Mohon tunggu...
Johan Japardi
Johan Japardi Mohon Tunggu... Penerjemah - Penerjemah, epikur, saintis, pemerhati bahasa, poliglot, pengelana, dsb.

Lulus S1 Farmasi FMIPA USU 1994, Apoteker USU 1995, sudah menerbitkan 3 buku terjemahan (semuanya via Gramedia): Power of Positive Doing, Road to a Happier Marriage, dan Mitos dan Legenda China.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Albert Balink, Perintis Perfilman Indonesia Sejak 1934

21 Juli 2021   14:11 Diperbarui: 21 Juli 2021   16:10 446
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sulangan untuk Ratu Wilhelmina. Sumber:collectie.wereldculturen.nl

Sulangan untuk Ratu Wilhelmina disampaikan pada Hari Ratu di istana Gubernur Jenderal Tjarda van Starkenborgh Stachouwer, Batavia.

Albert Balink adalah seorang keturunan Indonesia-Belanda yang lahir pada 3 Agustus 1906 di 's-Hertogenbosch, Belanda. Pada 1920-an dan awal 1930-an Balink menjadi  jurnalis di De Locomotief, sebuah surat kabar yang berbasis di Semarang, serta Soematra Post yang berbasis di Medan. Balink banyak menulis tentang film di Indonesia ketika masih bernama Hindia Belanda.

Bersama Wong bersaudara, Balink memulai perusahaan produksi Java Pacific Film pada 1934. Saat itu Balink belum berpengalaman dengan film dan hanya belajar dari buku-buku. Java Pacific Film yang berkantor pusat di sebuah pabrik tua tepung tapioka, pertama kali memproduksi film dokumenter De Merapi Dreigt (Gunung Merapi Menjulang), pada 1934. Film yang diiklankan sebagai film dokumenter pertama dengan suara di Hindia Belanda itu mencapai sukses kritis.

Namun, minat utama Balink adalah pada film layar lebar. Semua film layar lebar yang dirilis di Hindia Belanda antara 1934 dan 1935 disutradarai oleh The Tengchun berdasarkan mitologi atau seni bela diri China, dan ditujukan untuk penonton kelas bawah, umumnya etnis China. Balink berniat untuk menjangkau audiens kelas atas.

Studio tersebut, bekerja sama dengan Mannus Franken,* kemudian memproduksi film Pareh (Bahasa Sunda untuk Beras) pada 1936, sebuah film etnografi yang dianggap sebagai cikal bakal film "Indonesia Indah." Balink membawa Franken ke Hindia Belanda untuk memastikan kualitas artistik film yang mereka buat dan mengupayakan pendanaan dari berbagai sponsor.

*Mannus Franken (2 Februari 1899-1 Agustus 1953), sineas Belanda yang berperan penting dalam perkembangan perfilman Indonesia.

Balink juga menghabiskan lebih dari 1 tahun menjelajahi Hindia Belanda untuk membuat film tersebut, karena dia telah memutuskan seperti apa tokoh-tokoh pemainnya. Namun, film yang menghabiskan biaya produksi 75.000 gulden itu gagal dan membuat bangkrut Java Pacific Film, termasuk Balink pribadi, meski diterima dengan baik di Belanda.

Balink kemudian mendapatkan dukungan keuangan untuk mendirikan Algemeen Nederlandsch Indisch Filmsyndicaat/ANIF (Sindikat Film Umum Hindia Belanda), yang memproduksi film berita pertamanya pada 22 Desember 1936. Reel ini menampilkan Pasar Gambir, kemeriahan di Istana Gubernur Jenderal, dan pelantikan Alidius Warmoldus Lambertus Tjarda van Starkenborgh Stachouwer.*

*Alidius Warmoldus Lambertus Tjarda van Starkenborgh Stachouwer (7 Maret 1888-16 Agustus 1978) adalah seorang bangsawan dan negarawan Belanda, terutama dikenal sebagai Gubernur Jenderal kolonial terakhir Hindia Belanda. Dia ditawan setelah menerima tuntutan Jepang untuk penyerahan pulau-pulau tanpa syarat pada 9 Maret 1942.

Pada 1937, Balink menyutradarai film Terang Boelan, yang sering digambarkan sebagai film Indonesia berdurasi penuh pertama dalam bahasa Melayu. Film ini yang mengisahkan tentang sejoli muda yang tidak mendapat restu orangtua itu ditulis oleh jurnalis Saeroen.*

*Saeroen (Ejaan yang Disempurnakan: Saerun, 1920-an--1962) adalah seorang jurnalis dan penulis skenario Indonesia. Lahir di Yogyakarta, dia menjadi jurnalis setelah beberapa lama bekerja di stasiun kereta api. Pada pertengahan 1930-an dia mendirikan harian Pemandangan bersama Oene Djunaedi dan menulis tajuk rencana dengan nama pena Kampret. Ketika harian itu dibubarkan, Saeroen terjun ke industri film sebagai penulis, membuat debutnya dengan Terang Boelan (1937) karya Albert Balink. Sebagian besar hidupnya di kemudian hari dihabiskan untuk bekerja dengan beberapa publikasi kecil.

Terang Boelan terbukti menjadi produksi lokal yang paling sukses secara komersial sebelum film Krisis, yang dirilis pada 1953 setelah Indonesia merdeka. Akan tetapi, para pendukung studio tidak menyetujui minat Balink pada film layar lebar, yang menyebabkan dia meninggalkan Hindia Belanda untuk mencoba menjadi sutradara Hollywood namun gagal.

Pada 1991 antropolog visual Amerika Karl G. Heider menulis bahwa Pareh dan Terang Boelan adalah dua karya sinematik terpenting dari Hindia Belanda selama 1930-an.

Pada Maret 1938 Balink berimigrasi ke Amerika Serikat, menjadi warga negara, dan bekerja sebagai koresponden untuk de Volkskrant (Surat Kabar Rakyat). Sensus Amerika Serikat 1940 menunjukkan bahwa Balink tinggal di Queens, New York, bersama istrinya Lydia, seorang wanita dari New Jersey yang 12 tahun lebih muda dari Balink. Lydia bekerja dengannya sebagai sekretaris.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun