Mohon tunggu...
Jimmy S Harianto
Jimmy S Harianto Mohon Tunggu... Mantan Redaktur Olahraga Harian Kompas

Wartawan Jadoel Tinggal di Jakarta. Pekerja Berpengalaman pada Tim Digitalisasi Foto Kompas, mantan Redaktur Olahraga Harian Kompas.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Kisah Keris Jenderal Sudirman

20 September 2020   05:10 Diperbarui: 22 September 2020   21:05 4322 26 4 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Kisah Keris Jenderal Sudirman
Dok. Arsip Nasional RI via KOMPAS.com

Dibesarkan di lingkungan Muhammadiyah di Cilacap dan pernah menjadi pengurus Hizbul Wathan dan Pemuda Muhammadiyah, namun Sudirman yang biasa dipanggil "Kiaine" (kyai-ne, sang kiai) karena alimnya ini, juga penganut paham kejawen.

Dalam kesehariannya, setelah diangkat sebagai Panglima Besar (1947), Sudirman yang kelahiran Purbalingga Banyumas itu bahkan selalu mengenakan atribut keris terselip di pinggang bagian depannya saat memimpin pasukan.

Kisah keris Sudirman yang menarik, diungkapkan dalam buku "Perjalanan Bersahaja Jenderal Sudirman" oleh Soekanto dan juga dalam laporan khusus yang ditulis Tempo pada 12 November 2012 silam. Kisah keris sang Jendral ini terjadi pada tahun 1949.

Suatu hari awal Januari 1949, desing pesawat membangunkan penduduk-penduduk desa Bajulan, Nganjuk, Jawa Tengah. Warga yang tengah berada di sawah, di halaman dan di jalanan desa pada panik, masuk ke rumah atau bersembunyi di sebalik pepohonan.

Warga Nganjuk tahu, itu pesawat Belanda yang tengah mencari para gerilyawan sembari memuntahkan bom, mortir dan peluru.

Tak terkecuali Jirah, seorang perempuan desa berusia 16 tahun warga desa Bajulan. Ia gemetar di dapur, membayangkan gubuknya dihujani peluru. Di rumahnya ada sembilan laki-laki tamu ayah angkatnya, Pak Kedah, yang ia layani makan dan minum di rumah tersebut.

Meski mengaku tak paham siapa orang-orang lelaki tersebut, namun Jirah menduga mereka adalah orang-orang yang dicari tentara Belanda.

Sewaktu pesawat terdengar mendekat, Jirah melihat seorang yang biasa dipanggil "Kiaine" memakai beskap (baju tradisional Jawa) yang duduk di depan pintu dikelilingi delapan temannya, mengeluarkan keris dari pinggangnya.

"Saya hanya mengintip dari dapur dan menguping apa yang terjadi," kata Jirah, dalam wawancara dengan Tempo September 2012 itu.

Kiane itu menaruh keris di depannya. Tangannya merapat, mulutnya komat-kamit merapal doa. Ajaib, tutur Jirah, keris itu berdiri dengan ujung lancipnya menghadap ke langit-langit rumah.

Suara pesawat kian mendekat, dan doa lelaki-lelaki itu makin terdengar nyaring. Keris itu perlahan miring, lalu jatuh ketika bunyi pesawat menjauh. Kiaine menyarungkan keris itu lagi dan para pendoa pun mundur dari ruang tamu.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN