Politik

Membumikan Nilai-nilai Kemerdekaan Dalam Masyarakat Majemuk

17 Agustus 2015   06:01 Diperbarui: 17 Agustus 2015   06:01 56 0 2

Sebuah Refleksi HUT RI ke 70

70 tahun yang silam tepatnya Jumat 17 Agustus 1945 tahun Masehi, atau tanggal 17 Agustus 2605 menurut tahun Jepang, dan tanggal 8 Ramdan 1364 menurut kalender Hijriah, atas nama bangsa Indonesia Ir. Soekarno yang didampingi oleh Drs. Muhammad Hatta membacakan naskah Proklamsi Kemerdekaan Indonesia dari halaman kediaman rumahnya di Jl. Pegangsaan Timur No. 56, Jakarta Pusat. Kemerdekaan yang diproklamsikan itu bukanlah hadiah para penjajah  kepada bangsa Indonesia, namun semata-mata atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan didorong oleh keinginan yang luhur, sebagaimana ditegaskan dalam UUD 45 alinea ke 3. Dengan pengertian Proklamasi kemerdekaan bangsa Indonesia merupakan jerih lellah para patriot-patriot bangsa, yang dilandasi oleh semangat kebangsaan. seluruh komponen bangsa bersatu padu: Jong java, Jong Soematranen Bond, Jong Bataks Bond, Jong Islamieten Bond, Pemoeda Indonesia, Jong Celebes, Jong Ambon, dan Pemoeda Kaoem Betawi, satu tekad, saling bahu membahu, tidak ada sentimen kesukuan, kedaerahan, apalagi yang namanya sentimen agama, melebur menjadi sebuah kekuatan, dan telah mengorbankan nyawa maupun harta yang tidak terhitung guna meraih sebuah kemerdekaan. Maka peristiwa Proklamasi Kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945 merupakan titik kulminasi perjuanganbangsa Indonesia. Namun itu bukanlah hasil akhir dari sebuah perjuangan.

              70 tahun Indonesia telah merdeka. tentunya bukanlah sebuah usia muda lagi. Seperti apa wajah Indonesia setelah menggapai usia 70 tahun? Kita memang harus akui pembangunan bangsa ini terus digalkkan guna terwujudnya  tujuan bangsa Indonesia sebagaimana termaktub dalam UUD 45 "Memajukan Kesejahteraan Umum". Dilain sisi, kita juga tidak bisa pungkiri, wajah negeri ini terus dicoreng moreng oleh mereka-mereka yang mengobarkan kebencian, sentimen; baik sentimen pribadi, kelompok, golongan amat terlebih sentimen agama. gejolak sosial yang sering terjadi memberikan sinyal kepada kita bahwa nilai persatuan dan kesatuan sudah mengaami degradasi dari anak-anak pertiwi. lihatlah gejolak sosial yang dibungkus dengan sentimen agama tersu menghantui negeri ini. Kita terperangah dengan kerusuhan yang terjadi di Tolikara, Wamena, Papua, padahal sebelumnya perdamaian begitu terjaga diwilayah ini. Dan yang lebih memahitkan lagi adanya selebaran yang mengatasnamakan Jemaat tertentu bahwa di wilayah Toli selalu melarang agama lain dan Gereja Denominasi lain. Peristiwa sentimen-sentimen atas nama kelompok agama tertentu di republik ini bukanlah yang pertama. Ingatan kita masih segar tentunya akan nasib jemaat GKI Yasmin yang ada di Bogor, pelarangan terhadap Jemaah Ahmadiyah untuk melaksanakan ibadah disejumlah tempat, dan tentunya masih banyak lagi. Bangsa ini memang seolah-olah lupa akan jati dirinya yang sesungguhnya. Sila Persatuan Indonesia yang dimuat di dasar negara kita, berbeda-beda tetapi satu juga (bhineka Tunggal Ika), sepertinya hanya selogan semata. Mengapa tidak, karena anak-anak bangsa ini masih ada yang berni berkata bahwa agama, suku tertentu yang bisa tumbuh subur di daerah itu, sementara yang lain jangan harap. Padahal kita berkata "Satu Tanah Air Tanah Air Indonesia. Sepertinya! ini pun hanya sekedar retorika atau malah sudah dilupakan.