Mohon tunggu...
Joko Windoro
Joko Windoro Mohon Tunggu... Nelayan Sungai Serayu

Tukang Mancing Uceng

Selanjutnya

Tutup

Novel

Dewabrata Pralaya

14 September 2019   15:18 Diperbarui: 14 September 2019   17:22 0 1 1 Mohon Tunggu...
Dewabrata Pralaya
Bhisma (globalfashionstreet.com)

Prolog Novel "Mahabharata: Redefined", oleh Joko Windoro

Riuh rendah perang Bharatayudha di padang Kurusetra mendadak sirna. Horor ketika Resi Seta menebar kematian dengan tangan telanjang dan batu batu yang bergelayutan di rambutnya usai sudah. Banjir darah di mana mana, mayat mayat bergelimpangan centang perenang. Lembah Kurusetra yang menjadi  ajang pembantaian menyenandungkan duka.

"Beginilah akhirnya, Kripa. Beginilah akhirnya," nelangsa Senopati Hastina menatap mayat Resi Seta. Darah masih menetes dari ujung pedangnya.

"Siapa yang bisa menghentikanku sekarang? Anak Ghandari yang picik itu menghendaki darah, maka biarlah kualiri Gangga dan Yamuna dengan darah. Belum lagi dingin mayat Utara dan Wiratsangka, dan sekarang kamu saksikan Seta meregang nyawa.

Seta, duhai Seta adikku.., bahkan engkau, putra Matswa yang paling agung, tidak bisa memenuhi keinginanku," gemetar suara Bhisma, Senopati Agung Hastina, bak kidung kematian kala senja di langit Kurusetra berhias rona tembaga.

Kripa, sais kereta Sang Manggalayudha hanya tertunduk. Bau amis darah dan rintih ribuan nyawa yang tercerabut dari jasad menjarah udara. Sebutir air mata, berkilau diterpa cahaya senja, bergulir di pipi keriput Kripa. Masih lekat di pelupuk matanya amuk Seta yang menggetarkan padang Kurusetra.  

Lelah dengan hiruk pikuk dunia, putra mahkota Wiratha yang tak kunjung menjadi Raja karena ayahnya diberkati usia sangat panjang itu memilih bertapa: tidur panjang tak terbangunkan. Tak satupun peristiwa di dunia mampu membangunkannya. Tidak juga kematian Utara di tangan Bhisma. Toh masih ada Wiratsangka yang bisa melanjutkan kejayaan Matswa andai suatu ketika Ramanda Dhurgandhana berpulang.

Tapi begitu mendengar Wiratsangka, adik bungsu kecintaannya juga binasa di padang Kuru, Seta meradang.

Terjaga dari tapa brata, Seta langsung meluruk ke medan perang. Raung singa tua yang murka itu bagai jeritan dari dasar neraka.

"Dewabrata.. wahai Dewabrata... Ini aku datang untukmu wahai Dewabrata! Hayo.., jangan kotori tanganku dengan darah kecoa kecoa busuk Kurawa. Wahai Bhisma Putra Gangga, tidak malukah kau mencabut nyawa Utara... Sudah matikah nuranimu sehingga kau tega membunuh Wiratsangka, bocah kemarin sore yang bukan lawan setimpal buatmu. Hayo Bhisma.., ini aku datang untukmu... tulang tua bertemu tulang tua!"

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
  8. 8
  9. 9
KONTEN MENARIK LAINNYA
x