-Reward yang Baru Mengecewakan Saya (Baca Uraiannya)" laiknya getah buah kolang-kaling, kesenggol kulit langsung gatal. Maka aku yang jarang-jarang ngomentari tulisan orang, tergoda mengomentarinya.

Aku jarang memberi komentar karena takut dibilang sotoy. Pun malas menutul radio button rating. Apa hakku meratifikasi karya orang? Nilai tetap kuberikan, tapi yang tahu cukup aku saja. Lagipula, Kompasiana tidak menyediakan radio button: "Ini Tulisan Keren Banget Deh" atau "Tulisan Ini Kok Jelek Banget, Sih".

Celaka, begitu komentar tak kirim, langsung dijawab sama empunya tulisan. Itu ibarat kena getah kolang-kaling terus digaruk, gatalnya menjalar ke mana-mana. Ini dia hasilnya.

Tujuan Menulis di Kompasiana
Sejak jaman kertas, aku memang doyan nulis. Kalau ada kesempatan (dan itu banyak benar), aku nulis, di atas kertas, pakai ballpen atau mesin tik. Jeleknya, aku ini agak pikun sebelum masanya, sering lupa naruh barang. Tulisanku di buku-buku tulis dan kertas HVS banyak yang hilang. Pas kangen, ke mana mencarinya coba? Padahal kangen kan tidak bisa dicegah apalagi dilarang.

Tulisanku, yang tercetak di lembaran koran, dan awalnya tersimpan rapi, juga bisa lenyap demi sebungkus mi instan. Itu terjadi ketika bokek melanda dan tukang loak lewat depan rumah. Mi instan sungguh makanan berbahaya.

Di jaman komputer, mulai komputer jangkrik dengan sistim operasi DOS, era Windows dan Mcintosh (Apple), sampai komputer genggam yang berotak Android (he..he.., orang masih banyak menyangka gawai pintar dalam genggamannya adalah telepon, padahal itu komputer, telepon hanya menjadi salah satu program aplikasinya), aku mengubah media tulisanku dari buku dan kertas HVS ke perangkat penyimpan data digital (hard disk). Lebih aman dan tak mudah hilang? Tidak juga.

Lemari buku digital itu kalau kuncinya hilang (sistem operasinya rusak), tidak bisa dibuka. Kalau sistem  operasinya diganti atau diperbaiki, seluruh isi lemari bisa terhapus bersih karena kadang aku alpa menaruhnya di ruang (direktori) yang berbeda dengan tempat sistem operasi berada.

Lemari digital itu juga tidak sepenuhnya aman dari jarahan maling. Apalagi setelah seluruh komputer di dunia terhubung melalui jaringan internet. Maling dari seluruh dunia bisa mengintip isi lemari buku digitalku untuk mencuri data (dengan mengutus jin bernama spyware), maupun merusaknya sekali pakai jin yang lebih jahat bernama malware. Apatah lagi kalau badai bokek berkepanjangan dan terpaksa jual komputer. Bangkrut jasmani ruhani!

Belum lagi yang sifatnya force majeure. Sejudul novel yang kutulis bertahun-tahun, kata demi kata, sudah hampir jadi, lenyap bersama hancurnya komputer meja yang tertimpa runtuhan rumah ibuku waktu gempa besar melanda Jogjakarta. Hard disk bisa diselamatkan, tapi mati karena kehujanan. Aku sempat lama ngambek pada diriku sendiri. Tidak mau menulis apapun.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
KONTEN MENARIK LAINNYA
x