Mohon tunggu...
Joko Windoro
Joko Windoro Mohon Tunggu... Nelayan Sungai Serayu

Tukang Mancing Uceng

Selanjutnya

Tutup

Bahasa Artikel Utama

Jantung, Hati, dan Korupsi

1 September 2019   19:52 Diperbarui: 2 September 2019   20:01 0 5 1 Mohon Tunggu...
Jantung, Hati, dan Korupsi
KPK: Komisi Pemberantasan Korupsi, Komisi Pemberantasan Koruptor, apa Koruptor Pethuk Koruptor? (dok. kompas.com)

Keberanian adalah modal utama supaya cepat besar dan pintar. Termasuk keberanian berbahasa.

Apa ilmu tertua yang dimiliki manusia? Ada yang mengatakan, filsafat. Tapi aku lebih setuju pada Noam Chomsky, "nabi" linguistik itu, bahwa ilmu tertua adalah bahasa

Awak bukan dan tak punya keberanian secuilpun  berlagak mufassir, tapi berhubung pernah baca pada kisah-kisah Israiliyat, Injil, dan Al Qur'an tentang Nabi Adam, keyakinan itu aku sandarkan ke sana.

Dikisahkan, semasa masih berada di Taman Firdaus, Adam diajari langsung oleh Tuhan tentang nama-nama. Nama-nama apa? Belum pernah kutemukan referensi baik kitab tafsir, literatur sejarah, maupun pengajian-pengajian yang memberikan jawaban atas pertanyaan itu (kemungkinan besar karena bacaanku kurang dan ngajinya tidak tekun).

Maka kugunakan saja logika sederhana: yang dimaksud "nama" dalam rujukan di atas kemungkinan besar adalah "lambang bunyi". Bukankan semua hal yang ada di semesta ini membutuhkan simbol sebagai tanda pengenalnya? 

Buah larangan itu dinamai (memiliki lambang bunyi) Kuldi, kegiatan memisahkan buah itu dari tangkainya namanya memetik, memasukkan buah itu ke mulut, mengunyah, dan menelan ke dalam  perut dinamakan  makan. Melanggar perintah Tuhan (agar jangan mendekati pohon buah itu, apalagi memetik dan memakannya) dinamakan dosa.

Kesimpulannya, ilmu tertua dan paling fundamental sebagai bekal manusia dalam menjalankan tugas sebagai pengelola (khalifah) bumi seisinya adalah nama-nama, adalah lambang bunyi, adalah bahasa. 

Peradaban manusia berkembang hingga sekompleks dan secanggih sekarang tidak bisa tidak karena peran bahasa. Itu bagi yang percaya bahwa kitab suci bukan fiksi.

Sampai di situ, kalau Anda setuju, kita lanjut ke bahasa kita, Bahasa Indonesia.

Dipilih dari sekian ratus bahasa yang berkembang di wilayah Nusantara sebagai Bahasa Nasional, keunggulan Bahasa Indonesia (diambil dari Bahasa Melayu Pasar) adalah mudah dipahami dan paling jamak digunakan dalam perhubungan bangsa-bangsa Nusantara dibanding bahasa lain yang ada. Kelemahannya, Bahasa Melayu tergolong miskin kosa kata dan kurang presisi (multi tafsir).  

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
KONTEN MENARIK LAINNYA
x