Mohon tunggu...
Johan Japardi
Johan Japardi Mohon Tunggu... Penerjemah, epikur, saintis, pemerhati bahasa, poliglot, pengelana, dsb.

Lulus S1 Farmasi FMIPA USU 1994, Apoteker USU 1995, sudah menerbitkan 3 buku terjemahan (semuanya via Gramedia): Power of Positive Doing, Road to a Happier Marriage, dan Mitos dan Legenda China.

Selanjutnya

Tutup

Bahasa Pilihan

Seni Membaca

3 April 2021   11:00 Diperbarui: 24 April 2021   06:27 205 3 0 Mohon Tunggu...

Hanya jenis pembacaan ini, penemuan pengarang favorit seseorang ini, yang memberikan manfaat setiap saat. Seperti seorang pria yang jatuh cinta dengan kekasihnya pada pandangan pertama, semuanya cocok. Sang kekasih punya tinggi badan yang cocok, wajah yang cocok, warna rambut yang cocok, kualitas suara yang cocok dan cara berbicara dan cara senyum yang cocok pula. Pengarang ini bukanlah sesuatu yang perlu diberitahukan kepada seorang anak muda oleh gurunya. 

Pengarang ini cocok saja bagi dia; gayanya, rasanya, sudut pandangnya, pola pikirnya, semuanya cocok. Dan kemudian si pembaca melanjutkan untuk melahap setiap kata dan setiap kalimat yang ditulis si pengarang, dan karena mereka memiliki afinitas semangat, dia pun menyerap dan dengan mudah mencerna semuanya. Si pengarang telah mengguna-gunai dia, dan dia senang diguna-gunai, dan selanjutnya suara, cara senyum dan cara berjalannya pun menjadi seperti suara, cara senyum dan cara berjalan si pengarang. 

Jadi dia benar-benar merendamkan dirinya dalam kekasih sastranya dan dari buku-buku ini dia pun mendapatkan makanan dan minuman bagi jiwanya. Setelah beberapa tahun, guna-guna itu pun berakhir dan dia menjadi sedikit lelah dengan sang kekasih ini dan mencari kekasih sastra yang baru, dan setelah dia memiliki tiga atau empat kekasih dan sudah melahap mereka semua, dia sendiri pun menjadi seorang pengarang. Ada banyak pembaca yang tidak pernah jatuh cinta, seperti banyak pemuda dan pemudi yang menggoda ke-sana ke-mari dan tidak mampu membentuk kemelekatan yang mendalam dengan seseorang. Mereka bisa membaca buku apapun dari pengarang manapun, dan mereka tidak pernah mencapai apa-apa.

Konsep yang demikian mengenai seni membaca sepenuhnya sudah mencakupkan gagasan tentang membaca sebagai sebuah kewajiban atau keharusan. Di China, orang sering menganjurkan para murid untuk "belajar dengan getir." Ada seorang siswa yang belajar dengan getir dan menusukkan jarum ke batok kepalanya ketika dia mengantuk pada saat belajar di malam hari. Ada pula seorang siswa yang menyuruh seorang pelayan berdiri di sampingnya ketika dia sedang belajar di malam hari, untuk membangunkan dia ketika dia mengantuk. Ini omong kosong. 

Jika ada sebuah buku di hadapan seseorang dan dia mengantuk ketika sang pengarang kuno yang bijaksana sedang berkata-kata kepadanya, sebaiknya dia pergi tidur saja. Tusukan jarum ke batok kepala atau dibangunkan oleh pelayan tidak akan memberikan manfaat apa-apa. Orang seperti itu telah kehilangan seluruh perasaan nikmat membaca. Para cendekiawan yang terkenal tidak pernah tahu apa yang disebut dengan "belajar giat dan lama" atau "belajar getir". Mereka cuma menyukai buku-buku dan terus membaca karena tidak bisa menahan diri mereka.

Dengan pertanyaan yang sudah terjawab ini, terjawab juga pertanyaan mengenai waktu dan tempat membaca. Tidak ada waktu dan tempat yang tepat untuk membaca. Jika  timbul suasana hati untuk membaca, orang bisa membaca di mana saja. Jika seseorang tahu menikmati pembacaan, dia akan membaca di sekolah atau di luar sekolah, atau di luar sekolah manapun. Dia bahkan bisa belajar di sekolah-sekolah terbaik. Ceng Guofan, dalam salah sebuah surat kepada keluarganya tentang hasrat salah seorang adiknya untuk datang ke ibukota dan belajar di sekolah yang lebih baik, menjawab demikian:

"Jika seseorang memiliki hasrat belajar, dia bisa belajar di sekolah desa, atau bahkan di padang pasir atau jalanan yang padat, dan bahkan bisa sambil memotong kayu atau menggembalakan ternak. Tetapi jika seseorang tidak memiliki hasrat belajar, bahkan rumah yang tenang di desa atau pulau yang menyenangkan sekali pun bukan tempat yang tepat baginya untuk belajar." 

Ada orang-orang yang mengambil postur diri-penting di meja ketika mereka akan mulai membaca, dan kemudian mengeluh mereka tidak bisa membaca karena ruangannya terlalu dingin, atau kursinya terlalu keras, atau cahaya lampunya terlalu kuat. Dan ada para penulis yang mengeluh mereka tidak bisa menulis karena banyak nyamuk, atau kertas tulisnya terlalu mengkilap, atau bunyi dari jalanan terlalu bising. 

Cendekiawan besar dari Dinasti Song, Ouyang Xiu, mengaku ada "tiga di atas" untuk melakukan penulisannya yang terbaik: di atas bantal, di atas punggung kuda dan di atas toilet. Cendekiawan terkenal lainnya dari Dinasti Qing, Gu Qianli, terkenal dengan kebiasaan "membaca kitab klasik Konfusian sambil bertelanjang" di musim panas. Sebaliknya, ada alasan yang baik untuk tidak membaca sama sekali dalam musim apapun dalam setahun, jika seseorang tidak suka membaca:

Belajar di musim semi adalah pengkhianatan,
Dan musim panas adalah alasan terbaik untuk tidur,
Jika musim dingin bergegas menggantikan musim gugur,
Berhentilah membaca sampai musim semi berikutnya.

Jadi, apa seni membaca yang sejati? Jawaban yang sederhana adalah ambil saja sebuah buku dan baca buku itu selagi ada suasana hati. Untuk bisa dinikmati sepenuhnya, pembacaan harus benar-benar spontan. Seseorang mengambil tumpukan buku karya Lisao, atau karya Omar Khayyam, dan pergi bergandengan tangan dengan kekasihnya itu untuk membaca buku di tepi sungai.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x