Mohon tunggu...
Jimmy S Harianto
Jimmy S Harianto Mohon Tunggu... Jurnalis - Mantan Redaktur Olahraga Harian Kompas

Wartawan Jadoel Tinggal di Jakarta. Pekerja Berpengalaman pada Tim Digitalisasi Foto Kompas, mantan Redaktur Olahraga Harian Kompas.

Selanjutnya

Tutup

Bulutangkis Artikel Utama

Martabat Ksatria Greysia dan Apriyani

4 Agustus 2021   11:59 Diperbarui: 4 Agustus 2021   13:02 855 15 2 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Martabat Ksatria Greysia dan Apriyani
Greysia Polii (kiri) dan Apriyani Rahayu mempersembahkan medali emas Olimpiade Tokyo 2020. (AFP/ALEXANDER NEMENOV via Kompas.com)

Sembilan pukulan terakhir itu memang menjadi pemicu keharuan nasional Indonesia. Semua sesenggukan. Mata berkaca-kaca. Tiba-tiba ada perasaan emosional yang sulit terbayangkan menggelegak dalam dada. Indonesia! Ada di antara kita menangis. Memekik. Bersorak. Dan air mata pun leleh...

Drama sembilan pukulan terakhir itu memang memicu air mata. Pukulan servis terakhir Jia Yifan pendek ke arah Apriyani Rahayu. Apri angkat lob. Chen Qingchen smes. Apriyani kembalikan dengan pukulan drive mendatar ke arah Chen Qingchen. Chen lob lagi ke arah bidang belakang sisi Apriyani. Smes Apriyani kali ini menyilang. Dikembalikan backhand oleh si kidal Jia Yifan, menyilang. Dicegat Greysia Polii di depan net. Smes! Tak bisa dikembalikan sempurna menyilang oleh Jia Yifan. Bola pun ke luar lapangan. Hakim garis yang duduk di belakang Apriyani merentangkan kedua tangan, pertanda: out!

Apriyani langsung menggeletakkan punggung ke karpet pertandingan. Ungkapan haru kemenangan. Sementara Greysia memekik, berjingkrak, menari ke kiri, ke kanan lapangan. Apakah semua itu lalu selesai? Ternyata masih belum.

Jia Yifan serta merta angkat tangan kanan. Tanda "challenge". Minta wasit untuk memutar pengadil video -- VAR, video assistant referee. Pengadil komputer pun memutar tayangan pukulan terakhir Jia Yifan. Apakah in atau out? Dan ternyata layar komputer membenarkan. Out!

Pekik kemenangan kembali dilampiaskan Greysia Polii dengan memeluk Apriyani (23). Pelampiasan tulus Greysia pada pasangannya. Pasangan terakhir, dari lima pasangan tetap Greysia (33) di lapangan dalam setidaknya 17 tahun terakhir. Thanks, Apri.

Pelukan demi pelukan kembali dilampiaskan Greysia pada Apriyani, yang di lapangan memang sering memaksa lawan untuk mengembalikan pukulan dengan tidak sempurna. Giliran Greysia menghabisi dengan sabetan mematikan, smes. Sebuah kerjasama manis.

Sportivitas

Drama sembilan pukulan terakhir di lapangan pertandingan Musashino Forest Park Tokyo hari Senin (2/8) itu memang memicu keharuan nasional. Mata jadi berkaca-kaca. Tumpah semua keharuan bahagia dalam air mata menggenang.

Greysia Polii dan Apriyani Rahayu menggelorakan semangat: Indonesia! Yang sudah lama tercabik-cabik oleh ulah culas, ulah plintir, niat politik miring, korupsi, umpatan dan saling caci. Bangsa terbelah. Rasa kebangsaan teriris. Nasionalisme sudah disampahkan.

Medali emas olimpiade yang diraih Greysia Polii/Apriyani Rahayu itu tiba-tiba menyulap kesedihan akibat pandemi yang menghujam rakyat Indonesia, menjadi kegembiraan menggelegak. 

Kita semua tiba-tiba diingatkan akan sportivitas. Sebuah semangat akan harkat martabat ksatria yang sudah lama terkubur. Diangkat kembali melalui kemenangan Greysia dan Apriyani.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN