Yohanes Pambudi
Yohanes Pambudi Officer Bank - Hobi Menulis - Cinta Damai dan Persatuan - Love Indonesia

Channel Officer Bank

Selanjutnya

Tutup

Pemerintahan Pilihan

Ini Dampak Sanksi Baru AS pada Iran

8 Agustus 2018   14:46 Diperbarui: 8 Agustus 2018   17:08 375 1 1
Ini Dampak Sanksi Baru AS pada Iran
Presiden Iran dan AS | Debka.com

Setelah gonjang ganjing mengenai penerapan sanksi dari Amerika Serikat terhadap Iran bergulir beberapa bulan terakhir ini, akhirnya pada Senin tanggal 6 Agustus 2018 presiden Donald Trump secara resmi menjatuhkan sanksi terhadap Iran.

Dilansir dari situs resmi milik negeri Paman Sam, Trump menyebut sanksi terhadap Iran ini termasuk memberlakukan kembali sanksi pada sektor otomotif Iran, logam mulia, dan sebagainya. Sanksi ini efektif berlaku mulai hari Selasa, 7 Agustus 2018.

Cuitan Trump tentang sanksi Iran | dokumentasi pribadi
Cuitan Trump tentang sanksi Iran | dokumentasi pribadi
Selain itu ada pula sanksi yang menyasar sektor energi Iran. Tentu saja hal ini terkait transaksi minyak, lembaga keuangan asing dengan Bank Sentral Iran dan lain lain. Berbeda dengan sanksi diatas, sanki sektor energi Iran baru akan mulai berlaku per tanggal 5 November 2018 mendatang.

Menaikkan Harga Minyak Mentah

Jika diperhatikan dalam beberapa pekan harga minyak mentah cenderung mengalami penurunan tajam sepanjang Juli lalu. Namun kini harga minyak West Texas Intermediate (WTI) mulai bergerak naik. Hal ini terjadi saat sentimen berkurangnya pasokan minyak Iran ke pasar global akibat penerapan sanksi Amerika Serikat terhadap Iran.

Posisi terakhir pada hari Selasa tanggal 7 Agustus 2018 pukul 18.35 WIB, harga minyak WTI kontrak pengiriman September 2018 di New York Mercantile Exchange berada di US$ 69,70 per barel. Harga naik 1% dibandingkan hari sebelumnya. Data tersebut juga menunjukkan bahwa harga minyak WTI sudah naik 3,02% dalam sepekan.

Memang betul bahwa sanksi terhadap Iran spesifik ditujukan untuk ekspor minyak belum efektif berlaku. Hal itu baru akan direalisasikan pada November mendatang. Namun demikian nampaknya pasar bergerak lebih dini dalam antisipasi berkurangnya suplai minyak mentah di pasar global.

Negara Eropa Memilih Mengamankan Bisnis Mereka

Demikian lansir dari kanal berita The Guardian, nampaknya Eropa punya kebijakan untuk lebih mengamankan bisnis mereka terhadap Iran. Hal ini diungkapkan oleh kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa yaitu Federica Mogherini. Mogherini memberikan himbauan resmi kepada para pengusaha.

Dalam pernyataan resminya perwakilan tinggi Uni Eropa untuk urusan luar negeri, mengatakan Brussels tidak akan membiarkan perjanjian 2015 dengan Teheran mati. Dia menuturkan kepada para pengusaha untuk mengabaikan sanksi ekonomi Iran yang dijatuhkan oleh Presiden Amerika Serikat tersebut.

Rekan abadi Iran yaitu Rusia menyatakan kekecewaan yang mendalam terhadap keputusan Presiden AS Donald Trump yang memaksakan sanksi sepihak kepada Iran. Melalui kementerian luar negeri, Rusia juga mengatakan akan melakukan segala hal yang diperlukan untuk menyelamatkan Kesepakatan Nuklir Iran 2015 dan melindungi kepentingan ekonomi bersama dengan Teheran. "Ini adalah contoh nyata dari Washington yang melanggar Resolusi PBB (tentang perjanjian Iran) dan hukum internasional," kata pernyataan itu. (sumber)

Trump sejak awal menjalankan pemerintahannya telah mendesak Iran agar membuka akses untuk memastikan tidak ada lagi aktivitas pembangunan senjata nuklir atau rudal balistik.

Trump bahkan mengatakan dana yang diberikan atas nama JCPOA telah digunakan Iran untuk membangun kekuatan rudal nuklirnya, mendanai terorisme, dan memanasi konflik di Timur Tengah dan lainnya. Menurut saya, langkah ini adalah bukti nyata keberpihakan Trump kepada rekanan AS di Timur Tengah seperti Israel dan Arab Saudi. Dua negara ini dikhawatirkan akan terkena dampak aktivitas dan pengaruh Iran yang kian agresif.

Gejolak Didalam Negeri Iran

Iran belum lama ini mengeluarkan kebijakan yang memperbolehkan perdagangan menggunakan emas atau benda berharga lainnya. Sementara mata uang Iran, Rial mengalami pelemahan mencapai 44.000 per dolar AS. Padahal per Januari yang lalu Rial masih berada pada kisaran 36.099 terhadap dolar AS.

Sanksi AS terhadap Iran akan menarget Bank Sentral Iran, sejumlah pelabuhan , pengapalan , dan bangunan sektor perkapalan, dan layanan asuransi dan keuangan. Dengan adanya sanksi tersebut Iran akan kesulitan melakukan transaksi internasional karena ada halangan akses perbankan. Contohnya seperti pembuatan Letter of Credit (LC) yang umum digunakan untuk bertransaksi lintas negara.

Sanksi AS tentu saja akan memperparah tidak hanya ekonomi melainkan juga politik Iran yang saat ini juga mengalami gejolak.  Di dalam negeri yang Iran belum lama ini ada unjuk rasa besar-besaran  yang dilakukan oleh warga Iran pada akhir pekan lalu.

Presiden Iran Hassan Rouhani pun akhirnya melunak. Rouhani dalam pernyataan resminya pada stasiun TV milik pemerintah menyatakan dirinya siap untuk menyambut dilakukannya pembicaraan dengan tanpa syarat apapun. Iran justru menyalahkan AS dengan mundur dan keluar dari dialog JCPOA. JCPOA sendiri adalah kependekan dari Joint Comprehensive Plan of Action atau biasa disebut kesepakatan nuklir Iran antara Iran dengan Dewan Keamanan PBB (China, Perancis, Rusia, Inggris, Amerika Serikat, dan Jerman) serta perwakilan Uni Eropa di Vienna -- Austria tanggal 14 Juli 2015.