Humaniora

Selembar Kertas

7 Maret 2018   12:42 Diperbarui: 7 Maret 2018   12:59 289 0 0
Selembar Kertas
Sumber: https://www.bukalapak.com

Kertas, apa maknanya buat saya dan teman-teman semuanya? Di warung gorengan ada kertas, fungsinya untuk pembungkus gorengan. Di kedai-kedai juga ada kertas yang difungsikan untuk membungkus barang dagangan. Lalu kita perhatikan koran yang lama juga tidak ada yang baca lagi karena informasinya sudah kadaluarsa sehingga hanya dimanfaatkan untuk alas kaki bagi mobil yang baru didoorsmeer, atau tak lebih dari barang bekas yang dijual perkilonya hanya diharga dua atau tiga ribu rupiah.

Bandingkan dengan kertas dalam bentuk buku yang isinya merupakan produk pemikiran orang brilian dan hebat. Kertas tersebut akan dilindungi dan tidak dibiarkan lapuk. Kecuali orang yang tidak tau pentingnya buku tersebut. Demikian halnya kertas koran, ketika beritanya masih aktual, maka semua mencari dan mengejarnya. Kalau sudah usam beritanya, maka koran tidak lagi berharga.

Saat mengambil SK kenaikan pangkat ke BKD Aceh Tengah, saya membuka amplop yang berisikan SK. Saya berpikir, apalah arti selembaran kertas ini. Ya hanya selembar kertas. Tapi itu sangat berarti ketika ada pernyataan kenaikan pangkat dan yang menandatanganinya pejabat. Inilah yang kemudian membuat selembar kertas ini sangat berarti bagi saya. Kalaulah kertas ini tidak berisi informasi yang berharga, maka ribuan kertas dalam bentuk dan ukuran yang sama mungkin akan saya abaikan dan kalau pun saya miliki, fungsinya tidak lebih dari sekedar untuk bungkusan.

Di sini ada pelajaran penting yang patut kita renungkan. Bahwa yang berharga bukanlah kertasnya, tetapi informasi yang ada di dalamnya. Makin penting informasi atau isi kertas tersebut, maka semakin tinggilah nilainya. Pelajaran pentingnya adalah bahwa kita manusia bagaikan selembar kertas. Bahwa yang membuat kita bernilai bukanlah fisik, tetapi jiwa kita sebagai substansi kemanusiaan.

Pada akhirnya orang tidak akan pernah melihat siapa kita, dalam jabatan apa kita, sekaya apa kita, keturunan siapa kita, tapi yang dilihat dan dinilai seorang adalah sebaik atau seburuk apa akhlak kita. Itulah yang membuat kita berharga atau tidak di mata orang lain. Kita ini seperti kertas. Mari renungkan.