Mohon tunggu...
Joko Windoro
Joko Windoro Mohon Tunggu... Nelayan Sungai Serayu

Tukang Mancing Uceng

Selanjutnya

Tutup

Hobi Artikel Utama

Menulis Itu Menjengkelkan

28 Agustus 2019   17:06 Diperbarui: 29 Agustus 2019   13:40 0 25 12 Mohon Tunggu...
Menulis Itu Menjengkelkan
ilustrasi menulis dan membaca. (sumber: pixabay)

Menulis itu adiktif, bikin kecanduan. Makin lama kebutuhan dosisnya makin besar. Tidak tersembuhkan. Percayalah, Anda tidak akan pernah bisa menghasilkan karya tulis yang memuaskan.

"Mengarang Itu Gampang". Itu judul buku yang ditulis guru ke duaku, mendiang Wendo (Arswendo Atmowiloto, penulis, seniman, budayawan keren yang mati dalam sunyi). 

Buku kecil berisi panduan ringkas menjadi seorang pengarang (dulu istilahnya begitu, sekarang lebih lazim disebut penulis)  yang kubaca waktu kelas 5 SD itu adalah pelecut pertama kesenanganku menggores kata. Tapi benarkah menulis itu gampang?

Ternyata memang mudah. Itu baru kusadari setelah umur melampaui empat dasawarsa. Ceritanya, seorang pengamen jalanan yang biasa nongkrong di komunitas Generasi Seniman Jalanan (GSJ) yang pangkalannya di halaman Sanggar Krida Wanita (Sangkrini), persis di belakang gedung PLN Bulungan, Jakarta minta diajari menulis.

"Mas (aku dianggap kakak oleh semua anak jalanan GSJ), ajarin saya jadi penulis dong," pinta anak muda itu sambil menyodorkan "Insani Islamic Digest" (Khairul Bayaan Press, Jakarta, 2010). Ia mengaku suka sekali dengan essai foto  tentang Yogyakarta karyaku yang dimuat di digest itu.

Hwaduh! Aku harus mulai dari mana? Lalu aku ingat pada buku kecil Wendo.

Kurogoh kantong, selembar uang duapuluh ribu rupiah kuberikan padanya, "Beli ballpen satu, sisanya buat beli buku tulis. Yang tebal.  Tulis di buku itu apa saja, sesukamu. Kalau tintanya habis atau bukunya yang sudah penuh, kasih aku."

"Maksudnya, saya pengen bisa nulis di koran kayak Mas," dia protes.

"Ya begitu caranya. Kalau nggak mau nggak usah!" aku pura pura galak. He.., he.., ini jaman orang menulis pakai keyboard dan layar sentuh,  aku menyuruhnya menulis dengan ballpen. Kasihan juga, tapi biarin.

Seminggu kemudian, anak muda itu menyerahkan buku tulisnya. Penuh! Puisi, lagu, cerpen, diary, surat cinta pada seniornya (seorang perempuan pengamen jalanan yang sempat rekaman di Australia), dan entah apa lagi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5