Mohon tunggu...
Johan Japardi
Johan Japardi Mohon Tunggu... Penerjemah, epikur, saintis, pemerhati bahasa, poliglot, pengelana, dsb.

Lulus S1 Farmasi USU 1992, Apoteker USU 1993, sudah menerbitkan 3 buku terjemahan (semuanya via Gramedia): Power of Positive Doing, Road to a Happier Marriage, dan Mitos dan Legenda China.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Asal-usul Paganistik Halloween

17 April 2021   23:40 Diperbarui: 18 April 2021   00:17 82 3 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Asal-usul Paganistik Halloween
www.deutschland.de

Dari catatan harian, 31 Oktober 2013
Malam ini (malam 1 November) diperingati di banyak negara sebagai malam Samhain (kata dalam bahasa Gaelik yang artinya November), yang merupakan festival orang-orang Gael, yaitu orang-orang yang berbicara dalam bahasa Gaelic Celtic (orang Irlandia, orang Gaelik Skotlandia, dan orang Manx).

Festival ini menandai akhir musim panen dan awal musim dingin atau "paruh tahun yang lebih gelap," yang dirayakan mulai matahari terbenam pada 31 Oktober sampai matahari terbenam pada 1 November, yang kira-kira berada di tengah-tengah equinox (waktu matahari melewati khatulistiwa atau waktu siang dan malam sama lama) musim gugur dan titik balik matahari musim dingin.

Samhain disebutkan dalam beberapa literatur Irlandia paling awal dan diketahui memiliki asal-usul pra-Kristen. Banyak kejadian penting dalam mitologi Irlandia yang terjadi atau dimulai pada Samhain. Samhain adalah waktu ketika ternak dibawa pulang dari perumputan musim panas dan ketika ternak dipotong untuk musim dingin. Pada Samhain, para roh dan peri (Aos S) lebih mudah memasuki dunia fana.

Aos S adalah peninggalan dewa-dewi pagan dan arwah alam. Diyakini bahwa Aos S perlu ditenteramkan (dengan sesajen berupa makanan dan minuman) untuk memastikan bahwa orang-orang dan ternak mereka bisa melewati musim dingin. Arwah orang-orang mati juga diyakini kembali ke rumah-rumah mereka. Kerabat orang-orang yang sudah meninggal itu mengadakan jamuan dan arwah mereka diberi isyarat untuk hadir dan sebagain tempat di meja disediakan untuk mereka.

Membisu dan menyamar adalah bagian dari festival tersebut, dan orang-orang pergi dari pintu ke pintu dengan mengenakan kostum (atau menyamar), kerap membacakan ayat-ayat untuk mendapatkan makanan. Kostum yang digunakan merupakan cara meniru Aos S atau mengelabui mereka.

Pada abad ke-9, Gereja Katolik Romawi menggeser tanggal Hari Segala Suciwan ke 1 November, sedangkan 2 November kemudian menjadi Hari Segala Arwah. Lama kelamaan,  Samhain dan Hari Segala Suciwan/Segala Arwah digabungkan dan menjadi Hari Halloween. Halloween sendiri berarti Malam dari Hari Segala Suciwan (All Hallows' Evening/All Hallows' Eve)*.

*Hallow bisa berarti benda pusaka maupun suciwan (saint).

Almarhumah Listiana Srisanti, seorang editor senior Gramedia Pustaka Utama, menerjemahkan Hallows sebagai "Relikui" yang dalam bahasa Inggrisnya adalah "Relics." Menurut saya tidak selamanya relics (benda peninggalan) adalah pusaka (keramat).

Lorraine Day menjelaskan bahwa Halloween dan beberapa perayaan lainnya sama sekali tidak ada hubungannya dengan kekristenan.

Kristenisasi hari-hari libur pagan dimulai pada sekitar abad ke-4 M ketika Kaisar Romawi Constantine menjadi (atau berpura-pura menjadi) Kristen. Agar bisa mengkonsolidasikan aturan yang dia buat, dia memasukkan hari-hari libur dan festival-festival pagan ke dalam ritual gereja - yang menarik kaum pagan, tetapi dia memberikan nama dan identitas "Kristen" baru pada hari-hari libur dan festival-festival tersebut - dengan demikian menenangkan orang-orang Kristen. Setelah berabad-abad, praktik ini berlanjut sampai sekarang  dan kita mendapati kedua sistem tersebut, Paganisme dan Kekristenan, hampir tidak bisa dibedakan.

Damian Thompson menyebutkan bahwa Halloween adalah pesta setan.

Jonggol, 17 April 2021

Johan Japardi

VIDEO PILIHAN