Joko Martono
Joko Martono penulis lepas

belajar memahami hidup dan kehidupan

Selanjutnya

Tutup

Budaya Pilihan

Masyarakat Wamena Bangkit untuk Melestarikan Budaya

17 Mei 2018   17:46 Diperbarui: 17 Mei 2018   18:03 407 26 15

Sebuah kehormatan bisa mengikuti seminar sehari, menyatu dengan para tokoh/warga setempat (Lembah Baliem/Wamena) membahas bersama tentang kebudayaan.  Forum yang digagas/diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Pemkab Wamena ini  merupakan ajang diskusi dan berbagi bersama untuk menggugah betapa perlunya revitalisasi budaya lokal di tengah percepatan zaman sehingga nilai keasliannya diharapkan jangan sampai punah.

Seminar yang dibuka oleh Bupati Wamena, diwakili Sekda J.Walilo berlangsung cukup bergairah dan terkesan dinamis diikuti sekitar 200-an peserta dari berbagai kalangan. Dalam sambutannya, Walilo mengatakan bahwa  setiap suku bangsa memiliki keunikan masing-masing.

Kita semua harus fokus, mulai generasi tua hingga yang muda untuk bersama-sama mengenal dan menemukan kembali nilai-nilai budaya yang kita miliki, supaya budaya kita tetap lestari dengan keunikan atau kekhasannya.

Disebutkan bahwa kita memiliki banyak ragam budaya, mulai benda-benda tinggalan masa lalu berupa artefak, situs-situs prasejarah, termasuk seni tarik suara/musik, seni-budaya tari,  hingga budaya kuliner dengan ciri khas Wamena. Itu semua merupakan asset yang kita miliki.

"Namun sangat disayangkan bilamana budaya tersebut hanya dipahami oleh generasi tua. Sementara generasi muda sebagai generasi penerus  jangan dibiarkan tumbuh berkembang tanpa dibarengi pemahaman budayanya sendiri," tambahnya.

Dicontohkan pula, dalam bidang seni musik kita punya alat musik tradisional seperti pikon, ini patut dilestarikan keberadaannya karena punya nilai sejarah dan nilai-nilai unik/khas kelokalan.

Kalaupun kini berkembang kreativitas seni-dan budaya dengan sentuhan peralatan modern serba elektronis itu tak dilarang -- namun jangan sampai keaslian apa yang kita miliki menjadi hilang, tetap perlu dilestarikan karena ada nilai yang terkandung di dalamnya. Demikian pula budaya lokal lain yang masih ada layak ditularkan kepada generasi muda, mengingat budaya itu adalah milik kita.

Seminar sehari bertema: Melestarikan Budaya Suku Hubula berlangsung tanggal 15 Mei 2018 di Aula Hotel Sartika, Jalan Bhayangkara, Wamena ini juga menghadirkan pembicara dari Dinas Pariwisata Provinsi Papua, diwakili Jeremias C.Koridama.

Dalam pemaparannya, Koridama menyebutkan bahwa secara umum pembangunan budaya di Papua dikelompokkan dalam berbagai aspek, di antaranya: pengelompokan berdasar sebaran bahasa, struktur sosial atau sistem kekerabatan, berdasarkan prinsip pewariasan, batas wilayah budaya, sistem politik tradisional, pendekatan paroh masyarakat, wilayah ekologis, dan pengelompokan berdasarkan unsur kesenian.

Dinas Kebudayaan Provinsi Papua selalu mendukung terwujudnya tata nilai budaya masyarakat yang berbasis pada nilai-nilai luhur budaya lokal. Ini merupakan upaya fasilitasi sesuai visi yang diusung untuk tahun 2019-2030 yaitu "Terwujudnya Papua sebagai Pusat Kebudayaan Melanesia dengan Lingkungan Masyarakat yang Maju, Mandiri, dan Sejahtera."

Sebagai pusat kebudayaan Melanesia maka melalui misinya diharapkan mampu memilih serta menyerap budaya modern yang positif dan tetap melestarikan budaya daerah.

Beberapa strategi untuk menggapainya antara lain: peningkatan kapasitas, kompetensi, kualifikasi, kesejahteraan, dan perlindungan bagi pelaku budaya di tanah Papua, penguatan kemitraan dengan pihak akademisi, praktisi, pihak legislatif, dan pelaku budaya di Papua, penguatan kelembagaan satuan pendidikan layanan kebudayaan (sanggar budaya, situs, komunitas budaya, dan sejenisnya), serta sinkronisasi kebijakan pusat dan daerah dalam pengembangan kebudayaan di tanah Papua.

Pembicara lain yakni arkeolog Erlin N.Idje Djami, dalam makalahnya memaparkan lebih jauh tentang makna dan pelestarian budaya. Diawali dengan pemahaman budaya hingga implementasinya dalam kehidupan dan perlu dilestarikannya budaya lokal Hubula (suku yang dominan di Wamena, atau sering pula disebut suku Dani).

Dibahas Erlin secara mendalam dan lebih bersifat praksis mulai potensi budaya suku Hubula dan pemahaman tentang budaya tersebut, pelestarian dan pemanfaatannya.

"Sumberdaya budaya merupakan nilai identitas diri suku bangsa yang harus dirawat, dilindungi, dimanfaatkan keberadaannya sebagai dasar pijakan dalam membangun segala bidang yang berbasis nilai-nilai lokal. Rasa memiliki layak ditanamkan bagi seluruh kalangan, baik secara formal maupun non-formal, bahkan pembelajaran budaya bisa dilakukan sejak anak usia dini" jelasnya.

Pembicara/penyaji makalah  di sesi terakhir yaitu Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kab.Wamena, Alpius Wetipo memaparkan panjang lebar tentang makna yang terkandung dalam perang suku Hubula-Balim, Papua.

Disampaikan dalam forum bahwa dalam suku Hubula,  perang ataupun perang suku tidak begitu saja terjadi, tetapi perang mempunyai sejarah. Seperti halnya perang suku Hubula adalah kejadian yang pernah terjadi, sehingga saat ini masih dikenang oleh anak cucu yang menyaksikan kejadian masa lalu. Dalam konteks suku Hubula, ada dua macam perang di antaranya: perang suku (itima wim/wein), dan perang saudara (uma/oma wim).

Perang suku, merupakan perang yang dilakukan antar suku, suku yang satu dengan yang lain. Berdasar sejarah masa lalu, perang suku masyarakat Hubula dilakukan berdasarkan simbol yang disakralkan di dalam Honai Adat yaitu Sue warek. Perang suku ini ada syarat-syaratnya yaitu memiliki honai adat untuk menyimpan alat bukti kemenangan, melakukan penyerangan, memiliki aturan, perencanaan dan punya strategi perang. Perang ini dilakukan secara turun temurun.

Sedangkan perang saudara, merupakan perang dilakukan antara klen suku secara spontan, misalnya saat itu ada perselingkuhan, pencurian ternak babi, masalah honai adat, dan sebagainya. Perang ini tidak memiliki honai adat untuk menyimpan alat bukti yang disebut sue warek. Dalam perang inipun akan selesai apabila ada korban, melakukan upacara perdamaian, bayar kepala secara adat dan tidak menyimpan dendaman.

Pembahasan soal perang ini dipaparkan dalam suasana penuh semangat, mengundang banyak atensi peserta manakala dikaitkan dengan aspek kepemimpinan, pendidikan, kesehatan, ekonomi, sosial-budaya sehingga banyak nilai budaya lokal yang bisa dipetik dan dipahami untuk membuka/menambah wawasan peserta seminar. 

Suasana seminar sangat dinamis, semua topik yang disampaikan pembicara mendapatkan respons berupa pertanyaan yang diajukan beberapa peserta dengan penuh apresiasi.

Sesi tanya-jawab  silih berganti sebetulnya masih menarik dilanjutkan -- namun mengingat keterbatasan waktu maka panitia akhirnya membatasi para penanya dan memberikan waktu kepada masing-masing pembicara/penyaji makalah untuk memberi jawaban hingga dipahami oleh setiap peserta yang bertanya. Seminar yang dimulai pukul 09.00 ditutup menjelang petang sekitar pukul 17.00 WIT, secara keseluruhan berjalan lancar.

Masih dalam rangkaian seminar budaya, sejak 16 s/d 18 Mei diadakan berbagai kegiatan antara lain: Lomba seni tari daerah dan seni tarik suara/musik etnik terutama diikuti para pelajar SD, SMP, SMA/SMK se-Wamena.

Menurut salah satu panitia, Naftali F.Rumbiak, lomba dimaksudkan selain dalam rangka menampilkan budaya lokal juga mencari bibit-bibit generasi penerus yang nantinya menjadi pelaku sekaligus sebagai pelestari budaya daerah. Di samping itu, diselenggarakan pula pameran budaya kuliner khas Wamena.  

Tentu saja melalui kegiatan atau event-event demikian diharapkan kebudayaan daerah yang penuh dengan nilai-nilai kearifan lokalnya tidak tergerus oleh arus global yang kini cenderung mewabah hingga ke pelosok negeri sehingga (terutama generasi muda) tetap memiliki jati diri menjadi generasi penerus yang tangguh, memiliki karakter untuk ikut serta membangun daerah dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

JM (17-5-2018).