Mohon tunggu...
Joko Windoro
Joko Windoro Mohon Tunggu... Nelayan Sungai Serayu

Tukang Mancing Uceng

Selanjutnya

Tutup

Wisata Artikel Utama

Dieng, Kentang, dan Bule yang Enggan Datang

27 Agustus 2019   14:52 Diperbarui: 27 Agustus 2019   19:43 0 10 5 Mohon Tunggu...
Dieng, Kentang, dan Bule yang Enggan Datang
Landskap menawan Dieng Plateu (travel.kompas.com)

Bus buluk jurusan Purwokerto - Semarang itu berhenti dengan bunyi rem menjerit. Apa boleh buat, daripada kemalaman, lelah dan suntuk karena hasil pancingan di Kedung Lawenujo, Banjarnegara tidak seperti yang diharapkan, terpaksa kuhempaskan suntuk dan capek di jok deretan paling belakang moda yang sudah tak laik jalan itu. Musim kemarau 2018 baru jalan setengah, tapi debit air Serayu sudah surut drastis. Ikan susah dipancing.

Baru mau merem, keributan di jok depan saat bus mencapai perempatan Sawangan (perbatasan selatan Kabupaten Wonosobo) membuyarkan kantuk. Biang keributan ternyata seorang perempuan berkulit putih yang kebingungan sementara kondektur dan penumpang di dekatnya tidak ngerti apa yang diributkannya. Aku terpaksa bangkit, mendekat ke depan.

"Butuh bantuan, Neng?" tanyaku kasihan pada bule itu dalam English.

"Ah, akhirnya..," desah perempuan tambun itu (paras bule itu sebenarnya cantik, tapi body-nya kelewat gemuk, kutaksir bobotnya tak kurang dari 90 kilogram), "aku nyari tempat ini, bisa tolong ditunjukkan?" kata dia sambil memperlihatkan halaman sebuah buku tebal.

"Coba kulihat."

"Tapi ini Bahasa Perancis," kata dia.

"Mudah-mudahan aku ngerti dikit," jawabku sambil menerima buku tebal yang rupanya sebuah Tour Guidance obyek-obyek wisata di Indonesia, terbitan 1992. Tempat yang dicari backpacker itu sebuah homestay. Aku pernah dengar namanya, tidak tahu persis di mana letaknya, tapi alamat pada buku itu mudah dicari. Kotaku kan ukuran mini.

 "Yap, kayaknya aku tahu tempat ini. Nanti kuantar ke sana," ujarku yakin.

"Wah, trims ya. Oh ya, namaku Caterine, aku mau ke Dieng. Bosan dengar suara tembakan di tempat kerja," kata dia sembari mengulurkan tangan.        

Masih bersalaman, dia menggeser duduknya dengan susah payah, isyarat butuh lawan ngobrol.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
  8. 8
  9. 9
  10. 10