Mohon tunggu...
Joe Hoo Gi
Joe Hoo Gi Mohon Tunggu... Media berbasis situs weblog dengan tagar Indonesia Raya berjuang mengeksplorasi sejarah, peradaban politik, ekonomi, sosial, kebudayaan, ilmu pengetahuan dan tekhnologi.

Media berbasis situs weblog dengan tagar Indonesia Raya berjuang mengeksplorasi sejarah, peradaban politik, ekonomi, sosial, kebudayaan, ilmu pengetahuan dan tekhnologi.

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan

Tingginya Krisis Kepercayaan Masyarakat terhadap Virus Corona

4 Oktober 2020   04:18 Diperbarui: 4 Oktober 2020   07:57 739 3 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Tingginya Krisis Kepercayaan Masyarakat terhadap Virus Corona
ilustrasi pribadi

Tidak usainya penanganan wabah pandemi virus Corona/Covid-19/SARS-CoV-2 di Tanah Air yang sudah berjalan selama 7 bulan lebih terhitung sejak bulan Maret 2020, belum lagi ditambah corat-marutnya sistem penanganan Negara terhadap wabah pandemi virus Corona/Covid-19/SARS-CoV-2 , telah membuat sebagian rakyat Indonesia sudah tidak peduli dan bahkan sudah mengalami krisis kepercayaan terhadap- keberadaan virus Corona/Covid-19/SARS-CoV-2.

Berbeda ketika awal mulai merebaknya wabah pandemi virus Corona/Covid-19/SARS-CoV-2 yang dimulai dari bulan Maret sampai Juli, tampaknya sebagian besar masyarakat Indonesia masih mau peduli dan percaya terhadap bahayanya wabah pandemi virus Corona/Covid-19/SARS-CoV-2. Tapi ketika wabah pandemi virus Corona/Covid-19/SARS-CoV-2 mulai merangkak ke bulan Agustus hingga sampai sekarang, lambat laun kepercayan sebagian besar masyarakat Indonesia mulai tergerus hingga sampai tidak mempercayai lagi kalau keberadaan virus Corona/Covid-19/SARS-CoV-2 benar-benar nyata adanya.

Beberapa kali saya sudah menemui berbagai komponen masyarakat di berbagai daerah untuk menanyakan perihal virus Corona/Covid-19/SARS-CoV-2 ini, jawaban mereka ternyata seragam betapa masyarakat ternyata sudah tidak mempercayai dan tidak mau peduli lagi terhadap keberadaan virus Corona/Covid-19/SARS-CoV-2. Kalau pun mereka memakai masker karena faktor kewajiban dari protokol kesehatan yang sudah diterapkan. Kalau misalnya protokol kesehatan yang diterapkan ini tidak diwajibkan atau yang melanggar tidak dikenakan sanksi maka masyarakat lebih memilih untuk tidak memakai masker.

Kondisi ketidakpercayaan masyarakat terhadap keberadaan virus Corona/Covid-19/SARS-CoV-2 diakui sendiri oleh Doni Monardo, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dalam Rapat Kerja dengan Komisi VIII DPR, 3 September 2020. Pendapat serupa juga dirasakan oleh Prof. Paulus Wirutomo Paulus, Sosiolog dari Universitas Indonesia. Bahkan survei Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat sebanyak 45 juta masyarakat Indonesia tidak mempercayai Corona/Covid-19/SARS-CoV-2.

Dalam kesempatan ini saya mencoba mencatat dari beberapa alasan krusial yang menjadi akar penyebab mengapa masyarakat tidak lagi menaruh kepedulian dan tidak mempercayai keberadaan virus Corona/Covid-19/SARS-CoV-2. Beberapa alasan krusial ini memang beragam tapi tetap berujung pada kesimpulan yang sama bahwa telah terjadi krisis kepercayaan dari masyarakat kepada keberadaan virus Corona/Covid-19/SARS-CoV-2.

Alasan Krusial Pertama

Selama ini yang terjadi di setiap rumah sakit telah dirasakan oleh sebagian besar masyarakat sendiri, setiap penyakit yang diderita oleh pasien selalu saja vonisnya menyasar pada virus Corona/Covid-19/SARS-CoV-2. Dengan kata lain banyak pasien menderita penyakit yang bukan disebabkan virus Corona/Covid-19/SARS-CoV-2 tapi oleh pihak Rumah Sakit selalu saja dengan mudahnya divonis sebagai penderita virus Corona/Covid-19/SARS-CoV-2. 

Stigmatisasi ini telah membuat masyarakat menjadi apatis sesungguhnya mana wujud hakiki dari penyakit virus Corona/Covid-19/SARS-CoV-2, jika semua nama penyakit yang diderita selalu saja diklaim sebagai virus Corona/Covid-19/SARS-CoV-2? Padahal yang namanya penyakit itu pasti akan membawa efek gejala dari penyakit yang dideritanya. Misal penyakit cacar, pes, kolera, malaria, demam berdarah, thipus, tbc, stroke, asma dan lain-lain pasti membawa efek gejala yang ditimbulkan dari penyakit tersebut. Berbeda dengan virus Corona/Covid-19/SARS-CoV-2 yang tidak memiliki efek gejala yang ditimbulkan kecuali hanya stigmatisasi. Apa lagi dalam updatenya ditemukan penderita virus Corona/Covid-19/SARS-CoV-2 bisa didapatkan kepada orang tanpa gejala. Ini artinya orang sehat pun bisa distigmatisasi sebagai penderita virus Corona/Covid-19/SARS-CoV-2. Kalau memang ditemukan kasus virus Corona/ Covid-19/SARS-CoV-2 yang tidak membawa efek gejala penyakit yang dirasakan, lantas apa yang perlu ditakutkan dari virus Corona/Covid-19/SARS-CoV-2?

Alasan Krusial Kedua

Mencla-menclenya setiap kali mengeluarkan statement dalam penanganan virus Corona/Covid-19/SARS-CoV-2 oleh para pihak yang diberi tugas dalam penanganan virus Corona/Covid-19/SARS-CoV-2 ini telah membuat masyarakat semakin bingung mana pendapat yang harus dipercaya jika pada setiap waktu dalam satu mulut yang sama selalu memberikan statement berbeda-beda dan saling kontradiksi.

Tidak konsistennya setiap kali mengeluarkan statement oleh para pihak yang diberi tugas dalam penanganan virus Corona/Covid-19/SARS-CoV-2 ini sudah dirasakan masyarakat sejak bulan Maret 2020 ketika virus Corona/Covid-19/SARS-CoV-2 mulai merebak di Indonesia. Misal, statement awalnya masyarakat yang sehat dihimbau untuk tidak memakai masker dan hanya orang sakit dan para medis diwajibkan memakai masker. Tapi berkembangnya waktu staterment berubah kembali, masyarakat diwajibkan menggunakan masker tanpa ada yang dikecualikan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x