Mohon tunggu...
Johanis Malingkas
Johanis Malingkas Mohon Tunggu... Dosen

Melukiskan pikiran dan rasa lewat kata-kata

Selanjutnya

Tutup

Thrkompasiana Pilihan

Pulang

1 Juni 2019   15:45 Diperbarui: 1 Juni 2019   15:46 0 13 4 Mohon Tunggu...
Pulang
sampul buku novel Tere Liye(sumber:pinterest.com)

Pulang. Ini satu kata sederhana namun bikin aku pusing tujuh keliling. Hanya enam huruf P U L A N G, kan? Keterlaluan amat mereka yang menganjurkan peserta lomba mengarang dengan judul seperti ini. Apalagi bila tidak ikut akan di diskualifikasi panitia mendapatkan hadiah utama sebuah sepdea motor. Pusing. 

Aku memang suka menulis namun bukan tulisan fiksi. Aku menulis tulisan ilmiah berupa makalah. Maklum, aku mahasiswa tingkat akhir di perguruan tinggi di kota ini. 

Aku pun bukan seorang pengarang novel seperti Tere Lyre yang sanggup menghipnotis pembacanya dengan buku laris "Pulang". Aku pun bukan seperti kompasianer Lilik Fatimah Azahra yang menulis di Kompasiana sebuah cerpen bertema "Pulang". Akupun bukan seperti kompasianer Latifah Maurinta yang bilang "Tempat Untuk PULANG itu bernama KOMPASIANA".

Sore itu sepulang nya aku dari kampus di rumah kost, aku langsung duduk di meja kerja. Kamar berukuran lima kali enam meter menjadi markasku mengerjakan tugas-tugas dosen dan menyusun skripsi. Sudah sekitar tujuh tahun aku tinggal disitu. Waktu yang panjang bagi seorang mahasiswa. Biasanya cuma empat tahun selesai. 

Aku sebenarnya bukan mahasiswa yang bodoh. Aku cuma mahasiswa yang malas.hehehe. Aku ingat nama seorang kompasianer yang lucu. Tau namanya? Malas Pulang. Aku lihat di profilnya bergabung di Kompasiana 30 Januari 2018. Cuma 3 artikel yang di tulisnya lalu lenyap entah pulang kemana.

Tiga puluh menit aku duduk di depan laptopku. Belum ada satupun kata yang di tulis selain judulnya Pulang. Entah mau memulai dengan kalimat bagaimana. 

Pikiranku lagi kacau. Terbayang wajah profesor pembimbingku yang marah-marah gegara aku belum memasukkan naskah perubahan skripsiku. Suaranya yang mengelegar bagaikan guntur terus mengiang-ngiang di telingaku. 

"Aku tidak mau tahu. Besok pagi sudah ada dimeja ini" katanya dengan mimik yang menakutkan. Aku hanya diam dan mengiyakan sambil tertunduk. Aku tak mau melihat wajahnya. Lalu sebelum meninggalkan ruangan aku hanya berkata "Siap Prof!"

Peristiwa dikampus tadi menganggu konsentrasiku untuk menulis cerpen ini. Itulah nasib mahasiswa yang malas. Belum lagi bila aku mengingat pertanyaan ayahku kalau pulang" Kapan kau selesai, Nak?". Pertanyaan ini yang bikin saya enggan untuk pulang.

Akh. Kenapa aku begitu bodoh dan melupakan bahwa di Kompasiana sudah banyak di tulis tentang "Pulang"?  Kubuka Kompsiana dan memang benar disana bertebaran tulisan apik soal pulang. Mungkin saja aku mendapatkan inspirasi menulis cerpenku dengan menelusuri tulisan-tulisan kompasianer ini.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
VIDEO PILIHAN