Mohon tunggu...
Jepe Jepe
Jepe Jepe Mohon Tunggu... kotak katik gathuk

Males nulis panjang. Ogah jaim.

Selanjutnya

Tutup

Catatan

Jibaku Ortu Tanpa Pembantu: 3 Tips Anti Stress

12 September 2014   11:35 Diperbarui: 18 Juni 2015   00:55 241 21 23 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Jibaku Ortu Tanpa Pembantu: 3 Tips Anti Stress
14104425591037803290

Dalam perjalanan mengantar anak-anak saya ke sekolah dengan bersepeda, saya melihat seorang kolega kantor saya bergerak berlawanan dari arah kami datang.

Juga bersepeda, kolega saya yang berjas-berdasi dan menggendong ransel laptop tampak mengayuh sepedanya full speed. Saat berpapasan, kolega itu hanya melambaikan tangan saja dengan mimik wajah penuh arti.

Siang harinya saat makan siang di kantor saya bertemu lagi dengan kolega itu. Seakan mengerti bahwa saya ingin tahu apa yang terjadi tadi pagi, dia langsung bilang sambil tersenyum,

« baju renang anak-anak tadi pagi ketinggalan, makanya saya harus ngebut balik ke rumah, ambil baju renang lalu tancap pedal balik lagi ke sekolah ! »

Kisah-kisah singkat seperti ini sering jadi bahan obrolan antara sesama kolega kantor saya yang berprofil sama : orang tua dengan anak-anak usia sekolah dasar atau menengah dan kebetulan sama-sama tidak memiliki pembantu atau asisten rumah tangga (ART) untuk mengatur urusan keluarga sehari-hari.

Tanpa ART atau pembantu, berakrobat atau berjibaku di antara berbagai keperluan rumah atau keluarga dan profesi adalah seni tersendiri yang dilakukan oleh banyak ortu keluarga muda di negara-negara barat, seperti di Belgia.

Menurut pengamatan dan pengalaman saya yang juga masih belajar, saat di mana ART tidak ada, ada tiga tips yang bisa dilakukan oleh orang tua di mana saja untuk berakrobat atau berjibaku seperti ini tanpa stress :

Tips I: Do it now!

Lupa adalah penyakit yang sering hinggap mendadak bagi kebanyakan ortu saat harus ber-akrobat seperti ini. Seperti yang dialami kolega saya di atas, satu dua hal bisa jadi terlupa saat banyak hal yang harus disiapkan dalam waktu yang singkat.

Bagi ortu tanpa ART, pagi hari adalah saat terkritis. Pagi hari adalah saat di mana anak-anak harus bangun mempersiapkan diri menuju sekolah dengan segala seremonialnya: merapikan tempat tidur, mandi (kalau tidak terlalu dingin), pakai baju sekolah, sarapan, sikat gigi lalu berangkat. Di saat yang sama para ortu juga harus sarapan dan mempersiapkan dirinya sendiri untuk berangkat bekerja.

Bagi banyak ortu tanpa ART kerepotan pagi hari mungkin sudah menjadi hal otomatis untuk dilakukan. Yang jadi masalah adalah saat ada hal istimewa di luar rutinitas: seperti harus bawa baju renang, bawa kertas krep untuk prakarya atau keperluan lain yang tidak biasa.

Yang saya sering alami jadi sumber lupa adalah menunda apa yang sudah diingat harus dikerjakan. Misalnya kalau jam 6 pagi kita sudah ingat harus menyiapkan baju renang selayaknya hal itu dikerjakan seketika itu juga, now, sekarang,sak iki,  maintenant, ahora, meeten… tidak nanti atau 5 menit lagi.

Akibat dari menunda adalah satu, yaitu lupa, alias zwempak alias baju renang ketinggalan….

Tips “do it now” ini akan semakin terasa bermanfaat saat kita usia tidak lagi muda.

Kapan usia kita tidak lagi muda?

Pernahkah Anda bergerak mau melakukan sesuatu atau ingin mengatakan sesuatu, tapi tiba-tiba tidak ingat lagi apa yang Anda mau kerjakan atau katakan?

Nah, kejadian itu adalah indikator awal usia kita tidak lagi muda. Lakukan “do it now” mulai dari sekarang…

Tips II: Work Hard, Play Hard

Pernah membawa pekerjaan ke rumah? Atau paling tidak pernahkan Anda memikirkan pekerjaan saat Anda berada bersama keluarga? Hal ini adalah lumrah, namun buat saya itu adalah satu indikator bahwa saya bekerja kurang keras pada saatnya (di atau pada jam kerja).

Pikiran bercabang adalah salah satu sumber tidak konsentrasinya kita mengerjakan sesuatu. Hal ini terjadi misalnya saat kita memakaikan baju anak-anak tapi terbalik, saat kita memakaikan baju kakak ke adik atau saat kita terlalu lama memanaskan susu botol misalnya.

Contoh lain dari akibat kurangnya konsentrasi atau pikiran bercabang adalah kasus anak-anak yang menangis di supermarket karena tertinggal secara tidak sengaja oleh ortunya. Hal ini sudah saya saksikan lebih dari 4 kali di Belgia.

Seorang Kompasianer kawakan yang namanya tidak akan saya sebutkan di sini pun pernah men-share-kan hal yang sama saat yang bersangkutan secara tidak sengaja meninggalkan istri dan anak-anaknya di salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta.

Guna bekerja keras di tempat dan waktunya adalah agar kita pun benar-benar bisa relaks dan berkonsentrasi saat sudah di rumah atau di tempat lain bersama keluarga. Di saat itulah kita bisa fokus mendengar atau bertukar cerita dengan anak-anak maupun dengan pasangan, termasuk fokus pada apa yang kita kerjakan.

Tips III: Carpe Diem!

Anak-anak di mana saja tetap anak-anak: tidak pernah kuatir. Apa yang mereka pikirkan dan buat seringkali bertabrakan dengan situasi dan kondisi yang sedang kita hadapi.

Resep terakhir mendampingi anak-anak seperti ini adalah "carpe diem": nikmatilah saat-saat, menit demi menit, detik demi detik, bersama anak-anak itu, apapun yang terjadi.

Di satu saat pernah saya dan anak-anak berangkat ke sekolah terburu-buru hampir terlambat.

Setelah menggenjot sepeda sekuat tenaga, jumping di polisi tidur, ngepot di tikungan akhirnya sampai juga kami di sekolah saat bel pas berbunyi.

Situasi masih setengah kalang kabut dan nafas masih ngos-ngosan saat saya dan anak-anak turun dari sepeda kami masing-masing. Setelah memarkir dan mengunci sepeda-sepeda, karena sudah telat, kami pun berlari ke arah kelas.

Saat sedang tergopoh-gopoh (sambil memikirkan presentasi saya nanti di kantor) melintasi lapangan olah raga, tiba-tiba anak saya yang bungsu meminta saya berhenti berlari.

Karena kuatir ada apa-apa, saya pun berhenti berlari dan anak saya yang kecil pun berkata,

“Pak tahu nggak Pak? Dinosaurus itu setiap kali giginya tanggal pasti akan tumbuh lagi lho!”

Mak glodakh…!!!

*Tips-tips ini dirangkum oleh para ortu Koplak Yo Band **foto dok.pribadi

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x