Mohon tunggu...
Joko Windoro
Joko Windoro Mohon Tunggu... Presiden Negeri Loh Jinawi

Presiden NLJ

Selanjutnya

Tutup

Politik

Setan Itu Ternyata...

13 Mei 2019   21:51 Diperbarui: 14 Mei 2019   23:26 0 1 0 Mohon Tunggu...

"Orang bicara cinta atas nama tuhannya
Sambil menyiksa, membunuh,
Berdasarkan keyakinan mereka...
Doa-doa bergema, mata menetes darah
Satu lagi korban jatuh
Tradisi lenyap dihisap marah."  (Cinta: Iwan Fals, Sawung Jabo, Naniel)

Ketika secara temporer sekelompok orang berkumpul di suatu tempat dan waktu yang sama, memiliki tujuan yang sama dan melakukan tindakan tertentu untuk mencapai tujuannya, mereka disebut massa. Massa, bisa menyebabkan individu-individu yang berada di dalamnya kehilangan kepribadian yang sadar dan rasional, mereka bisa melakukan hal-hal di luar kebiasaan yang tidak akan dilakukan ketika tidak berada di dalam kelompok massa, misalnya: siap memenggal kepala Presiden!

Itulah yang langsung bisa diidentifikasi ketika Polisi menangkap HS, peserta demonstrasi di Bawaslu beberapa waktu lalu yang menyatakan siap memenggal Jokowi.

Saat ditangkap, HS mengaku terbawa "emosi" sehingga tindakan yang melanggar hukum itu terjadi. Dengan kata lain, pelanggaran hukum oleh HS secara psikologis bisa diduga tidak berlatar belakang kehendak alamiah (natural intens), tetapi sebuah tindakan irasional yang terjadi akibat keberadaannya di tengah massa demonstran.

Maka, sesungguhnya HS adalah seorang korban. Ini kalau kita pakai kacamata psikologi massa, kacamata hukum dan Undang Undang tentu beda sudut pandangnya: MAKAR.

Subyektif, saya kok tidak "percaya" seorang HS (meski saya tidak kenal dia sama sekali) punya niat makar. Lihat saja beberapa saat lagi ketika dia sendirian, tidak berada di tengah kerumunan massa dan kesadaran pribadinya sudah normal, apalagi setelah ditangkap Polisi, bisa ditebak yang keluar dari kesadaran pribadinya kira-kira, "Saya khilaf, saya menyesal, saya sama sekali tidak punya niat memenggal kepala Jokowi".

Tapi nasi sudah membubur, konsekuensi hukum harus dijalaninya. Tinggallah kita merenung kenapa HS bisa menjadi "korban" berikutnya setelah, sebut saja, Ahmad Dhani dan Ratna Sarumpaet.

Rupanya, ada "setan" yang merasuki para korban. Setidaknya, ini dinyatakan Ratna ketika mengakui kebohongannya yang heboh. Kutipannya verbatim, "... tidak ada penganiyayaan, itu hanya cerita khayal entah diberikan oleh setan mana ke saya..." Ya, ternyata ada setan yang mempengaruhi Ratna dan HS (sekali lagi, tunggu saja sebentar).

Beda dengan Ahmad Dhani, dia tidak pernah mengakui (atau menyadari) bahwa keberadaannya sekarang di dalam bui karena dijerumuskan oleh setan yang sama.

Pembaca Kompasiana yang budiman, Anda percaya ada Setan? Sebaiknya Anda percaya. Setan itu bentuknya macam-macam, dalam menjerumuskan orang ke dalam kesalahan (ini natural intens) modus operandinya juga beragam.

Contohnya, menurut Waksekjen Partai Demokrat Andi Arif, ada sejenis setan yang secara betuk dia sebut setan gundul, dan MO-nya dalam menjerusmuskan orang ke kesalahan adalah memberikan data kemenangan paslon 02 sebesar 62% suara yang menurut Andi tidak rasional.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2