Politik

Mengapa Topik Ahok Paling Menarik ?

11 Januari 2017   15:35 Diperbarui: 11 Januari 2017   15:49 1096 2 3

Warna tulisan yang kita tulis akan mencerminkan karakter dan wawasan yang tergantung pada aktivitas keseharian.  Makin tinggi aktivitas seseorang, makin luas wawasan yang dimiliki. Pernah saya memberikan penataran kepada pegawai-pegawai BUMD seluruh Indonesia dengan system modul. System ini berbeda dengan kalau saya mengajar mahasiswa yang panduannya adalah buku wajib.  Untuk penataran, modul sudah disiapkan yang kalau dibaca hanya membutuhkan waktu sepuluh menit sedangkan sesinya adalah dua jam. Tanpa memiliki wawasan, kita akan memiliki kesulitan berbicara mengisi waktu yang disediakan.

Demikian pula kalau kita menjadi moderator dalam sebuah seminar, kita harus mampu mencerna apa yang disampaikan oleh narasumber untuk mengarahkan diskusi yang nantinya disepakati sebuah kesimpulan. 

Dunia ajar mengajar sudah lama sekali saya tinggalkan karena kesibukan dalam bisnis mandiri, ratusan orang bergantung nasib pada apa yang saya perbuat. Dari aktivitas tersebut banyak yang ingin bertemu, ada yang sekedar bersilaturahmi, ada yang  ingin menjalin kerjasama namun ada juga yang mencari  masalah yang muaranya minta uang. Inilah keadaan yang terbentuk oleh adanya kesenjangan sosial yang lebar didalam masyarakat.

Sebut saja karena kondisi tersebut, saya harus membangun filter-filter yang berlapis untuk mencapai saya. Dari organisasi usaha yang saya bangun, ada bagian mencatat, bagian menagih, bagian pekerja lapangan, bagian hukum sampai bagian pengamanan semacam tukang pukul kalau ada yang mengganggu.

Saya bisa membangun organisasi karena saya bayar dan saya beri fasilitas, banyak diantara mereka orang-orang pandai, pandai berbicara namun sesungguhnya tidak mengerti harus memulai dari mana agar bisa mandiri.  Dari aktivitas tersebut juga, saya bisa menilai seseorang, orang yang mengaku jujur, mengaku akan mengabdi, akan bekerja baik bahwa sesungguhnya dia memiliki kebiasaan berbohong. Mengapa ?. Prinsipnya, kejujuran seseorang itu berangkat dari niat, bukan dari ucapanya. Hak prerogativ saya menilai orang lain karena mereka berkepentingan dengan saya tidak bisa diganggu gugat, tidak ada diskusi karena yang saya perlukan bukan orang pintar tetapi orang patuh dan menjadi pintar kalau terbiasa mengerjakan apa yang menjadi tanggung jawabnya.

Ada terjadi seseorang meminta pekerjaan kepada saya dengan memuji diri seperti tadi, saya sarankan untuk terjun kepolitik saja, saran saya diikuti dan saya ketahui dia berhasil dalam dunia politik.  Seorang politikus dibutuhkan orang-orang yang mampu mencitrakan diri sebagai orang jujur, orang pandai, orang yang dipercaya oleh orang banyak.

Seorang pengusaha yang terbiasa melakukan tricky untuk memperoleh keuntungan yang sebesar2nya, terjun dalam dunia politik kebiasaan tersebut tidak mungkin bisa dihilangkan.  Pengusaha adalah orang2 bebas yang tak terikat, sebaliknya para birokrat yang lebih berpengalaman dalam pengelolaan pemerintah harus menjadi penonton karena terikat dengan statusnya atau melepaskan status yang artinya kehilangan penghasilan.

Sebutlah saya sebagai seorang yang bebas yang terbiasa dengan segala macam tricky dagang untuk mencari keuntungan, menjadi kepala daerah sangat mungkin otak ini berpikir mencari keuntungan  namun tidak tersentuh hukum. Tidak sulit mencari caranya yaitu dengan kesepakatan  tak tertulis dengan kepala2 dinas yang diangkatnya, kepala dinas dapat mencari kambing pejabat pembuat komitment yang dikorbankan.  Trik seperti ini sudah menjadi aturan tak tertulis, sedangkan hukum memerlukan bukti hitam putih dan saksi oleh karenanya hanya bisa diungkap dengan OTT KPK.

Makin banyak aturan yang dibuat, makin banyak ilmu yang digunakan untuk menyiasati. Jangankan dalam dunia pemerintahan, mesjid atau rumah ibadah dibangun dimana-mana yang maksudnya agar semua orang berpegang pada norma baik universal maupun agama. Tapi nyatanya tingkat korupsi di Indonesia termasuk palaing memprihatinkan didunia. 

Ahok yang berlatar belakang pengusaha ini  paling banyak disebut dalam media sehingga menarik banyak pihak berpendapat dan silang pendapat ini semakin menarik karena terjadi perdebatan namun sayangnya sering tidak terkendali.

Adalah gambaran umum, pedagang menjadi penguasa sangat mungkin wilayah yang dikuasai  akan dijadikan pusat bisnis. Ini sejalan dengan ciri liberalisme dimana para pengusaha akan berlindung dibalik kekuasaanya uantuk pengamanan dan konsensi korporasinya.

Namun harus pula diingat, bahwa menangani masyarakat yang punya keinginan banyak harus memahami karasteristik masyarakat tersebut dari sudut sosial ekonomi masyarakat yang sudah menjadi karakter itu. Contoh konkrit, Ahok memiliki program merusunkan wailayah kumuh dengan melakukan penggusuran. Harus diakui program itu bagus, tetapi belum tentu baik diterapkan pada masyarakat yang tidak tertib membayar sewa rusun karena faktor mata pencaharian.  Baik belum tentu sesuai kebutuhan rakyat,  seperti itu filosofinya.

Begitu juga reklamasi pantai utara jakarta, sangat bagus menjadi lahan bisnis yang nantinya menjadi wajah metropilitan Jakarta. Tapi dibalik itu dampak yang ditimbulkan pada rakyat yang penghasilannya berkurang akan menimbulkan kerwanan sosial. Dari kerawanan sosial itu tak pelak lagi menjadi masalah politik karena rakyat tidak memikirkan Jakarta ingin dijadikan apa, yang utama periuk nasi tetap terpenuhi.

Indonesia baru lepas dari penjajahan menjelang 76 tahun, beberapa kali mengalami krisis ekonomi yang ditengarai disebabkan oleh prilaku korupsi.  Bisa kita bayangkan, pembangunan yang direcoki dengan korupsi, ditambah bunga pinjaman, diterpa terdepresiasinya nilai rupiah menjadikan pembangunan tersebut tidak optimum ekfektifitasnya bahkan membabani rakyat dengan hutang.  Akibatnya, penghasilan masyarakat tak juga terangkat, tingkat kemiskinan juga tidak berkurang, manfaat dari pembangunan akhirnya hanya dinikmati oleh konglomerasi yang berada diseputar kekuasaan.

Agaknya, riak-riak suara rakyat tidak didengar yang akhirnya menimbulkan gerakan massa dengan dalih agama, polemik agamapun menjadi bagian friksi dalam jagat maya.  Topik Ahok makin menarik ketika banyak yang membela dan mengkritik.  Namun dari warna tersebut terbaca karakter bangsa kita pada umumnya yaitu tangan dibawah yang mudah terbuai janji politik yang dibelakangnya banyak kepentingan bisnis. Misalnya pembangunan rusun itu proyek, usernya adalah masyarakat yang digusur namun tidak ada solusi lapangan kerja untuk membayar sewa, alhasil yang timbul adalah kegaduhan.