Mohon tunggu...
Handy Chandra van JB
Handy Chandra van JB Mohon Tunggu... Maritime Leadership and Marine Management.

Opini personal tentang Kemaritiman (Maritime) dan Kelautan (Marine). 5-3-2 Counter-attack, Cattenacio.

Selanjutnya

Tutup

Lingkungan Pilihan

Perikanan, Mesin Ekologi dan Ekonomi | "Marine Management"

10 Agustus 2020   09:13 Diperbarui: 10 Agustus 2020   10:40 123 10 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Perikanan, Mesin Ekologi dan Ekonomi | "Marine Management"
Koleksi Pribadi. Kepulauan Seribu, DKI.

Menteri Kelautan dan Perikanan RI, Dr. Edhy Prabowo, pada Jumat 07 Agustus 20202 lalu mengatakan, "Walaupun pertumbuhan ekonomi Indonesia negatif (minus), tetapi sektor perikanan masih tumbuh positif". Pernyataan ini dilakukan ketika meluncurkan Buku Besar Kemaritiman Indonesia, yang merupakan karya bersama para pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan, para akademisi, beberapa anggota LSM, dan beberapa peneliti swasta.

Sehari kemudian, koran Kompas Sabtu, 08 Agustus 2020 menuliskan bahwa sektor pertanian, kehutanan dan perikanan masih tumbuh 2,19% pada triwulan 2 tahun 2020. Memang, tahun 2019 pada triwulan yang sama, tumbuhnya 5,33%. Ibarat pertandingan bola, sektor ini masih menang.

Hal-hal tersebut, sekali lagi menunjukkan bahwa sektor-sektor alamiah Indonesia adalah tulang ekologi dan daging ekonomi negara. Sektor alamiah lain yang sukses bertahan dari krisis adalah pengadaan air, pengolahan sampah/limbah dan daur ulang ; informasi dan komunikasi; dan jasa-jasa. Istilah pakem ekonominya, comparative advantage.

Keunggulan komparatif Indonesia sebagai negara maritim dan juga didukung wilayah perairannya 70% adalah laut, nyata sekali lagi. Setelah krisis ekonomi 1998, lalu 2008, lalu 2020, sektor perikanan, pertanian dan kehutanan tetap menjadi bemper (shock absorber) ketahanan ekonomi negara.

Mengapa bisa tetap untung?

Analisis ekonominya mari kita buat sederhana. Karena yang baca merupakan umum, penulis coba buat mudah.

Dalam produksi barang dan jasa, ada ongkos fabrikasi (biaya input material, biaya jasa operator, dan biaya perawatan aset). Hal ini merupakan biaya-biaya tetap yang tidak dapat dihilangkan. Biasanya sekitar 60-70% dari ongkos produksi.

Nah, dalam produksi ikan Tuna, ikan Tongkol, Cakalang, dan lainnya, biaya 60-70% tadi tidak diperlukan. Jadi kita tinggal panen dan jual. Selesai. Sederhana. Untungnya pasti.

Jadi, walaupun kita tidak efisien dalan sistem rantai-dingin, tidak efisien dalam ukuran kapal, tidak efisien dalam penanganan di pelabuhan, dll, kita berhasil memotong biaya 60-70% tadi.

Memang masih banyak ruang untuk perbaikan efektifitas sektor perikanan. Tapi yang jelas, keunggulan komparatif itu tidak dimiliki negara-negara ASEAN lainnya dan kebanyakan negara Asia lain.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN