Mohon tunggu...
Johan Japardi
Johan Japardi Mohon Tunggu... Penerjemah - Penerjemah, epikur, saintis, pemerhati bahasa, poliglot, pengelana, dsb.

Lulus S1 Farmasi FMIPA USU 1994, Apoteker USU 1995, sudah menerbitkan 3 buku terjemahan (semuanya via Gramedia): Power of Positive Doing, Road to a Happier Marriage, dan Mitos dan Legenda China.

Selanjutnya

Tutup

Inovasi Pilihan

Update Teknologi: Chip Tianjic yang Bisa Mentransformasi AI

23 Agustus 2021   06:04 Diperbarui: 23 Agustus 2021   06:09 310
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Dari berbagai artikel saintifik saya, mulai dari Tabel Periodik Unsur-unsur Kimia, Fisika untuk Hiburan, hingga artikel-artikel lepas terkait sains lainnya, kita bisa melihat bagaimana sains dikembangkan terus-menerus untuk lebih mempermudah hidup manusia.

Satu hal yang menjadi keyakinan saya adalah bahwa yang menjadi ranah manusia adalah unsur Silikon, adik unsur Karbon, penyusun organisme, lihat artikel saya: Karbon dan Ranah Manusia (Silikon).

Eksperimen-eksperimen yang menyentuh ranah di luar Silikon, yaitu Karbon dengan senyawa organiknya, ranah Tuhan, berupa perangkat keras evolvabel (evolable hardware) tampaknya sudah ditinggalkan, karena bahkan saraf paling sederhana yang digunakan, yaitu saraf lintah, tidak bisa dikendalikan oleh manusia.

Akibatnya, kajian-kajian difokuskan ke penemuan prosesor dari generasi yang lebih baru (sekarang i9 untuk prosesor Intel) yang merambah semakin jauh ke dalam skala nanometer, dan akan terhenti karena masalah panas yang ditimbulkan oleh semakin banyaknya transistor yang dimampatkan ke dalam chip prosesor.

Alternatif yang tersedia adalah kajian tentang komputer kuantum yang membutuhkan waktu yang sangat lama dan biaya yang sangat besar.

Selain itu, karena gagal dengan penggabungan saraf lintah yang "sederhana" dengan chip konvensional, maka kajian-kajian serupa dialihkan ke replikasi atau peniruan fungsi saraf manusia, yaikni sebuah AI yang terinspirasikan oleh otak manusia untuk diaplikasikan dalam berbagai peralatan.

Dengan update teknologi dalam artikel ini, para pembaca yang mengikuti ulasannya tidak akan mengalami FOMO (Fear of Missing Out).

Sebuah chip komputer yang terinspirasikan oleh otak manusia bisa membuka jalan bagi Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence/AI), dengan jangkauan kemampuan yang lebih luas.

Sepeda otonom. Sumber: olhardigital.com
Sepeda otonom. Sumber: olhardigital.com
Chip tersebut telah digunakan untuk mengendalikan sepeda otonom, tetapi suatu hari nanti mungkin akan menggerakkan mobil swakendara (self-driving car) dan robot pintar.

Chip itu dibuat oleh Shi Luping dan rekan-rekannya di Universitas Tsinghua di China  dengan perangkat keras yang berbasis struktur otak manusia yang bisa menjalankan dua jenis algoritma.

Sampai saat ini, sebagian besar pendekatan untuk mengembangkan AI terbagi dalam dua kubu. Jenis algoritma yang pertama, dan yang lebih umum adalah jaringan saraf artifisial, yang merupakan model sederhana dari neuron yang didesain untuk menjalankan tugas-tugas pemrosesan komputer tertentu, misalnya pengenalan objek.

Suatu hari nanti, chip komputer fleksibel itu bisa mendayai mobil swakendara dan robot pintar.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Inovasi Selengkapnya
Lihat Inovasi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun