Mohon tunggu...
Joko Ade Nursiyono
Joko Ade Nursiyono Mohon Tunggu... Administrasi - ASN di Badan Pusat Statistik

Penulis buku "Kompas Teknik Pengambilan Sampel", "Pengantar Statistika Dasar", dan "Kalkulus Dasar"

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi Artikel Utama

Menanjaknya Harga Sembako di Ternate Jelang Ramadan

10 Mei 2017   11:34 Diperbarui: 10 Mei 2017   20:49 695 2 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Ilustrasi/Kompasiana (Kompas.com)

Ramadhan merupakan bulan yang paling ditunggu-tunggu oleh umat Islam. Berbagai hal sejak awal Mei kemarin sudah dipersiapkan, terutama merancang pengeluaran sampai akhir hari raya Idul Fitri. Namun, ada masalah yang lumrah terjadi di masyarakat menjelang Ramadhan, yaitu naiknya harga-harga sembako, khususnya bawang.

Di Pulau Jawa, saya amati harga bawang mulai merangkak sejak akhir April lalu dan terus mengalami kenaikan hingga saat ini. Rata-rata kenaikan 20 sampai 40 persen. Kendati demikian, tingkat permintaan terhadap bawang di Pulau Jawa dapat dimaklumi mengingat jumlah penduduk yang semakin membeludak. Yang tak habis pikir adalah harga bawang di luar Jawa justru jauh lebih mahal. Kalau di Jawa, harga bawang yang dalam satuan kilogram dihargai Rp. 35.000,- sampai Rp. 40.000,-. Di luar Jawa, khususnya di daerah Ternate, Maluku Utara, harga bawang sampai saat ini sudah mencapai Rp. 50.000,- hingga Rp. 60.000,- per kilogramnya.

Kemarin lusa, saya jalan-jalan ke pasar tradisional di Ternate. Sekalian biar efisien, saya belanja ikan, sayur, bumbu, dan beras. Selama saya belanja, saya dapati harga-harga memang sudah mulai berubah dibandingkan sekitar seminggu yang lalu. Rentang perubahan harga bahan kebutuhan pokok, khususnya di Ternate berkisar antara Rp. 500,- sampai Rp. 1.000,- per satuannya. Entah apakah kondisi harga ini hanyalah permainan dagang, entah memang dikarenakan faktor alamiah berkurangnya pasokan dan serta stok barang. Yang jelas, perubahan harga tersebut begitu saya rasakan.

Yang sungguh mencolok mata memang harga bawang, terutama harga bawang putih. Karena harganya yang mahal, saya memutuskan hanya membeli satu umbi waktu itu. Satu umbi saya dapat dengan harga Rp. 5.000,- dan itu pun kondisinya layu alias tak segar serta ukuran siung bawangnya yang kecil-kecil. Berbeda dengan harga ikan, di Ternate harga ikan relatif stabil karena memang dari segi persediaan sangat mencukupi kebutuhan masyarakatnya. 

Sambil blusukan kembali saya juga memeriksa harga beras. Harga beras di Ternate tampaknya juga stabil dan saya pun optimis harganya tak terlalu bergejolak hingga menjelang Idul Fitri nanti. Saya heran kenapa harga bawang putih ini kok harganya sudah "curi start" daripada komoditas yang lain. Usut punya usut, setelah saya tanya ke pedagang dikarenakan stok yang sedikit sehingga tak mampu memenuhi jumlah permintaan. Apalagi, bawang putih di Ternate juga merupakan salah satu komoditas impor sehingga ada sinyalemen bahwa melonjaknya harga bawang putih dikarenakan adanya pengaruh harga bawang dari daerah lain, seperti di Jawa.

Saya melanjutkan pengamatan kembali sambil belanja melihat-lihat. Ketika saya bertanya tentang harga daging, saya langsung tercengang. Harga daging sapi per kilogramnya sudah mencapai Rp. 120.000,- hingga Rp. 130.000,-. Seketika saya langsung merogoh uang dalam saku saya seraya menelan ludah, hehe... daging di Indonesia ini katanya stok melimpah, tapi masih saja tidak mampu memenuhi permintaan. Mungkin tingginya harga daging selain dikarenakan melejitnya permintaan, pedagang belum mampu menambah stoknya lebih awal. Atau memang karena daging sapi juga merupakan komoditas impor, lagi dan lagi dimungkinkan stok berkurang lantaran sudah tertelan permintaan tinggi di daerah asalnya.

Harga daging ayam pun juga naik. Setelah saya bertanya kepada pedagang, rata-rata mereka menjawab Rp. 35.000,- per kilogramnya, atau naik sekitar Rp.5.000,-. Permasalahan ini seyogyanya tidak selalu terjadi setiap tahunnya. Apalagi pemerintah sudah berkomitmen menggerakkan TPID-TPID di seluruh daerah untuk melakukan pemantauan terhadap gejolak harga setiap periodenya. Dengan kontrol ketat terhadap perubahan harga, operasi pasar diharapkan akan lebih tepat waktu dan tepat sasaran guna menstabilkan kembali harga barang yang sempat bergejolak atau terkena shock ekonomi.

Mohon tunggu...

Lihat Konten Ekonomi Selengkapnya
Lihat Ekonomi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan