Mohon tunggu...
Jimmy S Harianto
Jimmy S Harianto Mohon Tunggu... Jurnalis - Mantan Redaktur Olahraga dan Desk Internasional Kompas

Redaktur Olahraga (1987-1993), Wakil Redaktur Opini dan Surat Pembaca (1993-1995), Redaktur Desk Hukum (1995-1996), Redaktur Desk Features dan Advertorial (1996-1998), Redaktur Desk Internasional (2000-2003), Wakil Redaktur Kompas Minggu (2003-2008), Redaktur Desk Internasional (2008-2012)

Selanjutnya

Tutup

Olahraga Artikel Utama

Carlos Alcaraz "The Next Slammer"

13 September 2022   04:45 Diperbarui: 13 September 2022   10:09 259 14 1
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana Adalah Platform Blog. Konten Ini Menjadi Tanggung Jawab Bloger Dan Tidak Mewakili Pandangan Redaksi Kompas.
Lihat foto
Carlos Alcaraz terima trofi dari legenda tenis AS, John McEnroe di Flushing Meadows, Minggu (11/09)

Serba pertama kali, dilakukan oleh petenis Spanyol Carloz Alcaraz ketika ia menjuarai turnamen tenis seri  Grand Slam, Amerika Serikat Terbuka 2022 hari Minggu (Senin pagi, 12 September 2022 WIB). Baru pertama kalinya tampil di final turnamen seri Grand Slam, langsung jadi juara dan sekaligus kali pertama pula menjadi petenis nomor satu dunia di usia 19 tahun. Tidak pernah ada petenis dunia manapun yang menjadi nomor satu dunia pada usia seremaja itu. Tidak juga Rafael Nadal, Roger Federer, Novac Djokovic ataupun Pete Sampras.

Di lapangan Flushing Meadows, New York, Alcaraz justru mengulangi prestasi petenis hebat dunia dari AS, Pete Sampras, yang menjuarai untuk pertama kalinya di turnamen seri Grand Slam di AS Terbuka pada usia 19 tahun pada bulan September 1990. Pete dicatat sebagai juara Grand Slam termuda kala itu. Seperti dilakukan Carlos Alcaraz sekarang ini.

Nah, hari Minggu itu begitu bola terakhir petenis Norwegia, Casper Ruud (23) keluar lapangan, dan Alcaraz memenangi pertarungan final di Flushing Meadows dalam empat set, 6-4, 2-6, 7-6 (7-1), 6-3 hari Minggu (11/9), maka remaja Spanyol itu pun mencatat sejarah "serba pertama" tersendiri di dunia tenis. Dan tak hanya itu. Alcaraz pun diramalkan nanti bakal sehebat tiga GoAT (legenda tenis), Rafael Nadal, Roger Federer dan Novac Djokovic, jika konsisten permainannya di masa datang. Alcaraz diramalkan jadi "The Next Slammer", petenis yang bakal berkali-kali juara turnamen Grand Slam di masa datang.

Alcaraz pun langsung merebahkan badannya, berguling bertumpu perutnya, ke lapangan yang kebetulan baru pertama kali pula dimainkan di atas permukaan yang terbaru, 'Laykold' hard court. Selama 44 tahun sejak 1978 AS Terbuka di Flushing Meadows selalu memakai permukaan sintetis, Deco Turf. Namun ketika turnamen turnamen berhadiah total 2,6 miliar dollar AS (hampir Rp 39 milyar) mulai digelar dua pekan lalu, panitia pun mengumumkan bahwa AS Terbuka kali ini baru pertama kalinya memakai permukaan tercanggih dalam teknologi sintetis Polymer, yakni 'Laykold' hard court.

Peluk Mimpi Ferrero

Reaksi pertama setelah menang? Alcaraz pun tak pedulikan aturan. Ia langsung memanjat pagar tribun, untuk memeluk pelatihnya Juan Carlos Ferrero. Ferrero adalah mantan petenis nomor satu dunia yang melatih Carlos Alcaraz sejak tiga tahun terakhir.

Alcaraz ibarat memeluk mimpi pelatihnya, yang memang ingin menjadikan petenis kelahiran El Palmar, Murcia Spanyol (5 Mei 2003) ini nomor satu seperti diri Ferrero. Ferrero menjadi petenis nomor satu dunia, ketika Alacaraz baru lahir. Ferrero menjuarai Perancis Terbuka di Rolland Garros pada 2003, dan menjadi petenis nomor satu dunia pada usia 24 tahun.

Tidak hanya diserahkan padanya Trofi Juara oleh petenis legendaris 70-an John McEnroe. Carlos Alcaraz juga diberi cek di depan ribuan penonton di Flushing Meadows, New York, cek sebesar AS $ 688.000 atau Rp 10 milyar lebih dari prestasinya juara AS Terbuka kali ini...

"Dia sepertinya memang dilahirkan untuk memainkan pertandingan seperti ini," kata pelatih Ferrero, tentang permainan anak ajaib Alcaraz, yang dalam tiga pertandingan menuju ke final selalu bermain lima set penuh. Tak hanya Ferrero memujinya. Bahkan lawannya, Casper Ruud (23) pun mengakui. Alcaraz, kata Ferrero menurut Associated Press, merupakan pemain yang memiliki bakat langka. Bisa bermain "all court".

Maksud Ruud, Alcaraz mampu bermain hebat di segala lapangan, baik itu di lapangan keras AS Terbuka, tanah liat di Rolland Garros, maupun rumput seperti Wimbledon. "Semangat juangnya luar biasa untuk mencapai keinginan menang," kata petenis lawan finalnya, Casper Ruud. Dan sepanjang empat set, Alcaraz melayangkan 14 kali ace (servis tak tertepis) di bidang lapangan Casper Ruud dengan kecepatan rata-rata menurut catatan statistik pertandingan, 128 mph atau 206 km perjam!

Dan Carlos Alcaraz "tidak mendadak dangdut". Atau muncul kebetulan. Coba lihat penampilannya sebelum AS Terbuka. Ia menjuarai Madrid Open, turnamen di kandang sendiri dengan menundukkan pemain top dunia, Rafael Nadal dan Novac Djokovic. Padahal, Alcaraz waktu itu hanya unggulan ke-7. Dan tidak hanya itu. Alcaraz sebelum ini juga menjuarai turnamen Master 1000 di Miami mengalahkan Casper Ruud di final.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Olahraga Selengkapnya
Lihat Olahraga Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan