Mohon tunggu...
Jimmy Banunaek
Jimmy Banunaek Mohon Tunggu... Menulislah sebelum engkau mati

Penulis pemula yang mau terus belajar menulis

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Artikel Utama

Kurikulum Sudah 2013 tapi Gaya Mengajar Guru Tidak Berubah

11 Juni 2019   20:40 Diperbarui: 12 Juni 2019   01:16 0 9 6 Mohon Tunggu...
Kurikulum Sudah 2013 tapi Gaya Mengajar Guru Tidak Berubah
gambar oleh Gary Aldman dari Pixabay

Penerapan kurikulum 2013 sudah berjalan sejak tahun 2013, kemudian jeda sebentar karena perlu revisi kemudian dilanjutkan kembali hingga saat ini. Karena kurikulum itu bersifat dinamis sehingga dilakukan perubahan dan pengembangan, agar mengikuti perkembangan dan tantangan zaman.

Kegiatan pendidikan dan pelatihan juga terus dilakukan kepada guru-guru sasaran, kepala sekolah dan pengawas dengan harapan kurkulum ini benar-benar diterapkan oleh semua sekolah negeri maupun swasta yang bersinergi dengan pemerintah.

Kurikulum 2013 digadang-gadang sebagai kurikulum yang cocok dengan situasi Indonesia saat ini, di mana terjadi degradasi moral anak bangsa yang begitu masif karena dirundung berbagai informasi dan teknologi yang begitu cepat.

Pendidikan karakter anak lebih diutamakan dalam kurikulum ini, sebagai tameng untuk membekali peserta didik dari berbagai arus informasi negatif, kejahatan seks bebas, miras, peyalahgunaan narkoba, bullying, vandalisme, tawuran dan kejahatan lainnya yang identik dengan pergaulan anak didik saat ini.

Dalam kurikulum ini juga dikenal dengan berbagai model pembelajaran, berbagai pendekatan dan metode pembelajaran yang disusun sangat rapi dan menarik dalam buku siswa dan buku guru, sehingga memudahkan guru untuk mengajar.

Jadi sangat menyakinkan bahwa kurikulum 2013 merupakan kurikulum yang sangat potensial untuk menjawab tantangan dunia pendidikan saat ini.

Karena begitu pentingnya kurikulum ini membuat pemerintah serius untuk menjalankan program ini walaupun mereka sadar betul bahwa kurikulum ini juga memiliki kelemahan. 

Kelemahan-kelemahan itu bisa dilihat dari sarana pendukung (buku sumber, buku penunjang, alat peraga dll), kemampuan peserta didik, kemampuan ekonomi orang tua, peran orang tua, hubungan satuan pendidikan dan stekholder, dan tidak kalah penting adalah kualitas guru itu sendiri.

Banyak guru yang menyerah karena ketidakmampuan untuk menerapkan berbagai pendekatan dan model pembelajaran yang ditawarkan oleh kurikulum ini. Sehingga metode yang terus bertahan dari kurikulum tahun 1947 sampai sekarang adalah metode ceramah dan catat buku atau kadang divariasi sedikit dengan metode diskusi. 

Model seperti ini lebih menekankan guru sebagai pusat dari kegiatan pengajaran, guru menjadi dominan dan siswa dianggap sebagai gelas kosong yang harus selalu diisi air. Menurut Paulo Freira (penganut sosialisme dari Brasilia) salah satu pioner paham rekonstruksionisme sosial mengatakan bahwa pengajaran model seperti ini merupakan pengajaran gaya bank atau model deposito.

Guru sebagai deposan selalu mendepositokan pengetahuan kepada siswa, sementara siswa pasif dan reseptif. Pembelajaran berlangsung tanpa ada demokratisasi dan memasung kreatifitas siswa. Pengajaran gaya komando ini masih beratahan sampai saat ini Padahal model ini sudah tidak efektif untuk digunakan dalam kurikulum ini karena memasung kreatifitas dari siswa sendiri.

Ada yang berpendapat bahwa kurikulum yang sebenarnya adalah guru itu sendiri. Hal ini benar karena guru adalah satu-satunya orang yang memiliki legitimasi untuk melakukan kegiatan pembelajaran. Mampu menerjemahkan, mengkoloborasi berbagai kreatifitas yang didapat dari membaca, menulis atau berbagai pengalaman untuk dituangkan dalam pikiran dan tindakan.

Namun keyataan yang ada bahwa tidak semua yang berdiri di depan kelas adalah guru tetapi hanya pengajar karena guru adalah sebuah profesi atau pekerjaan profesional yang bukan berarti dalam pengertian yang sempit adalah mengajar atau mentransfer pengetahuan (transfer of knowledge) tapi lebih dari itu harus dapat menciptakan suasana belajar yang aktif, inovatif, kreatif, efektif dan menyenangkan.

Guru bukan seorang buruh atau pekerja lepas harian yang tujuannya mendapatkan upah sehingga banyak guru yang terjerumus pada sifat materialisme sesat tanpa mempedulikan sebuah tanggung jawab moral sebagai penyambung lidah pendidikan generasi bangsa ini. Sehingga lebih tepat sebagai pengajar dan bukan guru.

Kurikulum 2013 ibarat gadis berusia belia yang memiliki keunikan tersendiri, sehingga dibutuhkan guru-guru yang kritis, kreatif, suka membaca, rajin menulis, memiliki rasa ingint tahu yang tinggi untuk terus belajar menemukan jawaban yang ditawarkan olehnya.

Rasa ingin tahu yang tinggi inilah yang akan membuat guru mampu beradaptasi dengan berbagai pendekatan, model-model pembelajaran yang ditawarkan. Berlatih secara terus menerus dan mencoba hal baru yang didapat dalam kurikulum ini akan membuat guru semakin menguasai semua pendekatan yang ditawarkaan dalam kurikulum ini dengan mudah. Maka, hasil yang didapatkan juga akan sangat positif. 

"Guru yang malas belajar sebaiknya berhenti mengajar". Peryataan ini memang sangat serius disikapi karena perkembangan dunia pendidikan yang sangat pesat sangat dibutuhkan guru-guru yang memiliki semangat belajar yang tinggi, kreatif, inovatif, melek IT dsb. Kurikulum 2013 adalah sebuah tantangan bagi guru sekolah dasar untuk menuju arah perubahan pendidikan di Indonesia.

Menurut pengamatan penulis dari hasil diskusi guru-guru pelaksana kurikulum 2013 tingkat Sekolah Dasar, realita yang terjadi belum efektif kurikulum 2013 dijalankan di tingkat sekolah dasar.

Banyak guru-guru yang cenderung kembali ke KTSP karena dirasa lebih mudah untuk menerapkannya. Atau para guru banyak bertahan dengan model pengajaran gaya komando.

Karena model pembelajaran seperti ini dirasa sangat santai, guru tidak terlalu mengeluarkan lebih banyak tenaga, pikiran dan waktu untuk mencoba model-model pembelajaran yang baru.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2